Nitikan.id – Pohon timoho (Kleinhovia hospita L.) adalah pohon dengan cukup banyak kegunaan. Pohon ini dikenal dengan aneka nama daerah seperti katimahar, kinar (Ambarawa); tangkèlè, tangkolo (Sunda); katimåhå, timåhå, katimångå, timångå, kayu tahun (Jawa); mangar (Lampung); mangar (Madura); nundang (Sumba); bintangar, bintanga, bintang, bitangal, bintana, wintangar (aneka bahasa di Sulut); ngĕdèdo, ngĕdèdoro, dèdoro, ngaru (Maluku); kayu paliasa, kauwasa (Makasar); aju pali, wèu (Bugis); Sementara dalam bahasa Inggris ia dinamakan guest tree. (Sumber: worldagroforestry)
Tumbuhan yang masuk ke dalam famili Sterculiaceae ini mempunyai batang berwarna abu-abu dan mempunyai akar tunjang berbentuk akar papan.
Batangnya berbonggol-bonggol dan dipenuhi cabang-cabang tebal. Kayunya berwarna pucat kekuningan dengan urat-urat hitam tetapi tidak merata pada seluruh batang. Daun tunggal berseling berbentuk bulat telur sampai berbentuk jantung.
Perbungaan malai terminal dengan lebar bunga ±5 mm berwarna merah jambu. Daun kelopak memita melanset dan daun mahkota berwarna kuning. Buah berbentuk kapsul berselaput membulat dan merekah pada rongganya. Masing-masing rongga berisi biji 1-2 buah berwarna keputihan dan berkutil.
Pohon ini mempunyai banyak manfaat dalam dunia kesehatan. Daun dan kulit kayu mengandung senyawa cyanogenic yang mampu membunuh ektoparasit seperti kutu Rebusan daun timoho bermanfaat untuk mengobati beberapa penyakit antara lain penyakit hati, penyakit kuning dan hepatitis.
Menurut hasil penelitian Departemen Kesehatan oleh Raflizar dkk, ekstrak daun paliasa berkhasiat untuk pengobatan radang hati pada dosis 250, 500, 750 dan 1000 mg/kgbb. Pada penelitian tersebut juga diketahui bahwa daun timoho mengandung saponin, cardenoin, bufadienol dan antrakinon.
Kayu timoho juga banyak dimanfaatkan untuk keperluan magis khususnya tosan aji. Kayu yang mempunyai corak/pelet unik dipakai untuk gagang dan sarung keris.
Menurut keterangan sangat sulit untuk mendapatkan kayu timoho yang berpelet, sehingga kayu tersebut harganya cukup mahal. Para pencari kayu pelet harus menakik pohon-pohon timoho untuk mendapatkan kayu yang berurat.
Pemanfaatan lainnya dari kayu timoho adalah sebagai kayu bakar yang mempunyai nilai energi 19000 kJ/kg. Daun yang masih muda juga dapat dimakan sebagai sayuran. Ekstrak daun timoho juga diketahui sebagai pencuci mata. Cabang-cabang yang membelit/melintir sering digunakan sebagai hiasan untuk gagang pisau.
Pohon yang dijadikan nama jalan di Kota Yogyakarta ini merupakan pohon yang memiliki fungsi ekologis sebagai pohon pionir yang dapat membantu kesuburan tanah.

Walaupun tidak seharum cendana wangi, tetapi tetap punya auranya tersendiri. Meskipun tidak semewah gading gajah, tapi jelas wibawa dan perkasanya. Dan memang tak seelok nginden trembalu terbaik, tapi tetap punya daya pikatnya tersendiri.
Corak peletnya yang menghitam legam adalah bukti nyata ketabahan dan kesabaran dalam menerima segala penderitaan duniawi selama berpuluh-puluh tahun. Walaupun penuh luka dan derita, tetapi mampu tetap tumbuh dengan gagah perkasa dan penuh wibawa. Itulah kesejatian Pohon Kayu Timoho. Itulah kenapa Kayu Timoho selalu istimewa sepanjang masa.

