SUBANG — Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX yang digelar di Kabupaten Subang tak lagi sekadar ajang lomba seni tari jaipongan. Festival ini telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan kebudayaan nasional berbasis rakyat, dengan partisipasi terverifikasi sebanyak 3.700 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, dan total pendaftar mencapai 4.203 orang.
Dosen Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Hj. Tati Narawati, M.Hum, menilai festival ini sebagai bukti nyata bahwa pelestarian budaya, pembinaan generasi muda, dan penguatan ekonomi rakyat dapat berjalan serentak, sistematis, dan berkelanjutan, bahkan tanpa dukungan signifikan dari negara.
“Festival ini diselenggarakan secara mandiri oleh Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan. Ia membuktikan bahwa kekuatan budaya rakyat mampu menggerakkan ekosistem kebudayaan secara utuh dan berdaya hidup,” ujar Prof. Tati kepada awak media di Subang, Sabtu (20/12/2025).
Menurutnya, Festival Galuh Pakuan secara konkret telah memosisikan Galuh Pakuan sebagai pusat gerak kebudayaan Sunda di tingkat nasional, dengan tiga indikator utama. Pertama, internalisasi nilai-nilai Sunda secara nasional; kedua, penguatan identitas Sunda di panggung Indonesia; dan ketiga, perwujudan filosofi Karatwan sebagai “Indung Rakyat”—ibu yang mengasuh, melindungi, dan menumbuhkan.
Melalui jaipongan kreasi, nilai-nilai luhur Sunda seperti jiwa tangguh, raga yang kuat, serta rasa asih dan harmoni ditransmisikan kepada generasi muda lintas daerah.
“Festival ini membuktikan bahwa budaya Sunda mampu ngigelan jaman adaptif terhadap perubahan tanpa tercerabut dari akarnya. Ia menjadi medium pembinaan karakter, melahirkan generasi unggul yang kelak menjadi pemimpin dan penggerak budaya bangsa,” imbuhnya.
Keberhasilan festival ini, lanjut Prof. Tati, ditopang oleh sistem manajemen khas Galuh Pakuan yang berlandaskan nilai budaya dan spiritual Sunda. Model ini terbukti efektif mengelola ribuan peserta tanpa kekacauan, sekaligus membangun kepercayaan kolektif di antara seluruh pemangku kepentingan.
“Bersih hati, meniadakan konflik kepentingan dan keuntungan pribadi, konsisten pada aturan yang jelas, tujuan yang luhur, koordinasi solid, serta semangat galagar odeng berbagi beban, bersatu, dan memberi manfaat seluas-luasnya menjadi ruh pengelolaan festival ini,” jelasnya.
Untuk menjaga integritas dan kualitas artistik, LAK Galuh Pakuan menghadirkan juri akademik berkelas nasional, di antaranya guru besar etnokoreologi, profesor dan doktor seni pertunjukan, serta pakar koreografi, kepenarian, tata rias dan busana, hingga komposisi tari.
“Penilaian tidak semata teknis, tetapi juga mempertimbangkan makna budaya, kreativitas, dan kesesuaian dengan nilai-nilai Sunda,” pungkas Prof. Tati.
Festival Galuh Pakuan Cup Seri IX pun menegaskan bahwa ketika budaya dirawat dengan ketulusan dan dikelola dengan kearifan lokal, ia bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi kekuatan peradaban.

