• Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata
Kamis, Oktober 15, 2026
Nitikan.id
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata
  • Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata
No Result
View All Result
nitikan.id
No Result
View All Result
Home Ragam

Parasit

Nitikan.id by Nitikan.id
14/10/2026
in Ragam
0 0
0
Parasit
0
SHARES
12
VIEWS
Bagi ke WhatsAppBagi ke Facebook

Dalam pelajaran biologi ada istilah simbiosis mutualisme, yaitu hubungan dua makhluk hidup yang sama-sama memperoleh keuntungan. Lebah mendapatkan nektar, bunga terbantu penyerbukannya. Keduanya saling membutuhkan tanpa perlu bikin grup WhatsApp, mengadakan rapat koordinasi, apalagi menunjuk bendahara untuk mengelola dana kebersamaan. Alam ternyata sudah mengajarkan kerja sama jauh sebelum manusia menemukan proposal kegiatan dan spanduk bertuliskan Demi Kebersamaan Kita Sukseskan Bersama.

Sayangnya, dalam kehidupan manusia, tidak semua hubungan berjalan semanis lebah dan bunga. Ada juga simbiosis parasitisme, ketika satu pihak memperoleh keuntungan, sementara pihak lainnya dirugikan. Dalam bahasa pergaulan, yang satu merasa punya sahabat, yang lain merasa menemukan ATM berjalan. Bedanya, ATM asli punya batas penarikan, sedangkan teman yang terlalu baik kadang bisa dikuras sampai saldo kesabarannya ikut minus. Lebih tragis lagi, ketika ditagih, si peminjam malah menghilang seperti pejabat yang mendadak sulit ditemui setelah ditanya soal anggaran.

Persahabatan memang perkara menarik. Terutama persahabatan yang tumbuh sejak zaman sekolah, ketika persoalan hidup belum serumit cicilan, jabatan, dan perebutan pengaruh. Dahulu kita berteman karena duduk sebangku, berbagi bekal, menyalin PR, atau sama-sama dihukum guru karena ketahuan loncat tembok sekolah.

Ada pula kawan gelut ketika masih bocah. Gara-gara senggolan saat bermain bola, kita berantem sampai saling mengancam akan membawa pasukan. Besoknya, setelah bel masuk berbunyi, sudah bermain bersama lagi. Tidak ada konferensi pers, tidak ada klarifikasi tujuh halaman, apalagi tim hukum yang mengurus sengketa harga diri.

Paling banter, masing-masing pulang dengan lutut lecet dan ancaman akan mengadu kepada orang tua yang ternyata sama-sama tidak dianggap serius. Begitulah persahabatan masa kecil. Berantemnya sungguhan, baikan juga sungguhan. Tidak perlu membuat pernyataan bahwa hubungan baik tetap terjaga demi kepentingan bersama.

Toh, besok masih membutuhkan teman untuk bermain layangan, mencari ikan di selokan, atau patungan membeli es cream. Kepentingan memang ada, tetapi belum sampai membuat kita menyusun strategi komunikasi demi menjaga citra di hadapan publik.

Kini, setelah masing-masing sibuk mengejar rezeki, mengurus keluarga, dan berpura-pura memahami rumitnya kehidupan, kawan-kawan lama itu justru menjadi bagian penting dari perjalanan hidup. Mereka adalah saksi ketika kita hanya punya uang jajan yang pas-pasan, cita-cita setinggi langit, dan keberanian berutang di warung yang modalnya saja belum tentu cukup buat beli motor listrik.

Kawan lama menyimpan cerita tentang diri kita sebelum mengenal pencitraan. Mereka tahu kita pernah menangis gara-gara diejek, pernah berlagak jagoan padahal takut curut, dan pernah mengaku kenyang hanya karena malu tidak membawa uang jajan.

Mereka mengenal kita sebelum jabatan ditulis di kartu nama, sebelum foto profil dibuat lebih berwibawa, dan sebelum setiap pertemuan terasa seperti kesempatan memperluas jaringan. Di depan kawan lama, gelar boleh bertambah, kendaraan boleh berganti, tetapi sejarah sebagai bocah yang pernah menangis karena kalah bermain kelereng tetap sulit dihapus.

Karena itu, persahabatan lama layak dirawat. Bukan semata-mata karena nostalgia, melainkan karena di dalamnya tersimpan sesuatu yang semakin mahal dalam kehidupan dewasa, yaitu hubungan yang tidak selalu dibangun berdasarkan kepentingan. Sesekali bertanya kabar, menyempatkan bertemu, atau sekadar mengirim pesan sederhana dapat menjaga jembatan yang sudah dibangun bertahun-tahun.

Tidak perlu menunggu menjadi orang penting untuk kembali menyapa. Jangan sampai kita baru ingat seorang kawan ketika membutuhkan koneksi, pinjaman uang, atau rekomendasi pekerjaan. Kalau begitu, persahabatan kita mirip aplikasi perbankan, dibuka hanya ketika ada transaksi.

Masalahnya, kedewasaan kadang membawa perubahan yang aneh. Dahulu kita berteman tanpa menghitung siapa lebih kaya atau lebih hebat. Setelah dewasa, ada yang mulai mengukur manusia berdasarkan jabatan, kendaraan, dan seberapa penting nomor teleponnya di dalam daftar kontak. Kawan yang dahulu menemani kita makan gorengan di pinggir lapangan mendadak dianggap kurang berkelas karena pekerjaannya biasa-biasa saja.

Padahal, gorengan tidak pernah menanyakan pangkat sebelum bersedia dicocol sambal. Yang sering mempersoalkan status justru manusia yang merasa harga dirinya naik setelah namanya diberi tambahan beberapa huruf di belakang.

Di sinilah konsep simbiosis parasitisme menjadi relevan. Ada orang yang menjaga kedekatan bukan karena menghargai persahabatan, melainkan karena masih ada keuntungan yang bisa dipetik. Ia rajin menyapa ketika membutuhkan pertolongan, mendadak akrab ketika kita punya akses, dan menghilang ketika giliran kita memerlukan bantuan. Hubungan seperti ini membuat persahabatan berubah menjadi pasar, sementara keakraban menjadi kemasan dagangan.

Tentu saja, tidak semua teman yang sering meminta bantuan adalah parasit. Manusia bisa mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan. Persahabatan justru salah satunya diuji ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Yang perlu diperhatikan adalah polanya. Apakah ia juga peduli terhadap keadaan kita? Apakah ia menghormati ketika kita tidak mampu membantu? Ataukah setiap penolakan dibalas dengan tuduhan bahwa kita sudah berubah?

Jalaluddin Rumi, penyair sufi dari Persia, mengajak kita memahami cinta sebagai jalan untuk mendidik jiwa. Jika gagasan itu kita bawa ke dalam persahabatan, seorang kawan bukan sekadar orang yang memberi keuntungan, melainkan juga seseorang yang membantu kita mengenali diri sendiri. Teman yang baik tidak selalu membenarkan kita. Ia berani mengingatkan ketika kita keliru, ikut bahagia ketika kita berhasil, dan tidak menjadikan kelemahan kita sebagai senjata untuk menjatuhkan kita.

Persahabatan yang sehat tidak menuntut setiap kebaikan dibalas dengan nilai yang sama. Hari ini kita membantu teman, besok mungkin kita yang membutuhkan pertolongannya. Namun, ketulusan bukan berarti kita harus menyediakan diri sebagai tempat penarikan tunai tanpa batas. Kita boleh memaafkan tanpa terus membiarkan diri dimanfaatkan. Kita boleh menjaga hubungan tanpa kehilangan harga diri.

Sebab, menjadi orang baik tidak mengharuskan kita menjadi orang yang selalu bisa dimintai apa saja. Persahabatan bukan soal berapa banyak keuntungan yang bisa kita peroleh, melainkan apakah kehadiran kita membuat kehidupan orang lain sedikit lebih baik. Kawan lama adalah saksi perjalanan, bukan sekadar penyedia layanan bantuan.

Maka, sesekali hubungilah kawan sekolah dan kawan gelut masa kecil kita. Ajak ngopi, tertawakan kembali kenakalan zaman dahulu, atau sekadar bertanya apakah ia masih ingat siapa yang dulu paling sering kalah berkelahi tetapi paling keras mengaku menang.

Jangan tunggu sampai kita membutuhkan bantuan, lalu mendadak mengirim pesan dengan pembuka, “Bro, apa kabar? Lama kita tidak ngobrol.” Padahal, setelah dibalas, kalimat berikutnya sudah siap meluncur, “Kebetulan nih, aku mau minta tolong sedikit.” Kalau pola komunikasi kita begitu terus, jangan heran jika suatu hari pesan hanya dibaca tanpa balasan. Barangkali kawan kita sedang sibuk, tetapi bisa juga ia sudah hafal bahwa di balik sapaan hangat itu ada proposal bantuan yang tinggal menunggu tanda tangan.

Barangkali, salah satu cara mengukur kualitas persahabatan adalah melihat apa yang tersisa ketika kepentingan sudah tidak ada. Apakah kita masih mau duduk bersama, tertawa mengenang masa kecil, dan mendengarkan cerita yang sama untuk kesekian kalinya? Ataukah kita mendadak kehilangan bahan obrolan karena tidak ada lagi yang bisa dimanfaatkan?

Cinta, dalam jalan pemikiran Rumi, mengajak manusia melampaui ego dan kepentingan dirinya sendiri. Persahabatan pun semestinya demikian. Kita tidak harus selalu memperoleh sesuatu dari seorang kawan untuk tetap menghargai keberadaannya.

Tidak semua pertemuan harus menghasilkan peluang, tidak semua percakapan harus membuka jalan menuju keuntungan, dan tidak semua kebaikan perlu dicatat sebagai piutang.

Sebab, teman bukan sekadar orang yang berguna bagi hidup kita. Teman adalah orang yang tetap berharga, bahkan ketika ia tidak sedang membawa apa-apa untuk kita.

 

Aditya Nauval

Pegiat rumah baca Tunas Aksara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

  • Parasit
  • Bukan Sembarang Batuk
  • Gali Nilai Multibudaya, Mahasiswa UPI Kunjungi Kampung Adat Cikondang
  • Ketika Bola Panas Menyeberang
  • Setipis Tempe
  • panen4d
  • joker123
  • slot777
  • slot scatter hitam
  • https://protuning.id/
  • https://ptnobelindonesia.com/
  • https://okegas.id/
  • https://dukcapil.selumakab.go.id/
  • https://store.scuto.co.id/wp-content/products/
  • https://selumakab.go.id/
  • https://dukcapil.selumakab.go.id/duta777/
  • https://krakatauniaga.co.id/run/
  • https://bossfood.co.id/wp-content/pound/
  • https://befood.id/run/?id=nanastoto
  • slot138
  • slot138
  • sultan69
  • joker123
  • slot mahjong
  • slot depo 10k
  • demo mahjong
  • slot bet 200
  • slot gacor
  • https://consumerstore.siccura.com/
  • https://blog.sparkresto.com/
  • https://jurnal.anfa.co.id/
  • sultan188
  • duniacash
  • https://dewa138.xyz/
  • sultan188 login
  • https://dhumanotmp.xoc.uam.mx/
  • https://programainfancia.xoc.uam.mx/
  • https://fe.unik-kediri.ac.id/
  • https://techno.ru.ac.th/en/contact/
  • sultan188
  • https://problemaseducacion.xoc.uam.mx/

Nitikan.id merupakan salah satu media siber yang berada dibawah naungan PT Poros Media. Nitikan.id ingin menyajikan konsep jurnalis yang memihak pada kepentingan publik, membawa pencerahan, membangun ruang kesadaran serta menumbuhkan semangat literasi dan perubahan.

Kategori

  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Headline
  • Hukum
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Profile
  • Ragam
  • Science
  • Seni Budaya
  • Tak Berkategori
  • Teknologi
  • Wisata
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Term Of Use

© 2024 Nitikan.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata

© 2024 Nitikan.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • slot demo terbaik
  • https://grupoceleron.com/
  • slot gacor malam ini
  • https://aldypay.com/credit-purchase/
  • https://www.sharpener.tech/blog/
  • http://www.dramsyar.com.my/dramsyarservices/
  • https://urbanbat.org/salto-al-vacio/
  • https://kemin.gov.kg/
  • https://vjcc.org.vn
  • ggsoft
  • spaceman
  • slot dana
  • sv388
  • https://www.starfilterind.com/filter-cartridge/
  • https://santillan.ec/contacto/
  • https://travelnevada.fr/blog/
  • http://www.agfarma.com/about/
  • situs138
  • ggsoft
  • slot88
  • https://rgc.com.br/contato/
  • duniacash
  • https://restaurantemoche.com/contact-me/
  • https://agri.ubru.ac.th/
  • https://pedrolopez.pt/
  • https://ezap.edu.vn/
  • slot gacor
  • sultan188
  • slot 10k
  • https://revoar.org/contato/
  • https://www.woodyantique.com/testimonial
  • beras11
  • slot 10k
  • https://paninibay.com/
  • slot depo 5k
  • slot qris
  • https://tagme.com.br/login/
  • slot depo 10k
  • situs slot online
  • ggsoft
  • https://atmaenterprise.com/
  • https://www.lepagefoodanddrinks.com/private-cheffing
  • https://weddingdive.com/idea/
  • https://de.goodstats.id/gehry-architecture/
  • https://www.facility.management.zarz.agh.edu.pl/kontakt/
  • slot 138
  • https://hub.egaleo.gr/prosklisi-kypee/
  • https://store.amerimed.net/
  • https://zlatnadvorana.com/galerija/
  • slot69
  • slot69
  • https://iesmontilivi.net/noticies/
  • https://trrhospitals.com/about-us/
  • https://astaracademy.edu.my/contact-us/
  • https://clinicaitabayana.com/herpeszoster/
  • https://khcn.tbd.edu.vn/danh-muc/linh-vuc-nghien-cuu/
  • https://ca.zonajakarta.com/privacy-policy/
  • https://digital.melintas.id/careers/
  • https://cityluxurycarsrental.com/brands/
  • https://technobox.mk/kalkulator/
  • https://beras11.vip/