Nitikan.id,Opini – Setiap Ramadan, umat Islam di seluruh dunia memperingati Nuzulul Quran—peristiwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad ﷺ. Namun, ada satu pertanyaan yang sering luput dari perhatian: apakah Al-Qur’an benar-benar sudah “turun” dalam kehidupan kita, atau hanya sekadar menjadi peristiwa sejarah yang kita kenang setiap tahun?
Para ulama memiliki beragam perspektif dalam memahami makna Nuzulul Quran. Jika kita mendengarkan penjelasan Gus Mus, Gus Baha, Ustadz Adi Hidayat, Dr. Fahruddin Faiz, dan Cak Nun, kita akan menemukan bahwa Nuzulul Quran bukan sekadar tentang wahyu yang turun dari langit, tetapi juga tentang bagaimana kita menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca dan dilombakan tartilnya, tetapi harus benar-benar meresap dalam diri kita. Ia mengkritik fenomena di mana banyak orang rajin membaca Al-Qur’an tetapi masih berperilaku jauh dari ajarannya.
“Kalau Al-Qur’an hanya kita turunkan di bibir, di dinding masjid, di podium ceramah, tetapi tidak turun ke hati dan perbuatan kita, apakah itu masih bisa disebut sebagai petunjuk?” tanya Gus Mus dalam salah satu ceramahnya.
Ini mengingatkan kita bahwa Nuzulul Quran bukan sekadar perayaan, tetapi ajakan untuk bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam sikap dan tindakan kita?
Gus Baha, ulama yang dikenal dengan kedalaman ilmu tafsirnya, menekankan bahwa turunnya Al-Qur’an adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia. Dalam berbagai ceramahnya, beliau sering mengulang pesan bahwa Al-Qur’an bukan untuk menyulitkan hidup, tetapi justru memudahkan manusia memahami kehidupan.
Beliau juga menegaskan bahwa memahami Al-Qur’an tidak boleh asal tafsir. Banyak orang merasa cukup dengan membaca terjemahan, tanpa mau belajar dari ulama yang kompeten. Akibatnya, ayat-ayat sering digunakan untuk kepentingan politik atau membenarkan kebencian, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ustadz Adi Hidayat (UAH) sering menjelaskan bahwa Al-Qur’an turun dalam dua tahap:
Pertama,dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar.
Kedua,secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama 23 tahun.
Penjelasan ini selaras dengan Tafsir Jalalain, yang menafsirkan ayat-ayat seperti Al-Qadr (97:1), Al-Baqarah (2:185), dan Ad-Dukhan (44:3) sebagai bukti bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar.
Namun, yang lebih penting dari sejarah turunnya adalah bagaimana kita menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan modern. UAH sering menekankan bahwa membaca Al-Qur’an saja tidak cukup—kita harus menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan bahkan politik.
Sebagai akademisi filsafat Islam, Dr. Fahruddin Faiz melihat Nuzulul Quran sebagai momen kesadaran spiritual. Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya turun dalam bentuk teks, tetapi juga harus turun dalam kesadaran manusia.
“Banyak orang membaca Al-Qur’an, tetapi apakah mereka benar-benar memahami bahwa ini adalah wahyu dari Tuhan? Atau hanya sekadar ritual tanpa makna?” katanya dalam salah satu kajiannya.
Menurutnya, memahami Al-Qur’an tidak bisa dilakukan secara sekadar harfiah. Ada makna-makna yang lebih dalam yang membutuhkan renungan dan kesadaran batin.
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sering mengkritik bagaimana umat Islam sering memperingati Nuzulul Quran secara seremonial tanpa membumikan ajarannya. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab suci yang dibaca saat acara keagamaan, tetapi juga panduan bagi kehidupan sosial dan kebangsaan.
Menurutnya, banyak orang mengklaim mencintai Al-Qur’an, tetapi masih mempraktikkan ketidakadilan, korupsi, dan kebencian terhadap sesama. Baginya, jika kita benar-benar memahami makna Nuzulul Quran, maka seharusnya kita bertanya:
“Apakah nilai-nilai Al-Qur’an sudah turun ke dalam cara kita memimpin, bekerja, dan berinteraksi dengan sesama?”
Dari perspektif para ulama ini, kita bisa mengambil satu benang merah: Nuzulul Quran bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi harus menjadi peristiwa dalam kehidupan kita setiap hari.
Gus Mus mengajak kita merenungkan apakah Al-Qur’an sudah benar-benar kita amalkan.
Gus Baha mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah rahmat, bukan alat untuk menghakimi orang lain.
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bagaimana wahyu turun dalam dua tahap, tetapi lebih penting lagi adalah bagaimana kita mengambil pelajaran darinya.
Dr. Fahruddin Faiz menekankan bahwa Al-Qur’an harus turun ke dalam kesadaran kita.
Cak Nun mengajak kita membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Jadi, di bulan Ramadan ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah Al-Qur’an hanya turun di lembaran mushaf, atau sudah benar-benar turun dalam hati dan perbuatan kita?
Karena pada akhirnya, peringatan Nuzulul Quran bukan hanya tentang mengenang turunnya kitab suci, tetapi juga tentang bagaimana kita menjadikannya sebagai petunjuk hidup yang nyata.
Subang,17 Maret 2025
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

