Nitikan.id – Pergeseran paradigma masyarakat dari mengonsumsi barang ke mengonsumsi pengalaman (experience) telah menempatkan ekonomi rekreasi sebagai tulang punggung baru pertumbuhan ekonomi nasional. Di tahun 2025, sektor ini tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan motor penggerak yang melibatkan jutaan tenaga kerja dan ribuan pelaku UMKM.
Namun, di balik gemerlap konser musik internasional dan tren desa wisata, terdapat tantangan struktural yang perlu diwaspadai.
Peluang ekonomi rekreasi saat ini didorong oleh fenomena “Revenge Travel” pasca pandemi Covid-19 yang telah bertransformasi menjadi gaya hidup permanen.
Berdasarkan data dari World Travel & Tourism Council (WTTC), kontribusi sektor pariwisata dan rekreasi terhadap PDB global diperkirakan terus meningkat rata-rata 5,8% per tahun.
Di Indonesia, peluang ini terlihat jelas pada beberapa sektor.
Pertama, Konser musik dan ajang olahraga internasional menciptakan efek pengganda (multiplier effect) pada okupansi hotel dan jasa transportasi lokal.
Kedua, Permintaan akan wisata berbasis alam meningkat seiring dengan kesadaran lingkungan. Ini membuka peluang investasi pada penginapan ramah lingkungan dan edukasi konservasi.
Ketiga, Penggunaan teknologi Virtual Reality (VR) menciptakan pasar baru bagi generasi digital yang menginginkan kemudahan akses.
Meskipun prospeknya cerah, para ekonom mengingatkan bahwa ekonomi rekreasi adalah sektor yang paling sensitif terhadap guncangan. Berdasarkan laporan International Monetary Fund (IMF) mengenai prospek ekonomi global, ada beberapa risiko yang patut dicermati.
Pertama, rekreasi adalah kebutuhan tersier. Saat inflasi melonjak dan harga bahan pokok naik, anggaran hiburan adalah hal pertama yang dipangkas oleh rumah tangga.
Kedua, kepadatan wsatawan yang tidak terkendali dapat menurunkan nilai estetika dan kualitas ekosistem, yang pada jangka panjang justru mematikan daya tarik ekonomi destinasi tersebut.
Ketiga, fokus berlebih pada rekreasi kelas atas berisiko memicu kecemburuan sosial dan marginalisasi warga lokal jika mereka hanya menjadi penonton dalam perputaran uang yang ada.
Kunci keberhasilan ekonomi rekreasi di masa depan bukan lagi pada kuantitas kunjungan, melainkan pada kualitas dan keberlanjutan. Kita butuh diversifikasi agar tidak hanya bergantung pada satu jenis hiburan saja.
Untuk memaksimalkan peluang, sinergi antara pembangunan infrastruktur digital dan pelestarian aset budaya menjadi mutlak. Risiko ekonomi dapat dimitigasi dengan kebijakan harga yang inklusif serta penguatan rantai pasok lokal agar keuntungan ekonomi tidak lari ke luar daerah.

