Cardiff, Wales – Setelah 16 tahun berpisah, Oasis akhirnya kembali bersatu dalam sebuah konser reuni yang memukau di Principality Stadium, Cardiff, Jumat (4/7) malam. Grup asal Manchester ini membuka tur “Live ’25” dengan penampilan penuh energi yang membangkitkan nostalgia, membawakan lagu-lagu hits era 1990-an di hadapan lebih dari 60.000 penonton yang memadati stadion.
Konser ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu para penggemar, mengingat Liam dan Noel Gallagher – dua sosok utama Oasis – terakhir kali tampil bersama pada 2009, sebelum band tersebut pecah karena konflik internal. Suasana haru dan antusiasme tergambar jelas di antara penonton, salah satunya melalui spanduk bertuliskan: “The great wait is over.”

Penampilan dimulai dengan sebuah montase pemberitaan media tentang perseteruan dua bersaudara tersebut, yang diakhiri dengan kalimat “the guns have fallen silent”. Oasis kemudian muncul ke atas panggung disambut sorak sorai penonton, membuka konser dengan lagu “Hello” yang ikonik.
Meski sempat terlihat saling menggenggam tangan, interaksi Noel dan Liam di atas panggung tetap minim. Noel, 58 tahun, lebih banyak fokus pada gitarnya, sementara Liam, 52 tahun, tampil dengan ciri khasnya—mengenakan parka dan menyanyikan lagu dengan penuh gaya khas yang tak memudar sejak debut album Definitely Maybe pada 1994.

Selama dua jam penuh, Oasis membawakan lagu-lagu dari dua album legendaris mereka, Definitely Maybe dan (What’s the Story) Morning Glory?, serta beberapa lagu dari album-album selanjutnya dan sisi-B favorit penggemar. Lagu seperti “Supersonic”, “Roll With It”, dan “Rock ‘n’ Roll Star” masih terdengar sekuat dulu dan memicu koor massal dari para penonton.
Salah satu momen emosional terjadi saat lagu “Live Forever” dimainkan, diiringi proyeksi gambar pemain Liverpool FC, Diogo Jota, yang meninggal dunia dalam kecelakaan mobil sehari sebelumnya.
Noel turut mengambil alih vokal utama pada beberapa lagu, termasuk “Half the World Away” yang menyentuh. Konser ditutup dengan deretan lagu ikonik Oasis seperti “Don’t Look Back in Anger”, “Wonderwall”, dan “Champagne Supernova”.
Meski minim interaksi antar anggota band, Liam sempat bercanda kepada penonton: “Apakah tiket seharga 40 ribu poundsterling itu sepadan?”—menyinggung harga tiket yang meroket karena tingginya permintaan.
Tur “Live ’25” terdiri dari 19 pertunjukan di Inggris dan Irlandia, sebelum berlanjut ke Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, dan Australia. Tur ini akan ditutup di São Paulo, Brasil, pada 23 November mendatang.
Di luar stadion, ribuan penggemar dari berbagai negara berkumpul, menyanyikan lagu-lagu Oasis bersama, dan membeli merchandise resmi seperti topi ember seharga 35 poundsterling (sekitar Rp700 ribu).
“Ini sangat spesial dan emosional,” ujar Rob Maule (44), penggemar asal Edinburgh. “Saya datang bersama tiga sahabat masa kecil. Kami biasa menonton Oasis bersama sejak dulu. Ini seperti babak hidup yang kembali dibuka.”
Vicki Moynehan, penggemar dari Dorchester, mengatakan hidupnya banyak berubah sejak membeli tiket setahun lalu. “Sekarang saya tujuh bulan hamil — tapi tetap datang. Ini tidak akan menghentikan saya.”
Didirikan di kawasan kelas pekerja Manchester pada 1991, Oasis menjadi salah satu band terbesar Inggris era 1990-an, dengan delapan album yang menduduki puncak tangga lagu. Kesuksesan mereka dibangun di atas melodi rock yang mudah diingat, serta hubungan penuh ketegangan antara Liam dan Noel.
Sampai bertahun-tahun kemudian, keduanya tetap saling sindir di media. Liam pernah menyebut Noel sebagai “anak tahu”, sedangkan Noel menyebut Liam sebagai “orang paling pemarah di dunia. Seperti orang membawa garpu di dunia penuh sup.”
Setelah bertahun-tahun menolak untuk reuni meski dijanjikan bayaran fantastis, keduanya akhirnya sepakat untuk melakukan tur ini. Mereka juga kembali menggandeng personel lama seperti Paul “Bonehead” Arthurs dan Gem Archer (gitar), Andy Bell (bass), dan Joey Waronker (drum).
Namun, konser ini masih disebut sebagai pertunjukan satu kali, tanpa rencana merilis lagu baru.
Pengamat musik John Aizlewood menilai tur ini menjadi momen untuk memperkuat warisan musikal Oasis. “Ini kesempatan emas untuk memperkokoh nama besar Oasis. Jika mereka memainkan semuanya dengan benar, ini bisa menjadi penguatan besar bagi warisan mereka.”
Dan seperti terlihat malam itu, para penggemar tampak siap menikmati momen bersejarah ini.
“Saya anak sulung dari empat bersaudara, jadi saya tahu mereka pasti akan bertengkar lagi,” kata Stephen Truscott, penggemar dari Middlesbrough. “Tapi untuk malam pertama ini, mereka pasti bersenang-senang. Ini akan jadi malam terbaik.”
Sumber Berita: APNews.com
Oasis returns after 16-year hiatus to a UK crowd ecstatic for the band’s 1990s hits

