Nitikan.id – Setiap peradaban besar lahir dari percakapan yang tak selesai. Socrates menyeduh filsafat sambil mengusik orang-orang di alun-alun Athena. Imam Syafi’i menyusun argumen sambil berdiri di antara dua mazhab besar. Dan di kampung kami, dua lelaki debat hebat saban sore di warung kopi bernama Ngopi Ngawadul.
Saya duduk tak jauh dari mereka. https://sims.strathmore.edu/ Kursi saya agak miring, sebab satu kakinya sudah sedikit aus. Ini penting, karena dalam diskusi apa pun, posisi duduk bisa menentukan arah ideologi. Miring ke kanan bisa bikin orang jadi konservatif, miring ke kiri sedikit lebih progresif. Saya, kebetulan, condong ke arah belakang supaya lebih enak selonjoran, dan view lebih luas.
Dua tokoh sore itu adalah Mas Dalimin, netizen pesbuk akut yang percaya sains adalah fardhu kifayah, dan Kang Jujun, lajang digital native yang percaya semua jawaban ada di google.
Topiknya?
Mana yang lebih penting dalam memahami manusia: otak atau hati?
Diskusi memanas seperti terik selepas zuhur. Otak, kata Mas Dalimin, adalah pusat logika, bahasa, dan manajemen emosi. Tanpanya, manusia adalah zombie kampus yang berkeliaran tanpa naskah. Tapi hati, kata Kang Jujun, adalah pusat rasa, intuisi, dan iman. Tanpanya, hidup adalah tabel Excel yang kehilangan warna.
Saya ternganga, dan satu hihang howeng hanas masuk mulut, hingga mulutku berkomat-kamit. Bukan berdoa. Bukan memaki. Bukan pula merapal ajian Waringin Sungsang atau pun ajian Serat Jiwa. Tapi, karena pisang goreng yang aku makan masih mengepulkan uap panas.
Gokil!!! Ini bukan debat biasa. Ini adalah gladi resik Cognitive Civil War.
Saya pernah membaca bahwa otak punya kebiasaan aneh bernama “confirmation bias“, yaitu kecenderungan menyukai data yang menyetujui prasangka kita. Debat sering jadi sirkus logika, bukan untuk menemukan kebenaran, tapi untuk menggugat dan membentengi harga diri. Sebab kalah argumen terasa seperti mendapat list “yang belum bayar kas kelas” di grup WA orang tua murid.
Pakar Sosiolog bilang “Kalian ini bukan sedang cari kebenaran. Kalian sedang mencari status!”
Debat, katanya, adalah upaya mempertahankan habitus. Siapa punya kosa kata lebih ribet, ia terlihat lebih intelek. Yang lain hanya bisa menyela dengan kata-kata universal seperti: “Itu sih tergantung konteks.”
Saya menyeruput kopi dan memikirkan makna “konteks” sambil menatap ponsel karena ada 1 chat muncul di notifikasi. Dari anakku “Papah. Kata bu guru besok suruh bawa ragi dan kedelai buat P4 praktek membuat tempe”.
Lalu tiba-tiba datang suara melengking yang membuat kursi rebahku nyaris terjerambab ke belakang. Seorang ibu paruh baya penjual donat yang sejak tadi diam, berdiri dari bangku yang didudukinya.
“Kalau cuma mau menang, mending main catur. Kalau mau paham, ya duduk sama-sama. Diem dulu, baru tanya.”
Saya tersentak kuadrat. Satu karena lengkingan penjual donat. Satu lagi karena suara ponsel. Satu notifikasi chat WA muncul lagi. Kedua bola mataku nyaris memberojol dari rongganya saat menatap chat WA dari istri tercinta, “Bebeb. Beas beak. Ulah hilap meser beas”.
***

