Nitikan.id – Potensi bencana di sebuah wilayah dengan topografi yang kontras dari pegunungan hingga pesisir memerlukan pemetaan risiko yang komprehensif karena setiap zona memiliki karakteristik ancaman yang berbeda.
Di wilayah perbukitan dan dataran tinggi, ancaman utama yang sering muncul adalah longsor dan tanah bergerak. Fenomena ini biasanya dipicu oleh tingginya curah hujan yang menjenuhkan tanah di lereng-lereng curam, terutama pada lahan yang telah mengalami perubahan fungsi dari hutan menjadi area pertanian atau pemukiman.
Mitigasi untuk masalah ini harus difokuskan pada penguatan struktur lereng melalui metode vegetatif dengan menanam pohon berakar dalam serta pembangunan dinding penahan tanah pada titik-titik rawan. Selain itu, pemasangan alat pemantau pergerakan tanah menjadi krusial agar warga memiliki waktu evakuasi sebelum rekahan tanah berkembang menjadi longsoran besar.
Masalah air kemudian berlanjut dari hulu ke tengah dalam bentuk banjir bandang. Bencana ini terjadi ketika material longsoran atau tumpukan sampah menyumbat aliran sungai di bagian atas, yang kemudian jebol saat volume air meningkat drastis.
Solusinya terletak pada pembersihan alur sungai secara rutin dan pemeliharaan kawasan resapan agar air tidak langsung turun ke bawah sebagai aliran permukaan.
Bergerak ke wilayah pemukiman di dataran yang lebih rendah, masalah banjir pemukiman sering kali disebabkan oleh sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air hujan. Normalisasi saluran air di dalam kawasan hunian dan pembangunan kolam retensi dapat menjadi solusi teknis untuk memarkir air sementara waktu sebelum dialirkan ke badan sungai utama.
Di aliran sungai besar, ancaman tanggul jebol menjadi risiko yang sangat fatal bagi kawasan sekitarnya. Hal ini terjadi akibat pengikisan dinding tanggul oleh arus kuat atau karena usia infrastruktur yang sudah tua.
Mitigasi yang diperlukan adalah penguatan tanggul secara permanen dengan material beton atau bronjong, serta pemantauan tinggi muka air secara real-time. Jika tanggul tidak diperkuat, luapan air akan menghancurkan area pertanian dan hunian dalam skala luas secara tiba-tiba.
Di samping itu, ancaman angin kencang di dataran terbuka sering mengakibatkan pohon tumbang yang membahayakan akses jalan dan jaringan listrik. Solusi praktisnya adalah melakukan pemangkasan dahan secara berkala pada pohon-pohon besar di pinggir jalan utama dan mengganti pohon yang sudah keropos dengan tanaman yang lebih kokoh.
Terakhir, di wilayah pesisir, tantangan yang dihadapi adalah banjir rob yang disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut. Berbeda dengan banjir hujan, rob berkaitan dengan siklus pasang surut dan diperparah oleh penurunan muka tanah.
Penanganan jangka panjang memerlukan pembangunan tanggul laut atau sabuk hijau berupa hutan mangrove untuk memecah energi gelombang dan menahan laju air laut ke daratan.
Melalui integrasi antara perbaikan infrastruktur fisik dan sistem peringatan dini di setiap tingkatan wilayah, risiko kerugian akibat berbagai bencana ini dapat ditekan secara signifikan tanpa harus menunggu peristiwa terjadi.
Penanganan bencana di tingkat kabupaten menuntut sinkronisasi kerja antar-instansi karena sifat bencana yang saling terhubung dari hulu hingga hilir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bertindak sebagai dirigen atau koordinator utama yang menyusun peta rawan bencana dan prosedur tetap penanganan. BPBD bertanggung jawab dalam fungsi komando saat keadaan darurat, namun mitigasi jangka panjang berada pada ranah teknis berbagai dinas terkait.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Diskominfo, Dinas Perikanan dan Kelautan, BAPPEDA, Dinsos, Dinkes. Integrasi data dari seluruh instansi ini dikelola oleh BPBD untuk memastikan bahwa setiap potensi bencana memiliki penanggung jawab teknis yang jelas sebelum, saat, dan setelah peristiwa terjadi.

