Subang, Nitikan.id – Isu dugaan ijazah palsu mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, kembali mencuat ke permukaan. Politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sekaligus aktivis era reformasi, Bambang Beathor Suryadi, menyatakan akan mengambil langkah serius dalam mengungkap kebenaran atas tuduhan tersebut.
Dalam pernyataannya kepada media pada Minggu, 6 Juli 2025, di Karaton Galuh Pakuan, Subang, Beathor mengungkapkan rencananya membentuk tim investigasi untuk menelusuri dugaan pemalsuan ijazah Jokowi. Salah satu langkah yang dinilainya paling konkret adalah dengan mengajukan autopsi terhadap jenazah almarhum Hari Mulyono—adik ipar Jokowi—yang disebut-sebut memiliki keterkaitan langsung dengan dokumen pendidikan tersebut.
“Kami akan bentuk tim dalam upaya mengungkap fakta mengenai ijazah palsu ini. Langkah paling konkret adalah dengan melakukan autopsi terhadap jenazah Hari Mulyono,” ujar Beathor.
Beathor menyebut bahwa berbagai kalangan, termasuk sejumlah peneliti dan ahli independen, menduga bahwa pemilik sah ijazah Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang digunakan Jokowi adalah Hari Mulyono.
“Banyak ahli yang menyatakan bahwa foto-foto wisuda yang beredar justru menunjukkan sosok Hari Mulyono, bukan Jokowi,” tambahnya.
Tak hanya itu, Beathor juga menyiratkan adanya dugaan rekayasa di balik kematian Hari Mulyono. Ia menyebut kematian Hari—yang terjadi di usia muda—sebagai bagian dari upaya sistematis untuk menghilangkan jejak masa lalu Presiden Jokowi.
“Kita lihat pola-pola kematian beberapa tokoh muda seperti Ketua KPU Husni Kamil Manik, aktivis HAM Munir, dan kini adik ipar Jokowi. Saya yakin ada dalang di balik semua itu. Ini bukan kematian biasa, tapi diduga ada pemufakatan jahat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Beathor menyebut kemungkinan adanya keterkaitan antara dugaan pembunuhan terhadap Munir dan kematian Hari Mulyono. Ia bahkan menyarankan agar dilakukan pemeriksaan toksikologi guna mengetahui apakah ada jejak racun arsenik seperti yang ditemukan dalam tubuh Munir.
“Jika dalam autopsi ditemukan zat beracun seperti arsenik, sebagaimana yang terjadi pada almarhum Munir, saya percaya dalangnya bisa jadi adalah orang yang sama,” ujar Beathor.
Pernyataan ini tentu menambah kontroversi dalam polemik ijazah Presiden Jokowi, yang sebelumnya telah dibantah langsung oleh pihak Istana dan berbagai institusi pendidikan, termasuk UGM.

