Nitikan.id – Banyak tinta tertumpah dan kata terucap mengenai keheningan, namun tidak menyentuh esensi. Keheningan mengandung pesan yang jika ditafsirkan akan menyingkap akar ketidakadilan dan dehumanisasi.
Meskipun kata-kata mungkin penuh dengan makna, keheningan bukan berarti tanpa tujuan. Secara terminologi, ini terlihat seperti sebuah oksimoron, tetapi jauh dalam lubuk hati ada makna yang biasanya diabaikan.
Keheningan adalah cara paradigmatik untuk mentransmisikan emosi tertentu yang, dalam beberapa kasus tidak dapat dipahami, tidak dikenali, atau tidak diperhatikan melalui gerakan verbal. Jika kata-kata bergema dengan partisipasi, diam adalah simbol protes. Jika berbicara adalah bentuk komunikasi dengan sekitar, diam adalah keluhan yang kuat kepada yang Penguasa Alam. Jika kata-kata adalah lidah penindas, diam adalah dendam kaum yang malang.
Ketika jeritan ketidakadilan tidak dihiraukan, kaum tertindas berlindung pada kesunyian. Penderitaan, ketidakberdayaan, dan kebencian orang miskin sering menyamar sebagai keheningan. Itu adalah manifestasi dari kekejaman terhadap yang tertindas dan pengakuan yang sama oleh penindas. Oleh karena itu, kesunyian orang yang tidak berdaya penuh dengan pertanyaan, sedangkan kesunyian orang yang diberdayakan penuh dengan jawaban.
Tamsil, ketidakberuntungan anak kecil bertelanjang kaki yang menggigil kedinginan penuh dengan pertanyaan dalam benaknya mengapa ia tidak seperti anak kebanyakan, ditakdirkan untuk mengalami nasib kekurangan yang sistematis. Linangan air dari mata seorang ibu yang menyaksikan putranya yang bertelanjang kaki. Menyesakkan dada. Bergeming dalam hening.
Keheningan yang membunuh sebelum bunuh diri adalah teguran keras terhadap lingkungan sosial yang mengecilkan hati, menghakimi, dan menghinakan. Keheningan dari seorang pemulung menggambarkan pertempuran sengit antara kesadarannya yang mengutuk dan anak-anak yang berteriak sekarat karena kelaparan. Keheningan kaum marjinal menjadi makian keras bagi para diktator status quo.
Namun siapa yang peduli tentang keheningan ketika bahkan teriakan orang tertindas dan kelaparan tidak dapat menggugah hati nurani penguasa? Masih diragukan apakah penggunaan kata ‘hati nurani’ relevan untuk orang yang berhati dingin dan tidak bertanggung jawab. Bukankah tidak ada gunanya juga untuk menunjukkan pesan yang dihasilkan oleh kesunyian? Bisa jadi.
Sebagai makhluk intelektual, emosional, dan spiritual, kita perlu memperhatikan makna yang disiratkan oleh kesunyian seseorang lalu mencitrakan dan mengimplementasikannya demi kebaikan umat manusia dan kemanusiaan yang lebih besar.
Subang, 27 Desember 2022.

