Subang, Nitikan.ID – Ibu Een (55), perempuan asal Cililin, Batujajar, Bandung, telah lima tahun terakhir mengais rezeki sebagai pedagang pisang bersama suaminya di Pasar Inpres Pamanukan. Sebelumnya, selama satu tahun, mereka berjualan di Pasar Lama Pamanukan.
Namun sejatinya, dunia jual beli pisang sudah menjadi bagian hidupnya lebih dari dua puluh tahun, yang sebagian besar dijalani di Bandung.
“Saya sudah lama jualan pisang, lebih dari 20 tahun. Dulu di Bandung, sekarang di sini. Namanya juga usaha, ke mana rezeki membawa, di situ kita jalanin,” tutur Ibu Een sambil menata dagangannya.
Pisang yang ia jual dikirim langsung dari Lampung ke Pamanukan untuk menjaga kualitas. Usaha ini juga menjadi jalan hidup keluarganya. Putranya mengikuti jejak yang sama, berdagang pisang di Pasar Inpres Pamanukan meski di lokasi lapak yang berbeda.
Dalam setahun, Ibu Een biasanya hanya sekali pulang ke Bandung, sekadar melepas rindu pada kampung halaman. Ia mengakui, kondisi ekonomi saat ini terasa lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dibandingin sama tahun dulu, sekarang memang lebih berat. Tapi ya dijalani saja. Disabarin, ditelatenin. Yang penting cukup buat makan sehari-hari,” ujarnya pelan.
Dengan tiga orang anak dan lima cucu, Ibu Een memilih tetap berdagang meski usia tak lagi muda. Baginya, kemandirian adalah harga diri.
“Saya masih pengin usaha sendiri. Jangan sampai nyusahin anak-anak. Selama masih kuat, ya berdagang,” katanya dengan mata yang tetap menyimpan semangat.
Keputusan meninggalkan kampung halaman bukan perkara mudah. Namun bagi Ibu Een, mencari nafkah dengan cara yang baik adalah bentuk tanggung jawab hidup yang harus dijalani dengan ikhlas.
“Kita ini orang kecil, cuma pengin cari rezeki yang halal. Jauh dari kampung nggak apa-apa, asal usaha kita baik,” ucapnya.
Kisah Ibu Een menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidup tidak selalu tentang seberapa besar hasil yang diraih, melainkan seberapa kuat kita bertahan dan tetap jujur dalam prosesnya.
Di tengah kondisi yang semakin tidak menentu, kesabaran, ketekunan, dan niat baik sering kali menjadi modal paling berharga. Selama seseorang mau berusaha dan tidak menyerah pada keadaan, harapan akan selalu menemukan jalannya seperti Ibu Een yang terus berdagang, bukan untuk menjadi kaya, tetapi untuk tetap bermartabat.(red)

