Oleh: Hgr Dinandaru shobron
Pegiat rumah baca Tunas Aksara
Pamanukan
Ada luka yang tidak pernah sembuh dalam tubuh jurnalisme Indonesia. Luka itu bernama Udin. Sekarang, luka itu berdarah lagi dengan nama lain: Harun.
Dua jurnalis, dua masa berbeda tapi keduanya menghadapi satu musuh yang sama yakni kekuasaan yang takut pada kebenaran.
Suatu malam di bulan Agustus 1996, Udin, wartawan harian Bernas Yogyakarta diserang oleh orang tak dikenal di depan rumahnya. Ia koma dan meninggal beberapa hari kemudian. Sebelumnya, ia tengah menggarap laporan investigatif tentang dugaan korupsi Bupati Bantul.
Dalam masa Orde Baru, ketika pers dikekang, keberanian seperti itu dianggap pengkhianatan. Udin dibungkam bukan karena ia salah menulis tapi karena tulisannya benar.
Goenawan Mohamad pernah menulis, “Pers yang bebas adalah tempat di mana kata ‘tidak’ masih mungkin diucapkan tanpa rasa takut.”
Namun di masa itu, kata “tidak” bisa berujung pada kematian. Begitulah Udin wafat, sebagai simbol bahwa kebenaran selalu punya harga.
Dua puluh delapan tahun berlalu. Indonesia berubah wajah: pers bebas, media menjamur, dan UU Pers lahir tapi tiba-tiba dari Subang, muncul nama Harun, jurnalis media online yang dilaporkan ke polisi setelah menulis berita yang dianggap “mengganggu.”
Kasus ini tidak berdarah tapi terasa getir ditengah gegap gempita demokrasi digital, pelaporan terhadap wartawan karena karya jurnalistiknya menunjukkan satu hal: kekuasaan bisa berganti tapi naluri membungkam tetap hidup.
Dulu wartawan diserang dengan pentungan namun kini dengan pasal.Dulu mereka diintimidasi secara fisik, kini melalui UU ITE dan tekanan sosial tapi tujuannya tetap sama yakni membuat pena berhenti menulis.
Goenawan Mohamad juga pernah mengingatkan, “Kekuasaan selalu ingin menulis ulang kenyataan.”
Kalimat itu kini terasa relevan kembali. Baik dalam kisah Udin maupun Harun, kekuasaan mencoba mengatur bukan hanya kehidupan rakyat, tapi juga narasi kebenaran.Siapa yang menulis, apa yang boleh diberitakan dan bagaimana publik boleh tahu semua ingin dikontrol.
Namun jurnalisme sejati lahir dari keberanian menolak dikontrol karena tugas wartawan bukan melayani kekuasaan, melainkan menyinari ruang gelap tempat rakyat tidak bisa melihat apa yang terjadi atas nama mereka.
Perjalanan dari Udin ke Harun seperti perjalanan bangsa ini dari pentungan ke algoritma.Kekuasaan hari ini tidak selalu membungkam dengan cara kasar; kadang cukup dengan laporan polisi, penggiringan opini, atau pembunuhan karakter di media sosial.Kekerasan berganti wajah, tapi tujuannya tetap satu: membuat kebenaran kehilangan suara.
Namun seperti kata Goenawan, “Kata-kata tidak bisa dibunuh, hanya bisa ditunda.”
Dan setiap kali satu jurnalis dibungkam, akan lahir seribu pena lain yang menulis dengan keberanian yang sama.
Udin dan Harun adalah pengingat bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, tapi ibadah sosial pekerjaan menjaga nurani publik agar tetap hidup.Ketika masyarakat takut bicara, wartawanlah yang menuliskannya.Ketika rakyat diam karena tekanan, wartawanlah yang menyalakan suaranya.
Mereka bukan musuh negara, melainkan pengingat agar negara tidak menjadi musuh rakyat.
Kasus kematian Udin tak pernah menemukan keadilan. Kini, kasus pelaporan Harun memperlihatkan bahwa sejarah masih mengulang bab yang sama: keberanian dihadapkan pada kuasa.Mungkin bentuknya berbeda tapi inti persoalannya tetap sama yakni kebenaran dianggap ancaman, bukan pencerahan.
Kita boleh berganti rezim, berganti wajah pemimpin, berganti slogan demokrasi tapi selama masih ada wartawan yang ditakut-takuti karena menulis, maka roh orde baru masih bergentayangan di republik ini.
Udin dan Harun adalah dua bab dalam kitab yang sama, kitab tentang perlawanan pena terhadap kekuasaan. Selama masih ada pembaca yang mau mengingat, jurnalisme tak akan mati.
Ketika jurnalis ditakut-takuti, yang sesungguhnya terancam bukan kebebasan pers tapi kebebasan kita semua untuk tahu dan berpikir.
Udin telah gugur, Harun kini diuji dan entah siapa berikutnya.
Akan tetapi selama masih ada yang menulis dengan nurani, Indonesia belum kehilangan arah.
Goenawan Mohamad menulis, “Yang paling berbahaya bukanlah penguasa yang lalim tapi rakyat yang membiarkan kelaliman menjadi kebiasaan.”
Maka, menolak lupa terhadap Udin dan bersuara untuk Harun bukan sekadar solidaritas terhadap jurnalis, melainkan bentuk cinta pada republik ini.

