Subang, Nitikan.id – Kepulangan jemaah haji asal Indonesia terus berlangsung dalam beberapa pekan terakhir, termasuk jemaah asal Kabupaten Subang. Kloter 8 asal Subang dijadwalkan tiba kembali di Tanah Air dalam beberapa hari ke depan.
Menyikapi lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah negara, Kementerian Kesehatan RI mengimbau seluruh jemaah haji untuk tetap waspada. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, dr. Maxi, pun mengeluarkan sejumlah imbauan terkait potensi penyebaran Covid-19.
“Memang saat ini kasus Covid-19 sedang meningkat di beberapa wilayah Eropa seperti Inggris, Yunani, dan Turki, serta beberapa negara Asia seperti Thailand, Singapura, dan Hong Kong. Namun, di Arab Saudi sendiri tidak ditemukan lonjakan signifikan, sehingga situasi relatif aman,” ujar dr. Maxi kepada awak media, Selasa (17/6/2025).
Meskipun demikian, proses skrining tetap dilakukan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) setibanya jemaah di Bandara. Jemaah yang terindikasi mengalami gejala seperti Influenza-Like Illness (ILI) maupun Severe Acute Respiratory Infection (SARI) akan mendapatkan perhatian khusus dari petugas kesehatan kloter dan KKP, bahkan dapat dikarantina bila diperlukan.
Untuk pengawasan di tingkat daerah, Dinas Kesehatan Subang akan menerapkan Prosedur Pengawasan Kesehatan Jemaah Haji (K3JH) selama 14 hari setelah jemaah tiba di daerah asal.
“Kami akan melakukan pengawasan ketat terhadap kesehatan para jemaah. Setiap Puskesmas di kecamatan sudah memiliki petugas haji yang akan melakukan pemantauan. Jika ditemukan gejala, akan dilakukan penanganan lebih lanjut,” jelas dr. Maxi.
Ia menambahkan, hingga Selasa (17/6/2025), Kabupaten Subang masih tercatat nihil kasus Covid-19. “Saat ini Subang masih zero case, namun kami tetap waspada dan terus melakukan pemantauan,” tegasnya.
dr. Maxi juga menginformasikan bahwa varian Covid-19 yang saat ini terdeteksi di Indonesia adalah varian MB.1.1. “Varian ini tergolong ringan dan tidak terlalu ganas. Bagi masyarakat yang sudah menerima vaksin Covid-19, perlindungannya sudah mencukupi,” tambahnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa ketersediaan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) seperti rapid test saat ini cukup terbatas.
“Kami baru mengajukan permohonan ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melalui perubahan APBD. Jika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), akan kami anggarkan secara mandiri. Terbatasnya produksi rapid test juga karena saat ini belum terjadi wabah besar,” tuturnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga Juni 2025 tercatat sebanyak 179 kasus Covid-19 di seluruh Indonesia sepanjang tahun ini.

