Di tengah politik Indonesia yang kadang kayak sinetron bulan ramadan penuh drama, air mata dan plot twist mengejutkan. Hadirnya sosok seperti Dedi Mulyadi tuh rasanya kayak nemu angkringan di padang pasir. Seger, murah, dan penuh rasa.
Dedi ini nggak bawa jargon ideologi yang berat-berat juga nggak sibuk tebar pesona di panggung elite Jakarta. Dia lebih suka blusukan bukan dalam artian sekadar selfie sambil kasih bantuan tapi betulan nongkrong bareng warga, ngobrol dan kadang ikut kerja bakti turun ke lapangan bukan cuma demi konten.
Menariknya Dedi nggak datang sendirian secara nilai dalam beberapa kesempatan dia menyebut tokoh-tokoh yang ia kagumi yakni Cak Nur, Gus Dur, Gus Mus, dan Cak Nun. Empat nama ini bukan orang sembarangan mereka bukan sekadar pemikir atau tokoh agama,mereka adalah guru bangsa, penjaga makna dan tukang ngademin jiwa yang lelah hidup di negeri +62.
Cak Nur alias Nurcholish Madjid adalah pelopor pemikiran Islam yang rasional dan progresif. Gagasannya yang legendaris “Islam yes, partai Islam no” masih relevan sampai sekarang buat Cak Nur, agama itu buat menyambung hidup bukan buat rebutan kursi.
Dedi sepertinya nyerap semangat itu dia pindah partai? Iya tapi dia nggak kehilangan arah karena buat dia partai hanyalah kendaraan yang terpenting tujuannya tetap ngurusi rakyat bukan sekadar nambah suara.
Lalu ada Gus Dur , ini bapak bangsa nyeleneh tapi jenius yang belain minoritas saat mayoritas diam yang rela turun dari jabatan demi kebenaran kalau politik adalah panggung, Gus Dur adalah pemain yang nggak takut dilempar tomat asal lakonnya bener.
Dedi juga keliatan pengin jalan di jejak itu dia suka ambil posisi yang nggak populer tapi manusiawi,dia nggak takut mengkritik elite dan tetap nyaman nongkrong bareng rakyat kecil,kadang kayak nggak kelihatan politisi lebih kayak tetangga sebelah yang kebetulan pernah jadi bupati.
Gus Mus, sang penyair yang juga kiai kata-katanya adem seperti teh manis di sore hari nggak meledak-ledak tapi langsung nyentuh hati dia ngajarin kita bahwa agama itu bisa dibawa dengan cinta, bukan caci maki.
Gaya Dedi juga mirip-mirip dalam videonya dia bukan cuma ngasih bantuan tapi juga ngasih wejangan tentang waktu, tentang rezeki, tentang hidup yang kudu sabar dan ikhlas disampaikan pakai bahasa rakyat yang gampang dicerna tanpa harus buka KBBI.
Terus Cak Nun,ini seniman sekaligus ulama punya cara dakwah yang nggak biasa lewat puisi, musik, humor, diskusi tengah malam.Forum Maiyahnya kayak oase spiritual buat banyak anak muda yang mulai alergi sama ceramah kaku.
Nah, Dedi ini kayak murid yang nggak pernah bilang murid dia bangun rumah adat, rawat bahasa ibu dan hormati leluhur. Dia ngerti bahwa membangun bangsa bukan cuma soal APBD tapi soal budaya, soal rasa.
Empat tokoh panutan Dedi ini bukan orang yang doyan panggung mereka lebih suka jalan sunyi nggak rame-rame tapi ngena dan ketika Dedi menyebut mereka sebagai inspirasi itu artinya dia juga sedang menaruh standar tinggi buat dirinya sendiri karena kekaguman pada orang besar sejatinya adalah janji moral kepada rakyat.
Tapi ya, rakyat juga berhak waspada apakah ini murni laku atau cuma strategi citra? apakah Dedi sungguh-sungguh pengin jadi pemimpin yang bernilai atau cuma numpang branding dari aura para guru ?
Zaman sekarang banyak politisi yang jago bikin konten tapi nggak jago bikin keputusan maka langkah Dedi yang nyeleneh dan membumi ini patut diapresiasi tapi tetap harus dikawal supaya nggak berubah arah pas didalem sirkel kekuasaan.
Politik hari ini sudah terlalu banyak kehilangan rasa terlalu banyak yang jago retorika tapi kagok pas disuruh ngasih empati disinilah pentingnya pemimpin yang nggak cuma bisa mikir tapi juga bisa ngerasa yang nggak cuma punya data tapi juga punya jiwa.
Dedi Mulyadi mungkin belum sempurna tapi jejaknya sejauh ini menunjukkan ada upaya untuk jadi beda,beda dari yang lain beda dari politisi umumnya dia adalah eksperimen harapan dan seperti semua eksperimen bisa berhasil bisa juga gagal tapi minimal dia mencoba.
Tulisan ini bukan pujian membabi buta ini semacam catatan bahwa politik bukan cuma soal menang kalah tapi soal nilai bahwa pemimpin kayak Dedi harus diingatkan terus agar tetap ingat jalan yang ia pilih, jalan para guru bangsa.
Seperti kata Cak Nun, politik seharusnya bukan tempat rebutan kekuasaan tapi ladang pengabdian yang penuh kasih. Kalau semua politisi kayak Dedi Mulyadi barangkali kita nggak perlu sering-sering rah-marah di Twitter cukup ngeteh sore sambil nonton video blusukannya dan berharap, “Semoga yang lain segera nyusul waras.”
Subang, 11 April 2025
Nurizza wahidah
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

