Nitikan.id – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial-politik Indonesia, ketika orang-orang berebut menguasai ruang wacana dengan nada tegang, cemas dan grusa-grusu, ada satu figur yang keberadaannya seakan menjadi oase: KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Kiai sepuh dari Rembang ini telah lama dikenal sebagai sosok yang tidak hanya bijak dalam kata-kata tetapi juga teduh dalam laku hidup. Sementara banyak kiai seusianya bahkan di bawah usianya sudah mulai menurun secara fisik, Gus Mus yang kini berusia lebih dari delapan puluh tahun masih berjalan cepat, tegap, tanpa keluhan dan tanpa menunjukkan tanda-tanda “terlalu sepuh” sebagaimana orang seusianya.
Suatu pagi di Rembang, sambil berjalan kaki menempuh hampir satu kilometer dari rumah menuju alun-alun kota, Gus Mus meladeni obrolan santai. Ketika dipuji karena jalannya masih tegap, beliau hanya tertawa kecil: “Soalnya mereka itu terlalu serius jadi kiai.” Jawaban yang tampak seloroh tetapi sebenarnya mengandung filsafat hidup.
Santai bukan berarti tidak peduli. Tegas tapi tidak meledak-ledak.Tenang tanpa kehilangan keberpihakan moral. Barangkali kombinasi inilah yang membuat Gus Mus tetap sehat, tetap terang batin dan tetap mampu memandang hidup dengan mata yang jernih.
Santai dalam Ribut-Ribut NU
Ketika seorang kiai besar seperti KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sowan dan melaporkan berbagai ontran-ontran yang tengah mengguncang PBNU, respons Gus Mus bukanlah kecemasan, bukan pula amarah. Beliau hanya berkata:
“Sampeyan kan sudah lama di NU, masak ndak tahu. Di NU ribut-ribut itu biasa. Namanya orang banyak, kepentingannya juga banyak.”
Kemudian yang paling menenangkan:
“NU itu milik Gusti Allah, sudah ada yang ngurus.”
Pernyataan itu tidak sekadar candaan, itu adalah hasil dari kedalaman pengalaman Gus Mus yang sejak muda mengabdikan dirinya di Nahdlatul Ulama. Beliau paham arus besar organisasi massa religius terbesar di Indonesia itu: kadang tenang, kadang keruh tapi selalu kembali pada kejernihan karena akar spiritualnya kuat.
Itu pula yang dikatakannya kepada Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, ketika melaporkan keributan dalam organisasi:
“Salahmu sendiri pengen jadi Ketua NU.” Sebuah canda tapi sekaligus ajaran tentang menerima konsekuensi, tentang legawa, tentang mengakui bahwa semua jabatan hanyalah amanah yang harus dijalani tanpa harus membuat hati ikut ribut.
Kenapa Gus Mus Bisa Setenang Itu?
Jawabannya tidak tunggal. Gus Mus bukan tokoh sederhana yang bisa dipetakan dengan satu sudut pandang tapi setidaknya ada beberapa hal yang membentuk ketenangan batin beliau.
Kedalaman Spiritual Tasawuf
Sejak muda, Gus Mus ditempa dalam tradisi pesantren yang kuat. Ia belajar tidak hanya fikih dan syariat, tetapi juga akhlak dan tasawuf. Tasawuf mengajarkannya untuk melihat segala sesuatu sebagai bagian dari skenario Tuhan maka kegaduhan politik NU bukanlah ancaman tetapi dinamika yang harus dilewati dengan batin lurus.
Tidak heran ia pernah berkata: “Yang penting itu hati. Kalau hatinya tenang, mata kita akan melihat dunia lebih jernih.”
Kesadaran Bahwa Segala Sesuatu Ada Takarannya
“Tak soal makan apa saja, asal tidak berlebihan, tahu batas,” ujar beliau suatu ketika.Ini bukan hanya soal makanan. Ini adalah prinsip hidup. Moderasi tidak ekstrem, tidak tergesa-gesa, tidak memaksakan kehendak. Itulah yang membuat tubuh beliau tetap sehat, pikiran tetap segar dan batin tidak mudah terseret kekacauan.
Tidak Terlalu Serius Menjadi Kiai
Pernyataan beliau bahwa banyak kiai sakit karena “terlalu serius jadi kiai” sesungguhnya adalah kritik halus. Menjadi kiai bukan berarti harus selalu menunjukkan wajah tegang atau merasa bertanggung jawab atas seluruh masalah umat. Sikap seperti itu justru membuat seseorang lupa bahwa manusia adalah makhluk terbatas. Menurut Gus Mus, seorang kiai pun harus bisa bercanda, berjalan santai, menikmati hidup dan menertawakan dirinya sendiri.Keseriusan yang berlebihan hanyalah peluru stres yang merusak tubuh dan jiwa.
Lakukan yang Kamu Bisa, Serahkan Sisanya pada Allah
Ini mungkin inti dari seluruh ketenangan Gus Mus. Beliau bekerja untuk NU, mengajar, menulis, membina umat tetapi tidak pernah mengklaim bahwa semuanya bergantung pada dirinya. NU bukan miliknya, umat bukan miliknya, jabatan bukan miliknya. Semuanya milik Allah.
Ketika seseorang menyadari hal itu, kegelisahan pun luruh.
Gus Mus: Keteladanan di Tengah Kekacauan
Dalam dunia yang serba cepat, serba gaduh, serba emosional, kehadiran Gus Mus adalah penyeimbang. Ia mengajarkan bahwa ketenangan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Dalam berbagai ribut-ribut politik, beliau menjadi contoh bahwa seorang pemimpin apalagi pemimpin agama tidak harus ikut terbawa arus kegaduhan.
Gaya kepemimpinannya dengan humor, kelonggaran hati, dan kecerdasan spiritual membuatnya dihormati tidak hanya oleh warga NU tetapi juga oleh banyak pihak yang melihatnya sebagai simbol kearifan.
Mungkin inilah alasan mengapa langkahnya masih tegap meski usia sudah senja: karena hatinya ringan. Tidak memikul beban yang bukan tanggungannya,tidak menumpuk kekhawatiran yang tidak perlu,tidak menyimpan ambisi berlebihan dan yang paling penting: menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
Belajar Tanang dari Seorang Kiai Sepuh
Di era ketika orang berlomba-lomba menjadi yang paling keras suaranya, paling marah statusnya, paling reaktif komentarnya, Gus Mus justru hadir sebagai penyejuk. Membuktikan bahwa ketenangan bukanlah sikap pasif tetapi bentuk paling matang dari kedewasaan spiritual.
Tanang dalam kekacauan bukan berarti tidak peduli. Itu berarti:
Ia telah belajar memercayai Allah, memercayai perjalanan waktu dan memercayai bahwa yang benar akan menemukan jalannya sendiri.
Dari ketenangan itulah, Gus Mus mengajarkan kepada kita bahwa hidup tidak perlu terlalu rumit. Jalani seperlunya, pikirkan secukupnya, tertawakan sisanya, dan serahkan semuanya kepada Sang Pemilik Hidup.
Karena pada akhirnya, seperti pesan hidup beliau:“Santai saja. Semua sudah ada yang ngurus.”

