Jika Anda mencari kesopanan berlapis-lapis dengan tata bahasa yang disetrika rapi, jangan datang ke Pantura. Di sepanjang garis pantai dari Banten, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah bagian ngapak, udaranya asin dan bicaranya langsung ke pokok perkara. Orang pesisir tidak akrab dengan basa-basi. Mereka hidup terlalu dekat dengan laut untuk berpura-pura. Ombak tidak pernah minta maaf sebelum menghantam, dan orang Pantura belajar hidup dari situ: keras, jujur, dan ceplas-ceplos.
Kalau suka, ya bilang suka. Kalau benci, ya keluar makiannya. Bukan karena mereka tidak beradab, tapi karena hidup di pesisir tidak memberi ruang untuk kepalsuan. Terlalu banyak hal yang bergantung pada cuaca, angin, dan nasib. Dalam kondisi seperti itu, kejujuran bukan pilihan moral, tapi alat bertahan hidup.
Watak “apa adanya” inilah yang melahirkan Tarling. Musik yang lahir bukan dari ruang konser atau akademi seni, tapi dari keterbatasan. Ketika seperangkat gamelan terlalu mahal dan tak terjangkau, orang pesisir memutar otak. Mereka mengambil gitar, alat musik warisan kolonial lalu memaksanya tunduk pada rasa lokal. Dipetik dengan cengkok daerah, dipasangi suling dan lahirlah Tarling: gitar yang sudah tidak lagi patuh pada Barat, tapi tunduk pada kegelisahan wong pesisir.
Ini penting dicatat. Tarling bukan sekadar genre musik, tapi sikap hidup. Ia adalah bukti bahwa orang Pantura adaptif tanpa kehilangan jati diri. Mereka tidak menunggu legitimasi dari pusat kebudayaan. Mereka menciptakan dunianya sendiri, dengan logika sendiri, untuk kebutuhan sendiri: menumpahkan penat setelah seharian dihantam matahari dan angin laut.
Maka jangan heran jika tema Tarling sering dianggap “nakal”. Lagu seperti Remang-Remang tidak lahir dari imajinasi romantik kelas menengah kota. Ia lahir dari realitas. Dari warung di pinggir jalan, dari lampu kuning yang redup, dari janji-janji yang mudah diucapkan tapi sulit ditepati. Liriknya tidak berputar-putar memakai metafora langit ketujuh atau bidadari. Ia bicara soal hidup apa adanya terkadang gelap, sering melelahkan, dan jarang ideal.
Di sinilah banyak orang salah paham. Moralitas kelas menengah sering kali ingin segalanya bersih di permukaan, tapi lupa bahwa hidup rakyat kecil jarang punya kemewahan itu. Tarling tidak mengajak orang menjadi bejat; ia hanya jujur menggambarkan dunia yang memang sudah ada. Ia tidak menghakimi, tidak menggurui, hanya bercerita.
Lalu, apa hubungannya semua ini dengan Gus Dur?
Gus Dur, meski lahir dari darah biru pesantren dan lingkaran elite intelektual, jiwanya adalah jiwa pesisir. Ia tidak alergi pada kekacauan hidup. Ia tidak takut menyentuh sisi gelap manusia. Bagi Gus Dur, kemanusiaan tidak diukur dari seberapa rapi tampilan luar, tapi seberapa jujur seseorang menghadapi hidupnya.
Gus Dur adalah manusia paling egaliter yang pernah dimiliki republik ini. Ia bisa tertawa bersama tukang becak, mendengarkan keluh kesah nelayan, dan duduk santai dengan mereka yang sering dipinggirkan oleh moral resmi. Beliau tidak pernah merasa “najis” mendengar rintihan dari tempat-tempat yang oleh masyarakat sok suci dianggap kotor.
Ketika Gus Dur menyukai lagu Diana Sastra, banyak orang salah kaprah. Mereka mengira Gus Dur sedang merayakan dunia remang-remang. Padahal yang ia dengarkan bukan sensualitasnya, melainkan kejujurannya. Gus Dur paham bahwa di balik lirik yang dianggap “liar”, ada kegelisahan hidup yang tidak pernah mendapat tempat di mimbar-mimbar resmi.
Bagi Gus Dur, Tuhan tidak hanya hadir di ruang ibadah yang wangi karpetnya. Tuhan juga hadir dalam tawa lelah buruh pelabuhan, dalam umpatan nelayan yang kalah oleh cuaca, dan dalam lagu Tarling yang diputar keras-keras di warung pinggir jalan. Ia tidak butuh kepura-puraan moral yang sering kali justru menutupi kebusukan yang lebih besar.
Mendengarkan Tarling, bagi Gus Dur, adalah bentuk penghormatan terhadap kemanusiaan yang paling dasar. Ia merangkul mereka yang sering disuruh diam, disuruh sopan, disuruh rapi padahal hidup mereka jauh dari kata rapi. Gus Dur tahu, kejujuran yang kasar jauh lebih bermartabat daripada kesantunan yang palsu.
Karena itu, Tarling dan Gus Dur adalah perpaduan yang masuk akal. Yang satu adalah suara rakyat pesisir yang bicara tanpa sensor, dan yang satu adalah pemimpin yang telinganya selalu terbuka, bahkan untuk suara yang dianggap mengganggu. Keduanya sama-sama menertawakan dunia yang terlalu serius menjaga citra tapi lupa pada manusia.
Di tangan orang Pantura dan di hati Gus Dur, hidup yang berat tidak perlu diratapi dengan air mata mahal. Cukup petik gitar, tiup suling, dan biarkan lirik “nakal” itu mengalir. Sebab terkadang, tertawa adalah bentuk paling jujur dari perlawanan.
Dan ketika Gus Dur berkata, “Gitu aja kok repot!” sesungguhnya itu bukan sekadar guyonan. Itu adalah filosofi hidup yang sangat Pantura: singkat, padat, menohok, dan tidak bertele-tele. Sebuah ajakan untuk berhenti berpura-pura suci, dan mulai jujur sebagai manusia.
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

