Di tengah kehidupan modern yang ditandai oleh polarisasi sosial, kekerasan verbal, serta krisis keteladanan, manusia kerap dihadapkan pada dua ekstrem sikap: terlalu lembut hingga mudah diinjak, atau terlalu keras hingga kehilangan empati.
Dalam konteks inilah kearifan lokal Nusantara dan nilai universal Islam menemukan titik temu yang relevan dan mendalam. Salah satunya termanifestasi dalam falsafah Sunda Leuleus Jeujeur Liat Tali sebuah konsep etis yang menggambarkan sosok manusia ideal yang lembut dalam sikap, namun teguh dalam prinsip.
Ungkapan Leuleus Jeujeur Liat Tali bukan sekadar pepatah budaya, melainkan panduan karakter. Leuleus berarti halus, lembut, dan penuh tenggang rasa. Jeujeur merujuk pada gagang pancing lentur namun terarah. Sementara liat tali menggambarkan kekuatan yang tidak mudah putus, meski ditarik dan diuji.
Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia ideal bukanlah mereka yang keras tanpa hati, atau lembut tanpa pendirian, melainkan pribadi yang mampu menyeimbangkan empati dan keteguhan secara proporsional.
Jika ditarik ke dalam sejarah kenabian, nilai ini menemukan representasi paling utuh dalam diri Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah figur yang memperlihatkan kelembutan akhlak sekaligus keteguhan iman dalam satu tarikan napas kehidupan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa akhlak Rasulullah adalah manifestasi universal dari apa yang oleh orang Sunda disebut Leuleus Jeujeur Liat Tali.
Aspek leuleus jeujeur tercermin jelas dalam cara Nabi berinteraksi dengan manusia. Beliau dikenal sebagai pribadi yang soméah, santun, dan penuh empati. Rasulullah tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Caci maki dijawab dengan doa, kekerasan dihadapi dengan kesabaran, dan kebencian dilunakkan dengan keteladanan. Bahkan terhadap mereka yang memusuhinya, Nabi tetap menjaga adab dan martabat kemanusiaan.
Kelembutan ini bukanlah ekspresi kelemahan, melainkan bentuk pengendalian diri tingkat tinggi.
Al-Qur’an menegaskan,
“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu” (QS. Ali Imran: 159).Ayat ini menegaskan bahwa kelembutan adalah kekuatan strategis dalam membangun peradaban, bukan sekadar sikap personal.
Namun Rasulullah bukanlah figur yang permisif atau tanpa pendirian. Di sinilah nilai liat tali menemukan maknanya. Dalam budaya Sunda, tali yang liat bukan berarti kaku, melainkan kuat dan lentur sekaligus—mampu menahan tekanan tanpa kehilangan fungsi. Keteguhan semacam inilah yang tercermin dalam konsistensi Nabi dalam menjaga prinsip tauhid dan keadilan.
Sejarah mencatat bagaimana Rasulullah menghadapi tekanan luar biasa: penolakan, pengusiran, boikot ekonomi, hingga ancaman pembunuhan. Beliau ditawari kompromi politik dan materi agar menghentikan dakwahnya. Namun semua itu ditolak dengan keteguhan yang tenang. Rasulullah tetap lembut dalam sikap, tetapi tidak pernah lunak dalam kebenaran. Inilah bentuk keteguhan yang tidak meledak-ledak, namun tidak tergoyahkan.
Keteladanan ini mengajarkan bahwa keteguhan sejati tidak harus tampil dalam kemarahan atau kekerasan. Justru keteguhan paling kuat sering kali hadir dalam kesabaran panjang dan konsistensi moral. Rasulullah menunjukkan bahwa seseorang bisa bersikap elastis terhadap situasi sosial, tanpa kehilangan poros nilai dan iman.
Keselarasan antara falsafah Sunda dan nilai Islam ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Nusantara sejatinya tidak bertentangan dengan ajaran universal agama. Sebaliknya, ia menjadi jembatan kontekstual untuk memahami nilai-nilai luhur secara lebih membumi. Leuleus Jeujeur Liat Tali adalah bahasa budaya untuk menjelaskan akhlak profetik dalam konteks sosial Indonesia.
Dalam kehidupan hari ini, filosofi ini menjadi sangat relevan. Di tengah budaya debat yang keras, media sosial yang mudah menghakimi, serta kecenderungan ekstremisme sikap, kita membutuhkan teladan yang mengajarkan keseimbangan. Menjadi lembut tanpa kehilangan harga diri, dan menjadi tegas tanpa kehilangan kemanusiaan.
Akhirnya, Leuleus Jeujeur Liat Tali bukan sekadar warisan budaya, melainkan kompas etika. Melalui keteladanan Rasulullah SAW, kita diajak membangun karakter yang beradab secara sosial, kokoh secara spiritual, dan matang secara moral. Sebab peradaban tidak dibangun oleh suara paling keras, melainkan oleh hati yang lembut dan prinsip yang teguh.
Mochammad RF
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

