Nitikan.id. – Alkisah, seorang tukang pos mengetuk pintu sebuah rumah sambil berkata, “Surat.”
Suara seperti anak kecil menyahut dari dalam, “Iya, aku segera datang.” Tapi, orang yang menyahut itu tidak datang setelah beberapa menit berlalu. Akhirnya tukang pos meninggalkan surat di bawah pintu.
Setelah beberapa hari tukang pos datang lagi mengirim surat ke rumah gadis kecil itu. Tukang pos mengetuk pintu sambil berkata, “Surat.”
Seperti biasa gadis di dalam rumah menyahut, “Iya Pak pos, tinggalkan saja surat itu dibawah pintu.”
Tukang pos mulai agak kesal berteriak lagi, “Hei, tolong cepat datang dan ambil surat itu.”
Gadis kecil itu berkata lagi, “Pak pos, taruh surat itu di bawah pintu, nanti aku ambil “
Tukang pos berkata, “Ini adalah surat terdaftar, jadi anda harus menandatanganinya. Cepatlah. Masih banyak surat yang harus aku kirim.”
Beberapa menit kemudian ketika pintu dibuka , tukang pos yang kesal dengan keterlambatan itu sudah bersiap memasang muka ketus kepada orang yang membuka pintu. Tapi, apa yang dilihatnya mengejutkan dan membuatnya tak bisa berkata-kata.
Seorang gadis kecil tanpa kaki berlutut di depannya untuk mengambil surat itu.
Setelah kejadian itu, setiap tukang pos itu mengirimkan surat, dia menunggu sampai pintu dibuka setiap kali dia harus mengantarkan surat ke rumah gadis itu.
Gadis itu dengan cepat mendekat dan mengambil surat. Dia memperhatikan bahwa tukang pos selalu bertelanjang kaki. Jadi, suatu ketika tukang pos datang untuk mengantar kiriman, gadis itu diam-diam mengukur ukuran kaki tukang pos dari jejak kaki di lantai.
Tepat sebelum hari raya, ketika tukang pos datang untuk mengantarkan surat, gadis itu mengatakan kepadanya, “Pak pos, ini ada kado hadiah dari saya untuk anda di hari raya ini. Terimakasih sudah mengerti dan bersabar menghadapi saya. Tolong jangan ditolak nanti saya sedih.”
Dengan mata berkaca, tukang pos berkata, “Kamu seperti anak perempuanku, bagaimana saya bisa mengambil hadiah darimu?” Karena gadis itu bersikeras, tukang pos membawanya pulang dan membuka bungkusan kado itu.
Matanya dipenuhi air mata ketika dia memmbuka kado dan melihat sepasang sepatu karena selama pelayanannya tidak ada yang menyadari bahwa dia bertelanjang kaki.
Keesokan harinya tukang pos itu tiba di kantor posnya dan memohon kepada Kepala kantor pos agar segera dipindahkan tugasnya ke daerah lain.
Ketika Kepala pos menanyakan alasannya, tukang pos itu menceritakan semuanya, dengan mata basah, “Tuan, setelah hari ini saya tidak kuasa mengirim surat ke rumah itu lagi. Gadis kecil itu selalu melihat saya bertelanjang kaki dan dia memberi aku hadiah sepatu, tapi aku tidak bisa membalasnya dengan memberikan kaki untuknya.”
Memahami sakit orang lain dan memahami penderitaan mereka, adalah kualitas manusia yang tanpanya manusia tidak lengkap. Kita harus bersyukur kepada Tuhan atas kepekaan yang dianugerahkan kepada kita sehingga kita dapat membantu mengurangi penderitaan orang lain.

