SUBANG – Suara gamelan berpadu dengan dentingan kendang jaipong terdengar riuh di penjuru Subang. Irama itu bukan sekadar musik pengiring tari, melainkan detak nadi dari sebuah tradisi yang tak lekang oleh waktu. Di balik setiap hentakan kaki dan lirikan mata para penari, tersimpan denyut ekonomi kreatif yang mengalir ke berbagai penjuru negeri. Itulah semangat yang menghidupkan Festival Tari Jaipongan Kreasi Galuh Pakuan Cup Seri 9 Tingkat Nasional Tahun 2025, yang akan kembali digelar Desember mendatang.
Tak tanggung-tanggung, festival ini diperkirakan menggerakkan perputaran uang hampir Rp100 miliar—tanpa sepeser pun menggunakan dana APBD maupun APBN. Bahkan, selama sepekan pelaksanaan, kegiatan ini mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Subang sekitar Rp4,3 miliar.
Ting Ting dan Cinta pada Jaipongan
Adalah Dewi Kandiaty Paramesti Tine Yowargana, atau akrab disapa Ting Ting, sosok di balik konsistensi festival ini. Sebagai Girang Harta Lembaga Adat Karuhun (LAK) Galuh Pakuan, ia menaruh perhatian besar terhadap pelestarian budaya Sunda, terutama Jaipongan.
“Festival ini bukan hanya ajang tari. Ini ruang hidup bagi ribuan orang — seniman, koreografer, penata rias, penjahit, hingga pelaku UMKM. Kami ingin membuktikan bahwa melestarikan budaya juga bisa menyejahterakan masyarakat,” ujar Ting Ting saat ditemui di Subang, Minggu (9/11/2025).
Visinya sederhana namun berdampak luas: menjaga roh Jaipongan agar tetap hidup di hati generasi muda, sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat melalui kreativitas dan kebersamaan.
Ribuan Penari, Ribuan Cerita
Tahun ini, lebih dari 4.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia telah mendaftar. Di balik angka itu, tersimpan ribuan kisah perjuangan anak-anak muda yang menari dengan sepenuh hati. Setiap gerakan mereka lahir dari jam-jam latihan panjang di sanggar-sanggar tari yang tersebar dari Jawa Barat hingga luar pulau.
Jika rata-rata peserta mengeluarkan biaya latihan Rp200 ribu per bulan selama sebelas bulan, maka total pendapatan sanggar mencapai Rp8,8 miliar. Belum lagi dari pembuatan kostum yang rata-rata menelan biaya Rp2 juta per penari, menghasilkan transaksi sekitar Rp8 miliar.
Lalu ada koreografer yang merancang setiap gerak tubuh menjadi harmoni estetika, dengan tarif rata-rata Rp15 juta per lagu. Bila satu penampilan menampilkan dua lagu dan melibatkan sekitar seribu koreografer, nilai ekonomi yang tercipta bisa mencapai Rp30 miliar.
“Belum termasuk jasa tata rias yang bisa mencapai ratusan ribu rupiah per penari setiap harinya,” ujar Ting Ting. “Bayangkan, dari satu festival, berapa banyak keluarga yang bisa menggantungkan hidupnya.”
Ekonomi Menari Bersama Jaipong
Selama tujuh hari pelaksanaan festival, Subang akan menjadi magnet budaya. Diperkirakan 15 hingga 20 ribu orang akan datang — mulai dari peserta, pendamping, keluarga, hingga wisatawan.
Mereka akan memenuhi hotel, rumah makan, toko cendera mata, dan lapak-lapak UMKM di sekitar lokasi acara. Dengan rata-rata pengeluaran Rp300 ribu per orang per hari, perputaran uang bisa mencapai Rp6 miliar per hari, atau Rp42 miliar selama festival berlangsung.
Sumbangan terhadap PAD pun signifikan: sekitar Rp600 juta per hari, atau Rp4,2 miliar selama sepekan, terutama dari sektor perhotelan, kuliner, dan transportasi.
“Angka-angka itu membuktikan bahwa seni tradisional bukan sekadar warisan budaya. Ia juga bisa menjadi mesin penggerak ekonomi lokal,” kata Ting Ting bangga.
Lebih dari Sekadar Lomba Tari
Namun Festival Galuh Pakuan Cup bukan hanya tentang angka dan penghargaan. Ia juga menjadi wadah prestasi dan pembinaan karakter bagi generasi muda. Pemenang festival akan mendapatkan sertifikat prestasi yang bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan, bahkan untuk seleksi TNI dan Polri melalui jalur prestasi seni.
“Banyak alumni festival kami yang kini berkarier di dunia pendidikan, militer, dan seni profesional. Mereka membawa semangat Jaipongan ke panggung yang lebih luas,” tutur Ting Ting dengan mata berbinar.
Jaipongan, Denyut Jiwa Sunda
Jaipongan lahir dari kreativitas seniman Sunda di era 1970-an, perpaduan antara seni ketuk tilu, pencak silat, dan ronggeng. Kini, melalui Galuh Pakuan Cup, Jaipongan tampil dengan wajah baru: penuh energi muda, namun tetap berpijak pada nilai-nilai adat dan rasa hormat terhadap leluhur.
Festival ini menjadi bukti bahwa warisan budaya bukan benda mati — ia tumbuh, bergerak, dan bertransformasi bersama zaman.
“Selama sembilan tahun kami konsisten menyelenggarakan festival ini. Tujuan kami bukan hanya menjaga seni tari Jaipongan tetap hidup, tapi juga menghidupkan masyarakat di sekitarnya,” ujar Ting Ting menutup pembicaraan.
Dan ketika lampu panggung nanti menyala pada Desember mendatang, ribuan penari akan menari bukan sekadar untuk juara, melainkan untuk merayakan kehidupan — di mana budaya dan ekonomi menari bersama dalam harmoni.

