Pena bukan sekadar alat tulis, tetapi simbol ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan perubahan peradaban. Dari zaman Mesir Kuno hingga era digital saat ini, pena telah menjadi saksi sejarah dan instrumen utama dalam menyebarkan ide serta gagasan. Dalam Islam, pena memiliki makna mendalam, sebagaimana Allah bersumpah atasnya dalam Surah Al-Qalam ayat 1: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” Ayat ini menegaskan bahwa tulisan memiliki peran besar dalam peradaban manusia.
Sejarah pena dimulai sejak manusia mencari cara untuk merekam informasi. Bangsa Sumeria (3200 SM) menggunakan stylus untuk menulis pada lempengan tanah liat. Mesir Kuno (3000 SM) kemudian mengembangkan kalamus, pena dari batang buluh, untuk menulis di atas papirus. Seiring waktu, pena berkembang menjadi quill pen dari bulu angsa yang populer di Eropa pada abad ke-6 M.
Pada abad ke-18, pena dengan ujung logam (dip pen) menggantikan pena bulu. Lalu, fountain pen ditemukan oleh Petrache Poenaru (1827), memungkinkan tinta mengalir otomatis. Revolusi besar datang dari László Bíró (1938) yang menciptakan bolpoin, membuat menulis lebih praktis dan efisien. Pena modern akhirnya berkembang menjadi berbagai bentuk, termasuk pena digital.
Pena melambangkan ilmu, kebijaksanaan, dan kekuatan kata-kata. Dalam Islam, pena disebut dalam banyak konteks, seperti dalam hadis:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Pena juga melambangkan peradaban. Peradaban besar seperti Islam, Yunani, dan Romawi berkembang melalui tulisan. Karya-karya ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Al-Ghazali tetap abadi karena ditulis dengan pena.
Sejarah membuktikan bahwa pena lebih kuat dari pedang. Banyak revolusi dan perubahan besar terjadi karena tulisan. Seperti tulisan para tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka membangkitkan kesadaran nasional. Artikel, buku, dan pidato mereka menginspirasi perlawanan terhadap penjajah.Di Revolusi Prancis (1789),tulisan filsuf seperti Voltaire dan Rousseau memicu perubahan sistem monarki menuju demokrasi.
Pemikiran tokoh seperti Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh membangkitkan kesadaran umat Islam untuk kembali kepada kejayaan ilmu.Syekh Hasyim Ashari,Syekh Ahmad Dahlan di Indonesia dan Syekh Utsman Dan Fodio di Afrika menulis untuk membangkitkan semangat perjuangan Islam.
Banyak tokoh Islam yang menegaskan pentingnya pena dalam membangun peradaban.
Seperti Ibnu Khaldun yang mengatakan “Tulisan adalah jejak peradaban. Tanpa pena, sejarah akan hilang, dan ilmu tidak akan berkembang.”
Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali “Jika ingin mengetahui masa depan suatu bangsa, lihatlah bagaimana mereka menghargai ilmu dan tulisan.”. Sementara Muhammad Iqbal berkata, “Dengan pena, umat Islam bisa kembali menjadi pemimpin dunia.”
Dapat disimpulkan bahwa pena bukan sekadar alat, tetapi senjata perubahan. Sejarah mencatat bagaimana pena mengubah dunia, dari perlawanan terhadap kolonialisme hingga kebangkitan peradaban. Dalam Islam, pena mendapat tempat istimewa sebagai simbol ilmu dan wahyu. Oleh karena itu, setiap goresan pena harus digunakan untuk kebaikan, menulis yang benar, dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat.
Sebagaimana kata-kata Ali bin Abi Thalib: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”
Subang , 29 Maret 2025
Hgr Dinandaru shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

