Oleh: Hgr Dinandaru Shobron*
Di Subang, dua peristiwa terjadi hampir bersamaan. Disatu tempat, ratusan hektare sawah di Legonkulon terancam gagal tanam karena air irigasi tidak mengalir. Sementara di tempat lain, panggung hiburan berdiri, musik dimainkan dan perayaan akhir tahun digelar dengan dana publik. Kedua hal ini mungkin tidak berhubungan secara langsung tetapi ketika dilihat bersamaan, keduanya menghadirkan pertanyaan moral yang sulit dihindari.
Petani hidup dari alam dan waktu, musim tanam tidak bisa menunggu lama. Jika air tidak datang, sawah tidak bisa diolah. Jika waktu terlewat, satu musim hilang. Bagi petani kecil, kehilangan satu musim tanam bukan hal sepele. Itu berarti tidak ada hasil panen, tidak ada penghasilan dan sering kali harus berutang untuk bertahan hidup. Dalam kondisi seperti ini, kekhawatiran petani bukanlah drama, melainkan kenyataan hidup.
Disinilah rasa ironi muncul, bukan karena musik atau hiburan itu salah tetapi karena di saat sebagian warga sedang cemas memikirkan hidupnya, negara justru terlihat sibuk merayakan sesuatu yang lain. Bagi petani, keadaan ini bisa terasa seperti ditinggalkan, meskipun mungkin tidak ada niat demikian.
Sering kali pemerintah beralasan bahwa anggaran hiburan dan anggaran pertanian berasal dari pos yang berbeda. Secara aturan, hal ini benar. Namun masyarakat tidak melihat kebijakan dari tabel anggaran. Mereka melihatnya dari tanda-tanda yang tampak: siapa yang diperhatikan, siapa yang diprioritaskan, dan siapa yang harus menunggu.
Masalah utamanya bukan soal uang, tetapi soal kepekaan dan waktu. Dalam situasi krisis, sikap pemerintah menjadi pesan yang sangat kuat. Ketika yang terlihat justru panggung hiburan, sementara upaya penyelamatan sawah nyaris tak terdengar maka pesan yang sampai ke rakyat adalah ketimpangan perhatian. Padahal rakyat tidak selalu menuntut hasil instan, mereka hanya ingin tahu bahwa negara hadir dan peduli.
Subang dikenal sebagai daerah pertanian, sawah bukan sekadar pemandangan tetapi sumber kehidupan ribuan keluarga. Ketika sawah mengering, seharusnya itu menjadi tanda darurat. Tidak perlu menunggu kegagalan panen terjadi untuk bertindak. Satu langkah nyata seperti pembersihan saluran irigasi atau penanganan darurat air akan jauh lebih bermakna bagi petani daripada seribu kata penjelasan.
Dalam kehidupan bersama, ada nilai sederhana yang sering kita pahami sejak kecil: jika tetangga sedang kesusahan, kita menahan diri untuk berpesta. Bukan berarti kebahagiaan harus dihentikan selamanya tetapi empati perlu didahulukan. Nilai ini hidup dalam budaya masyarakat kita dan dalam ajaran agama. Mendahulukan yang paling membutuhkan adalah bentuk keadilan paling dasar.
Festival, musik, dan hiburan memang bisa menggerakkan ekonomi. UMKM terbantu, pedagang kecil berjualan, masyarakat bersenang-senang. Semua itu baik. Namun ketika dilakukan bersamaan dengan krisis yang menyentuh kebutuhan paling dasar yaitu makan dan hidup maka keseimbangan menjadi penting. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa perhatian pada hiburan tidak mengalahkan kepedulian pada penderitaan.
Ironi juga muncul karena petani sering dipuji sebagai pahlawan pangan tetapi dalam praktik, mereka kerap menjadi yang terakhir ditolong. Saat panen berhasil, kita bangga. Saat gagal tanam mengancam, suara mereka sering tenggelam. Padahal jika petani jatuh, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka tetapi oleh seluruh masyarakat: harga pangan naik, ketahanan pangan melemah, dan masalah sosial bertambah.
Ini bukan untuk menyalahkan satu pihak, ini adalah ajakan untuk melihat lebih jujur pada arah kebijakan kita. Apakah pembangunan kita sudah cukup manusiawi? Apakah kebijakan kita cukup dekat dengan kehidupan rakyat kecil? Apakah kita sudah peka terhadap penderitaan yang tidak selalu tampil di panggung besar?
Pemerintah daerah sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk mengubah keadaan. Dengan komunikasi yang jujur, tindakan nyata di lapangan dan keberpihakan yang jelas kepada petani, kepercayaan publik bisa tumbuh. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan tapi ketulusan dan kesungguhan.
Pada akhirnya, yang akan diingat masyarakat bukanlah seberapa meriah acara yang pernah digelar, tetapi bagaimana negara hadir saat rakyatnya berada dalam kesulitan. Sawah yang kembali dialiri air akan lebih membekas dalam ingatan petani daripada lampu panggung yang padam setelah semalam.
Ketika sawah mengering, kita semua seharusnya berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sedang kita rayakan dan siapa yang sedang kita lupakan? Jawaban atas pertanyaan ini bukan hanya menentukan arah kebijakan, tetapi juga menunjukkan siapa kita sebagai masyarakat, apakah kita masih mampu merasakan penderitaan sesama atau sudah terlalu jauh dari tanah yang memberi kita makan.
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

