“Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik!”
Kalimat itu bukan ancaman, bukan pula laporan Damkar. Itu pertunjukan. Begitu meluncur dari ingatan, ia terdengar seperti karnaval makhluk hidup lintas zaman dari fauna dapur, mitologi kampung, sampai museum prasejarah. Marahnya panjang, imajinasinya liar, dan sasarannya justru kabur. Inilah makian ala Kasino: kemarahan yang tidak pernah benar-benar ingin melukai, karena terlalu sibuk menghibur. Amarahnya meledak, lalu tertawa pada dirinya sendiri.
Dari sini kita mulai sadar, jangan-jangan makian tidak selalu sejahat reputasinya. Jangan-jangan ia hanya korban salah paham kolektif. Dalam kehidupan sehari-hari, makian dan serapah sering diperlakukan seperti saudara kembar yang tak pernah dibedakan. Padahal mereka beda watak. Serapah itu refleks seperti bersin emosional. Ia keluar saat perasaan tersandung kenyataan. Makian berbeda: ia punya alamat, punya sasaran. Begitu kata-kata diarahkan ke manusia lain, di situlah ia berubah dari luapan menjadi serangan.
Masalahnya, manusia tidak hidup di kamus. Emosi datang lebih dulu, definisi belakangan. Ketika kebijakan terasa menyusahkan, antrean makin panjang, formulir makin banyak, dan logika makin tipis, bahasa halus sering kalah cepat. Tidak semua orang sanggup berkata, “Saya mengalami ketegangan struktural akibat kebijakan publik.” Yang keluar justru umpatan singkat, keras, dan jujur. Secara psikologis, itu katarsis. Secara sosial, itu sinyal: ada yang salah.
Di titik inilah serapah kepada pemerintah sebagai sistem mulai bisa dipahami. Yang disumpahi bukan orangnya, tapi kebijakannya. Bukan wajah pejabatnya, tapi cara kerjanya. Ini penting. Serapah ke kebijakan adalah luapan frustrasi warga; makian ke individu adalah persoalan martabat. Selama yang dimarahi adalah aturan yang ribet, keputusan yang tidak peka, atau sistem yang terasa tuli, serapah berfungsi sebagai jeritan warga, bukan penghinaan personal. Dalam demokrasi, jeritan semacam ini bukan dosa; ia alarm.
Namun bahasa selalu punya risiko. Ketika serapah kehilangan arah, ia mudah berubah jadi gaduh. Ketika kemarahan berhenti menyebut masalah dan mulai menyerang manusia, pesannya runtuh. Ironisnya, kritik paling lemah sering datang dari bahasa paling berisik. Sebaliknya, kritik yang jelas sasarannya meski keras justru lebih sulit diabaikan. Marah itu hak warga tapi mengarahkan marah adalah kecerdasan politik.
Lalu ada wilayah abu-abu yang menarik yakni pertemanan. Di lingkar akrab, makian kadang berubah jadi bahasa kemesraan. Bukan karena kata-katanya mendadak sopan, tapi karena relasinya aman. Dua sahabat bisa saling menyapa dengan bahasa yang bagi orang luar terdengar seperti pembuka duel. Tapi di dalamnya ada tawa, ada kesepahaman, ada sinyal: “Tenang, kita masih di pihak yang sama.” Meski begitu, keakraban bukan kartu bebas. Begitu satu pihak tidak nyaman, semua izin otomatis hangus.
Komedi Warkop DKI khususnya Kasino, memahami batas-batas ini jauh sebelum diskusi etika bahasa jadi bahan seminar. Kasino mempraktikkan makian tanpa korban. Ia menyusun kata-kata kasar seperti puisi absurd. Makin panjang, makin tidak masuk akal. Sasaran menguap, emosi mencair, penonton tertawa. Ini bukan sekadar lucu; ini pelajaran etika bahasa dalam bentuk slapstick. Kasino memaki bukan untuk menang, tapi untuk merayakan kegagalan marah dengan cara yang menyenangkan.
Bandingkan dengan ruang publik hari ini. Ketika rakyat memaki pemerintah karena kebijakannya menyusahkan, sering kali yang keluar adalah campuran antara serapah dan kritik. Secara niat, ia ingin didengar. Secara bentuk, ia ingin cepat. Tantangannya adalah menjaga agar kemarahan itu tetap mengenai sistem, bukan manusia. Karena begitu ia melompat ke penghinaan personal, substansi kritik ikut jatuh. Pemerintah bisa berganti wajah, tapi kebijakan buruk bisa berulang. Menyasar kebijakan berarti menyasar akar, bukan ranting.
Etika bahasa tidak meminta kita jadi manusia tanpa emosi. Ia hanya memberi rambu. Serapah ke keadaan boleh lewat. Serapah ke kebijakan boleh diluapkan. Makian ke teman boleh, asal setara dan dua arah. Yang perlu dihindari adalah merendahkan martabat manusia, karena di situlah bahasa berhenti jadi alat dan mulai jadi senjata.
Pada akhirnya, makian dan serapah hanyalah alat. Bisa jadi palu, bisa jadi alat musik. Bisa merusak, bisa menghibur. Yang membedakan bukan bunyinya, tapi arah dan niatnya. Kita tidak diminta selalu sopan seperti papan pengumuman, hanya diminta sadar bahwa kata-kata meninggalkan jejak.
Mungkin itulah pelajaran paling santai dari makian beruntun ala Warkop: marah boleh, lucu dianjurkan, melukai dihindari. Dan kalau emosi mulai terlalu serius, cukup tarik napas, senyum dikit, lalu gumamkan sambil geleng kepala: gila loe, ndro..
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan

