Martabak,makanan sejuta umat. Siapa sih yang bisa menolak kehangatan martabak manis di malam hari? Apalagi kalau lagi hujan, ada teh hangat dan mantan baru update story bareng pacar barunya. Martabak menjadi teman yang setia: setebal dosa-dosa kita, semanis harapan yang tak kunjung jadi kenyataan.
Martabak kata para ahli kuliner (atau tukang martabak pinggir jalan yang sudah 20 tahun ngaduk adonan) berasal dari bahasa Arab mutabbaq yang artinya “berlipat” tapi martabak di Indonesia berkembang jadi lebih dari sekadar lipatan. Ia menjelma jadi simbol kebinekaan kuliner. Pada satu sisi ada martabak manis yang tebal sedangkan disisi lain martabak telur yang asin dan gurih. Dua kubu ini mirip seperti pendukung dua capres yang kemarin rame, sama-sama keras kepala kalau sudah soal pilihan.
Kalau di Medan, martabak telur dikasih nama martabak Mesir padahal Mesir asli belum tentu mengakui itu anaknya. Sementara di Bandung dan Surabaya, martabak manis sering disebut terang bulan walau tak ada sangkut pautnya dengan astrologi. Nah kalo di Pontianak, martabak bisa jadi tipis dan garing hampir mirip pizza. Lalu kalo di Solo, martabak bisa jadi ajang eksperimen aneka rupa kreasi dikasih topping keju, Oreo, green tea, sampai abon sapi. Seolah-olah adonan martabak itu kanvas dan topping adalah bentuk ekspresi batin warganet yang bosan hidup normal.
Lebih menarik dari martabak bukan cuma bentuk dan rasanya melainkan sejarah dan sosiologinya. Pada masa kolonial, martabak adalah simbol penyatu warga kampung. Warung martabak jadi tempat orang ngumpul, ngobrol, kadang debat politik receh, kadang ngerumpi soal siapa yang kawin duluan. Dibalik wajan datar, ada panas solidaritas yang membara. Martabak bukan cuma soal makan,ini soal relasi sosial. Martabak adalah Facebook generasi analog.
Seperti halnya martabak, politik Indonesia juga penuh lipatan. Ada adonan yang harus diistirahatkan, ada yang terlalu cepat dibalik jadi gosong. Ada yang dikasih toping banyak padahal bagian bawahnya belum matang dan disinilah kita masuk ke cerita menarik tentang dua tokoh yang seakan lahir dari dapur berbeda tapi sekarang sedang bersinggungan di satu wajan panas bernama panggung nasional.
Gibran Rakabuming Raka,sosok muda anak sulung Presiden ketujuh, mantan pengusaha martabak. Ya, kamu nggak salah baca. Sebelum jadi Wali Kota Solo, dan kemudian mendampingi Prabowo sebagai Cawapres, Gibran lebih dulu dikenal sebagai bos Markobar, martabak Kota Barat. Tempat martabak berubah status dari jajanan kaki lima jadi camilan premium seharga satu galon minyak goreng kalau dulu martabak dinikmati dengan taburan meses murahan, Gibran memperkenalkan konsep martabak rasa red velvet dan Nutella. Seperti politik hari ini: tampilannya modern tapi isinya tetap adonan lama.
Masuknya Gibran ke dunia politik bukan tanpa drama banyak yang bilang, ini warisan. Ini bukan regenerasi, ini regenerasi bersponsor. Gibran masuk panggung nasional dengan kecepatan tinggi seperti adonan yang langsung dimasukkan ke wajan panas tanpa diuleni dulu. Luar garing, dalam mentah tapi karena dapurnya kuat. Sang presiden sendiri yang punya oven,siapa yang berani protes?
Eh, ternyata ada yang berani. Namanya: Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden era Orde Baru seorang veteran. Tokoh yang sudah kenyang makan asam garam politik dan perang. Kalau Gibran anak milenial yang dulu jualan martabak pakai Instagram, Pak Tri adalah analog warrior yang pakai radio HT, sepatu lars dan nyalinya sekeras martabak telur dua lapis.
Beberapa hari lalu, Pak Tri ikut menandatangani tuntutan dari Forum Purnawirawan TNI yang meminta agar Gibran dicopot dari jabatan Wakil Presiden terpilih. Alasannya? Proses pencalonannya dianggap penuh pelanggaran hukum. MK dilihat seperti tukang martabak yang tiba-tiba ngasih topping baru padahal belum disepakati di awal. Pak Tri melihat demokrasi bukan sebagai adonan fleksibel yang bisa dicetak ulang sesuka hati tapi sebagai resep warisan bangsa yang harus dijaga.
Tentu saja ini bikin gaduh,ada yang bilang, “Ah, purnawirawan ini terlalu kolot!” Tapi coba pikir lagi, siapa yang lebih paham soal kedisiplinan dan etika prosedural selain tentara? Kalau Gibran itu martabak modern dengan segala rasa baru, Pak Tri adalah martabak telur klasik yang tak kenal kompromi soal bumbu.
Bayangkan debat mereka dalam analogi martabak:
Gibran: “Bangsa ini butuh inovasi, kita harus berani membuat martabak rasa matcha latte agar menarik generasi Z.”
Pak Tri: “Kalau kamu bikin martabak pakai topping aneh-aneh tanpa konsultasi nanti rakyat sakit perut, demokrasi itu ada SOP-nya.”
Lalu datanglah suara bijak dari tengah wajan, Cak Lontong, sambil mengaduk adonan:
“Kalau pemimpin itu ibarat martabak maka jangan cuma lihat topping-nya tapu lihat isi didalamnya,jangan sampai isinya cuma angin dan harapan palsu.”
Konflik ini sebenarnya lebih dalam dari sekadar topping. Ini soal siapa yang berhak menentukan rasa bangsa. Apakah rasa itu ditentukan oleh popularitas dan kedekatan dengan kekuasaan? Atau oleh prosedur, konsensus, dan sejarah?
Dan ditengah keduanya adalah kita, rakyat yang tetap beli martabak walau harga telur naik. Yang tetap datang ke TPS walau tahu siapa pemenangnya sejak jauh hari. Yang tetap berharap martabak yang kita makan malam ini bisa jadi simbol kecil bahwa negeri ini masih punya rasa.
Martabak itu sederhana tapi ia bisa mengajarkan kita banyak soal politik, jangan terlalu cepat membalik adonan. Jangan terlalu banyak topping kalau dasarnya belum matang dan yang terpenting, jangan biarkan martabak jadi makanan elit. Biarlah ia tetap jadi santapan rakyat karena begitu martabak dijual hanya di mall dengan harga ratusan ribu maka itu bukan lagi martabak. Itu adalah metafora dari negara yang lupa asalnya.
Gibran dan Pak Tri mungkin tak akan sepakat dalam banyak hal tapi kalau mereka mau duduk bareng, makan martabak telor dua butir sambil debat soal konstitusi dan masa depan anak muda, mungkin kita masih punya harapan.
Karena dalam setiap lipatan martabak ada harapan dan dalam setiap harapan semestinya ada rasa keadilan.
Terakhir ya, semoga adonannya nggak kebanyakan soda kue.
Subang ,25 April 2025
Nurizzah wahidah
Pegiat RB Tunas Aksara

