Oleh: Niskala Mulya Rahadian Fathir,
Rakean Galuh Pakuan
Apa kabar, Pak Bupati Subang? Sebuah pertanyaan sederhana namun sarat makna untuk Reynaldy Putra Andita Br., pemimpin muda yang kini duduk di kursi tertinggi pemerintahan Kabupaten Subang. Namun, di balik harapan akan lahirnya pemimpin progresif dan bersih, muncul sejumlah keprihatinan yang patut dikritisi.
Bayang-Bayang Masa Lalu: Birokrasi di Ujung Tanduk
Salah satu sorotan tajam datang dari kedekatan sang Bupati dengan mantan Bupati yang pernah tersangkut kasus korupsi. Munculnya sosok tersebut di berbagai kesempatan resmi pemerintahan menimbulkan tanda tanya besar: Apakah ini bentuk pembiaran terhadap praktik masa lalu yang mencederai kepercayaan publik? Rakyat tentu tidak ingin sejarah kelam diulangi, apalagi jika pelaku utamanya kembali berada di lingkar kekuasaan. Ini bukan hanya soal simbolik, tapi pesan moral yang keliru—seolah mengatakan, “korupsi bisa dimaafkan asal punya kedekatan.”
Bupati atau Anak Mami?
Lebih memprihatinkan lagi, rumor yang merebak di tengah masyarakat adalah kuatnya campur tangan sang ibu dalam urusan pemerintahan. Nama besar sang ibu memang tak terbantahkan di Subang, namun ketika pengaruh itu justru mereduksi independensi sang Bupati, rakyat pun patut gusar. Istilah “anak mami” tak sekadar guyonan, melainkan kritik tajam atas lemahnya kepemimpinan yang cenderung berlindung di balik sosok keluarga. Jangan sampai, keputusan strategis daerah justru lahir dari ruang makan keluarga, bukan dari ruang rapat pemerintahan.
Lembaga Adat, Seminar Internasional, dan Arogansi Kuasa
Kekecewaan publik makin menjadi ketika sebuah lembaga adat mencoba membuka peluang investasi internasional lewat seminar, namun kehadiran sang Bupati justru nihil. Lebih tragis lagi, muncul kabar bahwa sang ibu mencoba mengintervensi acara tersebut dan menyebut lembaga adat sebagai “ormas tak tahu malu”. Ini bukan hanya bentuk pelecehan terhadap kearifan lokal, tapi juga pengkhianatan terhadap upaya masyarakat membangun daerahnya sendiri.
Seorang pemimpin seharusnya merangkul, bukan mencibir. Mengapresiasi, bukan mencurigai. Mendorong inisiatif rakyat, bukan mengintimidasi. Jika pemimpin justru menjadi penghalang gerak maju masyarakatnya, maka itu bukan kepemimpinan—itu penyimpangan.
Catatan Akhir: Berdirilah Sendiri, Kang Bupati
Saya ingin mengingatkan, Kang Bupati, bahwa kursi yang Anda duduki bukan warisan, melainkan amanah. Jangan biarkan bayang-bayang ibu atau kroni lama membajak kemandirian Anda. Berdirilah di atas kaki sendiri, buktikan bahwa Subang tak salah memilih Anda. Rakyat menanti pemimpin yang kuat, bukan pemuda yang gamang memimpin.
Subang butuh Bupati, bukan “anak mami”.


Betul sekali jangan sampai karena kedekatan pemimpin yang dulu tersangkut korupsi di kabupaten ini kembali ikut andil dalam mengambil kebijakan yang tidak pro rakyat