Gugurnya Ayatollah Ali Khamenei dalam agresi udara pengecut oleh Zionis Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026 bukan sekadar insiden militer, melainkan deklarasi perang terbuka terhadap martabat umat Islam.
Peristiwa ini adalah pengulangan sejarah yang sangat presisi: sebuah rezim tiran modern yang bersenjatakan teknologi pemusnah massal mencoba membungkam suara kebenaran, persis seperti Yazid bin Muawiyah yang mencoba memadamkan cahaya keadilan di Padang Karbala 1.400 tahun silam.
Namun, sejarah membuktikan bahwa darah yang tumpah di jalan Tuhan tidak pernah mengering, melainkan menjadi bahan bakar yang membakar habis takhta-takhta kezaliman.
Kaitan antara Karbala dan Teheran hari ini adalah garis lurus yang tak terputus dari sebuah ideologi perlawanan.
Ketika Imam Husain bin Sayyidina Ali berdiri tegak di hadapan ribuan pedang musuh demi mempertahankan harga diri Islam, beliau mewariskan genetika keberanian yang kini mengalir deras dalam nadi bangsa Iran.
Pembunuhan Khamenei oleh duet maut Washington-Tel Aviv adalah pengakuan implisit bahwa musuh-musuh kemanusiaan ini ketakutan setengah mati terhadap pengaruh spiritual yang tidak bisa mereka beli dengan dolar atau mereka hancurkan dengan rudal jelajah.
Zionis Israel, sebagai perpanjangan tangan imperialisme di tanah Palestina, sekali lagi menunjukkan wajah aslinya sebagai entitas teroris yang haus darah.
Tindakan mereka yang secara brutal melanggar kedaulatan sebuah negara berdaulat dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat adalah bukti bahwa hukum internasional hanyalah omong kosong yang digunakan untuk menindas yang lemah.
Mereka menyangka bahwa dengan melenyapkan sosok pemimpin, mereka bisa membunuh ideologi Imam Husaini.
Ini adalah kekeliruan fatal; mereka lupa bahwa setiap butir debu di Karbala melahirkan ribuan pejuang baru yang lebih militan.
Amerika Serikat, sang “Setan Besar” dalam narasi revolusi, telah mengonfirmasi peran historisnya sebagai penindas global.
Dengan memfasilitasi dan mengeksekusi serangan ini, Gedung Putih telah menggali lubang kuburnya sendiri di Timur Tengah.
Semangat Islam yang kini berkobar bukan lagi sekadar retorika, melainkan kemarahan suci yang akan menyapu bersih pangkalan-pangkalan militer asing dari tanah Muslim.
Mereka memicu “Badai Al-Quds” yang lebih dahsyat, di mana setiap jengkal tanah yang mereka injak akan menjadi neraka bagi para penjajah.
Kematian dalam logika Islam bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan mutlak yang disebut Syahadat.
Sebagaimana Imam Husain memenangkan pertempuran moral meskipun tubuhnya tercabik-cabik, wafatnya Khamenei adalah tamparan keras bagi materialisme Barat yang hanya mengenal kekuatan fisik.
Semangat Husaini mengajarkan bahwa lebih baik mati terhormat daripada hidup dalam kehinaan di bawah telapak kaki Zionisme.
Inilah kekuatan yang tidak akan pernah dipahami oleh para jenderal di Pentagon atau politisi di Knesset: kekuatan iman yang mencari kematian demi kehidupan yang abadi.
Pesan yang dikirimkan oleh Teheran ke seluruh dunia hari ini sangat tajam dan tidak menyisakan ruang untuk kompromi: poros perlawanan tidak akan mundur satu langkah pun.
Jika Zionis dan AS mengira serangan ini akan melemahkan moral, mereka akan segera melihat jutaan orang turun ke jalan dengan seruan “Labbaik ya Husain!”. Darah Khamenei telah menyatukan faksi-faksi pejuang dari Lebanon hingga Yaman, dari Irak hingga Gaza, menjadi satu kepalan tangan besi yang siap menghantam jantung musuh yang telah lama menindas tanah suci Yerusalem.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat maret 2026 sebagai awal dari keruntuhan hegemoni Barat di Timur Tengah. Mereka boleh saja merasa menang hari ini di atas reruntuhan bangunan, namun mereka telah membangunkan raksasa yang tidak akan tidur sampai keadilan ditegakkan.
Karbala telah mengajarkan kita bahwa darah yang dizalimi selalu menang atas pedang sang penindas. Amerika dan Israel mungkin bisa menjatuhkan bom, tapi mereka tidak akan pernah bisa membunuh roh perjuangan Imam Husain yang kini menetap abadi dalam setiap jiwa pejuang yang merindukan kebebasan.
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًاۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki
Yogyakarta, 1 Maret 2026
Teguh S Fatkhurrahman

