Diam itu emas, bicara baik itu permata tapi bagaimana jika diam itu hadir setiap hari tanpa jeda, dalam sebuah grup WhatsApp yang harusnya jadi ruang hangat untuk berbagi canda dan cerita?
Setiap orang pasti punya grup WhatsApp yang penuh warna. Ada yang rajin share foto selfie, ada yang suka kirim stiker absurd, ada yang tiap pagi menyapa dengan “Assalamualaikum” diikuti dengan gambar bunga bermekaran, ada juga yang cuma muncul kalau ada yang ulang tahun dan itu pun hanya untuk ngetik “HBD, bro.” Dari sekian banyak anggota grup pasti ada satu yang entah kenapa selalu diam. Tidak pernah menanggapi, tidak pernah ikut bercanda, tidak pernah muncul dengan meme atau komentar. Ia seperti bayangan yang terdaftar dalam kontak tapi nyaris tak bersuara. Digrup kami, kami menyebutnya: Silent Ryder.
Bukan tanpa sebab kami menjulukinya begitu. Ia ada tapi seperti tak ada. Online, tapi tidak hadir. Terlihat, tapi tak menyentuh. Keberadaannya seperti langit malam: tak mengganggu tapi selalu ada di atas kepala kita.
Padahal dulu, waktu kami masih sering bertemu langsung nongkrong di warung kopi, ikut pengajian bareng atau main bola tiap sore, dia bukan tipe orang yang pendiam. Justru ia dikenal sebagai pengamat yang tajam. Ia tak banyak bicara tapi kalau sudah membuka suara yang lain langsung diam. Bukan karena takut tapi karena tiap ucapannya seperti butiran kopi hitam: pahit, pekat, dan bikin sadar.
Sejak pertemanan itu berpindah dari dunia nyata ke dunia maya dari tawa langsung ke emoji, dari pelukan ke reaksi love di WA, ia seperti menarik diri. Kami tidak tahu kenapa,apakah dia merasa grup itu terlalu bising? Terlalu receh? Atau justru terlalu banyak basa-basi?
Kami yang lain tetap hidup seperti biasa di grup itu. Ada yang posting curhatan soal harga cabai, ada yang share video prank yang norak, bahkan ada yang tiba-tiba jualan madu hutan tanpa menjelaskan kenapa mendadak jadi pebisnis herbal. Grup itu seperti pasar malam yang ramai, penuh suara, kadang membingungkan tapi anehnya tetap kita datangi setiap hari.
Ditengah semua itu, Silent Ryder tetap diam. Sekalinya dia bicara, hanya satu atau dua kata. Pernah, saat salah satu dari kami kehilangan ayahnya, dia menulis: “Innalillahi. Turut berduka, bro.” Itu saja tapi justru kata-katanya yang singkat itu terasa lebih dalam dari paragraf belasungkawa yang kami ketik panjang-panjang.
Lama-lama, diamnya menjadi legenda. Ada yang menuduh dia sombong. Ada yang curiga dia keluar dari grup tapi tak pamit. Ada pula yang mengira dia pakai nomor ganda dan lupa password WA yang ini tapi ada juga yang diam-diam mengaguminya. Diamnya bukan kekosongan tapi seperti samudra yang menyembunyikan ombaknya.
Suatu ketika kami iseng. Kami sebut namanya di grup. “Woy, Silent Ryder, hidup nggak sih?” katanya si Dimas, si juru meme grup. Tidak ada respons lalu si Riri ikut: “Bro, lo masih di planet ini nggak?” Masih tidak ada jawaban. Kemudian, dengan sedikit rasa bersalah, aku ikut mengetik: “Kalau nggak mau aktif juga nggak apa-apa, asal jangan lupa kita pernah ketawa bareng.”
Beberapa jam kemudian, dia muncul. “Maaf ya, bro-sis ,kadang diam itu cara terbaikku untuk tetap merasa dekat.”
Seketika grup itu sunyi, stiker-stiker berhenti. Emoji tak lagi muncul,hanya sebaris kata yang menggugah kesadaran: Kadang diam itu cara terbaikku untuk tetap merasa dekat.
Sejak itu, kami mulai mengerti,diamnya bukan berarti menjauh. Ia hanya memilih jalur yang berbeda untuk tetap setia. Ia adalah pengendara sunyi yang tetap melintasi jalan persahabatan, meski tanpa suara klakson atau deru mesin. Ia hadir dalam diam dan justru dari diam itulah, ia mengajarkan kami untuk tidak menilai kehadiran dari seberapa sering seseorang muncul di layar.
Grup WhatsApp itu tetap ramai tapi setiap kali kami mulai terlalu gaduh, terlalu banyak nyinyir atau terlalu reaktif, kami akan diam sebentar, lalu saling bercanda: “Eh, kalau Silent Ryder baca ini, dia pasti udah cabut ke grup sebelah.”
Kami tahu, dia ada dan dalam dunia yang terlalu penuh suara seperti sekarang, kehadiran seperti itu justru terasa paling jujur.
Diamnya Silent Ryder perlahan menjadi semacam standar moral dalam grup. Ia tidak pernah menyindir, tidak pernah ikut bergosip, tidak pernah membalas dengan sinis. Bahkan ketika grup mulai memanas gara-gara beda pandangan politik menjelang pemilu, dia tetap diam tapi diamnya bukan diam pasif, ia adalah diam penuh kesadaran, semacam diam aktif yang membuat orang lain mulai berpikir: “Kalau dia yang biasanya tenang saja nggak komen, mungkin kita udah kelewatan.”
Aku sendiri mulai banyak belajar dari sikapnya dulu aku tipe yang kalau ada yang nyebelin, langsung gatal ingin membalas tapi sejak melihat bagaimana Silent Ryder menghadapi dunia maya dengan tenang, aku mulai mencoba menahan jari-jariku. Mungkin kadang kita memang tak perlu memenangkan semua debat. Mungkin menang terbaik adalah saat kita mampu menahan diri.
Pernah suatu hari, dia muncul lagi. Hanya satu kalimat, seperti biasa. Kami sedang ribut membahas seseorang yang keluar dari grup karena tersinggung. “Kita kadang terlalu cepat menghakimi padahal belum tentu kita sendiri mau dihakimi dengan ukuran yang sama,” tulisnya.
Kalimat itu menampar tapi bukan tamparan kasar. Seperti sapuan angin sejuk yang membuat kita sadar bahwa lidah bisa lebih tajam dari pisau.
Dari semua stiker, dari semua forward pesan, dari semua canda tawa yang hadir dan berlalu, kata-kata Silent Ryder tetap tinggal. Mereka tak banyak, tapi membekas.
Ada kalanya aku membayangkan, suatu saat nanti jika kami mengadakan reuni, dia datang paling belakangan, duduk paling pojok, dan hanya tersenyum melihat kami tertawa. Lalu sebelum pulang, dia berkata pelan: “Senang lihat kalian masih bareng. Aku cuma ingin memastikan kalian baik-baik saja.”
Mungkin begitulah cara seorang Silent Ryder mencintai,dalam diam. Dalam hadir yang tidak menuntut dibalas. Dalam setia yang tidak perlu diumumkan.
Didunia yang terlalu ramai dengan notifikasi, terlalu penuh dengan kata-kata yang tak dipikirkan sebelum diketik, kehadiran seorang Silent Ryder justru mengajarkan kita tentang pentingnya jeda. Tentang hening yang menenangkan, tentang hadir yang tak perlu gaduh.
Karena dalam setiap percakapan yang baik, selalu ada ruang untuk diam. Mungkin, justru di ruang diam itulah makna paling dalam bersembunyi.
Subang,27 April 2025
Nurizzah Wahidah
Pegiat RB Tunas Aksara

