Jakarta, Nitikan.id — Anggota Komisi I DPR RI, Elita Budiarti, menyoroti serius lemahnya kemampuan deteksi bawah laut TNI Angkatan Laut (TNI AL) dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/4/2025).
Dalam rapat tersebut, Elita mengungkapkan kekhawatirannya terkait belum adanya alat deteksi kapal selam asing yang dimiliki Indonesia. Ia menyatakan ketakutannya atas potensi ancaman terhadap kedaulatan maritim nasional.
“Jujur saya takut,” kata Elita dengan tegas. Ia menilai kondisi ini memperlihatkan lemahnya pertahanan negara, khususnya di sektor laut yang memiliki wilayah sangat luas dan strategis.
Menanggapi hal tersebut, KSAL Muhammad Ali membenarkan bahwa hingga saat ini TNI AL memang belum memiliki sistem pendeteksi kapal selam asing. Menurutnya, pengawasan bawah laut Indonesia masih 0 persen.
“Memang saat ini kita belum punya fixed detect sonar. Kita sudah mengajukan pengadaan ke Kementerian Pertahanan,” kata Ali.
Ali menjelaskan bahwa TNI AL saat ini mengandalkan Sistem Pusat Komando Angkatan Laut (Sispuskodal) Tahap I, namun sistem tersebut lebih berfokus pada pengawasan permukaan laut dan belum dapat mendeteksi aktivitas bawah air secara efektif.
“Untuk kemampuan pusat komando dan kendali terpadu sudah 80 persen, analitik berbasis kecerdasan buatan 50 persen, dan sistem pendukung 80 persen. Tetapi pengawasan bawah laut, khusus deteksi kapal selam, masih kosong,” ungkapnya.
Selain masalah alat deteksi, KSAL juga membeberkan kendala lain yang dihadapi TNI AL, yakni tunggakan pembayaran bahan bakar minyak (BBM) kepada PT Pertamina yang mencapai triliunan rupiah. Tunggakan ini disebut berdampak pada kelancaran operasional kapal-kapal perang TNI AL.
Ia berharap ada kebijakan untuk “pemutihan” tunggakan tersebut serta pengalihan harga BBM menjadi subsidi, dengan pengelolaan diserahkan ke Kementerian Pertahanan agar operasional bisa lebih optimal.
Di sisi lain, para ahli pertahanan maritim menekankan pentingnya Indonesia segera memiliki sistem deteksi bawah air. Mereka menilai, sebagai negara kepulauan dengan jalur pelayaran tersibuk di dunia seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Natuna Utara, Indonesia wajib memiliki kemampuan mendeteksi aktivitas kapal selam asing untuk menjaga kedaulatan wilayahnya.
Sistem deteksi bawah air seperti fixed sonar dan hydrophone dinilai mampu mendeteksi “acoustic signature” kapal selam yang melintas, dan sangat penting untuk memperkuat pertahanan negara dari ancaman tersembunyi.
Dengan ketidaklengkapan sistem pertahanan saat ini, suara seperti yang disuarakan Elita Budiarti menjadi pengingat penting bahwa keamanan maritim Indonesia harus segera mendapatkan perhatian serius.

