8 Desember 2024 Prabowo memberikan isyarat PPN 12% hanya dikenakan untuk barang mewah.
Tapi jebul rakyat kena Prank!. Pemerintah secara resmi akhirnya memutuskan PPN 12% berlaku untuk semua barang, kecuali sembako. Jadi, kayak sabun, deterjen, obat nyamuk, pulsa, data internet dan kawan kawannya, tetap kena kenaikan PPN.
Naiknya PPN 11% menjadi 12% bukan berarti kenaikan 1%, tapi 9%. Kenapa begitu?. Mira kita belajar matematika.
Misal kita beli Hp.
Harga Asli (Tanpa PPN) Rp9.009.009
Dengan PPN 11%, harganya menjadi: Rp10.000.000
Dengan PPN 12%, harganya menjadi Rp10.090.090
Nilai pajak lama (11%): 990.991.
Nilai Pajak baru (12%) : 1.081.081.
Kenaikan 990.991ke 1.081.081 itu sama dengan naik 9.1%, bukan 1 %.
Paham ya?.
Nek mumet, Abaikan.
Kenapa bukan barang mewah saja, yang berarti orang kaya saja yang diperas!?!. Padahal Vietnam baru saja menurunkan PPN nya, dari 10% ke 8%. PPN di Singapura saja 9%.
Kenapa Negara tega memeras rakyat?. Disaat kesempatan kerja terbatas, masih ditambah dengan beban Pajak.
Jawabanya begini: Pada suatu hari kita ditagih Pinjol. Deb Colectornya di depan rumah. Serem-serem. Pintu digedor-gedor.
Kita keluar, lewat pintu belakang. Nekad, gelap mata dan meminta uang pada siapa saja yang kita kenal, demi bisa bayar angsuran pinjol. Malu dan takut kalau sampai Deb Colectornya ngamuk ngamuk dan teriak.
Itulah yang terjadi pada Ibu Pertiwi kita.
Hutang jatuh tempo RI di 2025-2028 sebesar Rp3.125 T. Di tahun 2025 harus bayar angsuran 800 T.
Pemerintah gelap mata. Mau peras orang kaya kelamaan. Juga nggak berani. Negara sayang Oligarki, juga takut, juga nggak enakan.
Untuk menghasilkan uang segar satu satunya cara dengan cara menginjak injak kepala rakyat kecil. Rakyat sudah megap megap mau tenggelam dalam kebutuhan hidup, masih di jlep jlep ke sampai benar benar mati. Diperas sampai darah menetes dan nyawa melayang.
Hutang sebanyak itu untuk apa sih?.
Selain untuk dikorupsi, tentu untuk gaji Presiden, DPR, Menteri, dan pejabat negara lainnya. Buat beli mobil dinas baru. Renovasi gedung pemerintah. Ganti marmer, lampu kristal, dan kursi empuk. Kemudian, ada rapat-rapat di hotel bintang lima sambil membahas pengentasan kemiskinan. Untuk acara bimbingan teknis di Bali. Ganti gorden ratusan juta rupiah, ganti kran rumah dinas.
Dan rakyat yang membayar itu semua.
Iuran. Beli sabun bayar pajak 100 rupiah. Beli Rokok bayar pajak 500 rupiah, beli pulsa sumbang pajak 300 rupiah.
Kalau 280 Juta rakyat belanja setiap hari sebesar 70rb, maka PPN yang terkumpul 2.1 T. Itu baru Pajak Pertambahan Nilai lho. Belum lagi Pajak bangunan. Pajak kendaraan. Pajak penghasilan.
Dan ingat, naiknya PPN pasti akan dimanfaatkan pengusaha menaikan harga produk ugal ugalan. Ditambah dengan naiknya BBM di awal 2025, yang sampai hari ini sudah selesai skemanya.
Mau demo?. Diadu dengan sesama rakyat yang sudah digaji yang bernama Buzzer. Dituduh anak abah. Dituduh PKI. Dituduh kelompok tidak puas hasil Pilpres. Dituduh perusuh.
Rakyat seharusnya tenang dalam perlindungan dan pengayoman Negara. Tapi di Indonesia, rakyat dipaksa untuk selalu ngelus dada dengan tingkah Negara tanpa bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya memang harus pasrah begini. Pejabat makin kaya, dan rakyat jelata duduk di rumah dengan atap bocor di sana-sini, menonton kemewahan pejabat di TV, sementara ember di sudut ruangan penuh menampung tetesan air hujan.
Yogyakarta
20 Desember 2024
Teguh Santoso,Sekjen Gerbang

