Jakarta, Nitikan.id —
Ketegangan politik nasional kian memuncak setelah video seorang pria yang diketahui bernama Arul, diduga pendukung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, viral lantaran mengolok-olok mantan Wakil Presiden RI, Jenderal (Purn) Try Sutrisno.
Video berdurasi kurang dari satu menit yang pertama kali diunggah akun @MasBRO_back di platform X itu memperlihatkan Arul dengan nada mengejek menyebut Try Sutrisno sebagai “Pak Tile”—istilah yang di beberapa daerah diasosiasikan dengan sosok tua yang tak berdaya. Tidak berhenti di situ, Arul bahkan dengan lantang menyatakan keinginannya untuk “mencabut gigi” Try Sutrisno, yang semakin menyulut emosi publik.
Sejak video tersebut beredar, kecaman demi kecaman membanjiri media sosial. Banyak warganet menilai tindakan itu sebagai penghinaan terhadap simbol nasional dan pribadi yang dihormati oleh banyak kalangan, khususnya keluarga besar TNI dan masyarakat luas.
“Try Sutrisno itu pahlawan bangsa, mantan Panglima ABRI, bukan orang biasa. Ini penghinaan terhadap sejarah bangsa!” tulis akun @merahputihku di X.
“Yang menghina beliau, sadar nggak kalau anak-anak beliau itu masih aktif di TNI dan Polri? Keterlaluan!” tambah akun lain, @IndoWarrior.
Latar Belakang Ketegangan
Insiden ini tidak muncul di ruang hampa. Sebelumnya, tepatnya pada 23 April 2025, Jenderal (Purn) Try Sutrisno bersama ratusan purnawirawan TNI dan Polri secara terbuka menyerukan desakan agar Gibran Rakabuming Raka mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden RI.
Dalam sebuah dokumen yang beredar luas di media sosial, Try Sutrisno disebut-sebut telah memberikan restu terhadap rencana pemakzulan Gibran. Beberapa nama besar dalam tubuh purnawirawan TNI ikut tercantum dalam dokumen tersebut, menunjukkan adanya konsolidasi serius di kalangan para senior militer.
Desakan ini disebut berkaitan dengan ketidakpuasan terhadap dinamika politik nasional pasca-Pemilu 2024, yang diwarnai berbagai kontroversi, termasuk terkait pencalonan Gibran yang dinilai bermasalah secara hukum dan etika demokrasi.
Sumber dari kalangan purnawirawan yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa keresahan tersebut sudah lama terakumulasi. “Ini bukan sekadar soal pribadi, ini soal menyelamatkan marwah bangsa dan negara,” ujar sumber tersebut.
Belum Ada Klarifikasi Resmi
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari kubu Gibran ataupun dari Arul, sosok dalam video viral tersebut. Publik menanti langkah tegas dari aparat, mengingat penghinaan terhadap mantan pejabat negara bisa dikategorikan sebagai pelanggaran hukum, bukan sekadar masalah etika.
Pakar hukum tata negara, Prof. Dr. Susianto Arif, SH., MH., mengatakan bahwa tindakan tersebut bisa masuk ke dalam delik penghinaan terhadap pejabat negara, meski harus dilihat konteks hukumnya lebih dalam.
“Kalau Try Sutrisno secara resmi mengadukan, proses hukum bisa berjalan. Ini menyangkut penghormatan terhadap institusi negara, bukan hanya pribadi,” kata Prof. Susianto kepada media.
Dampak terhadap Stabilitas Politik
Pengamat politik dari LIPI, Indra Wahyudi, menilai bahwa insiden ini memperparah polarisasi yang sudah tajam di masyarakat. “Tindakan-tindakan seperti ini, apalagi dilakukan oleh pendukung pejabat negara, menciptakan persepsi arogansi kekuasaan. Itu berbahaya untuk stabilitas nasional,” ujarnya.
Indra juga mengingatkan bahwa dalam situasi politik yang tengah memanas, setiap ucapan dan tindakan publik harus dijaga ketat. “Apalagi ini berkaitan dengan figur purnawirawan militer yang dihormati.”
Insiden olok-olok terhadap Jenderal (Purn) Try Sutrisno bukan hanya memantik kemarahan publik, tetapi juga membuka kembali luka lama ketidakpuasan terhadap elit politik nasional. Dengan tekanan terhadap Gibran yang semakin menguat dari kalangan purnawirawan, dan kemarahan rakyat yang meluas, situasi politik Indonesia dalam beberapa bulan ke depan diprediksi akan semakin dinamis dan tidak menentu.

