Jakarta, Nitikan.id — Bank Dunia mengungkapkan bahwa lebih dari separuh penduduk Indonesia masih hidup dalam kemiskinan berdasarkan standar internasional negara berpendapatan menengah-atas. Dalam laporan Macro Poverty Outlook April 2025, disebutkan bahwa 60,3% warga—setara 172 juta jiwa dari total 285,1 juta penduduk—memiliki pengeluaran di bawah US$6,85 per hari (sekitar Rp115.278 per hari).
Indonesia resmi menjadi negara berpendapatan menengah-atas sejak Juli 2023. Namun, status baru ini membuat standar kemiskinan yang digunakan menjadi lebih tinggi. Meski demikian, kemajuan signifikan dicapai dalam mengatasi kemiskinan ekstrem: hanya 0,2% warga Indonesia yang masih hidup di bawah garis ekstrem (US$2,15 per hari atau Rp36.203).
Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 4,8% hingga 2027, didukung konsumsi rumah tangga dan investasi lewat Badan Pengelola Investasi Danantara. Namun, tantangan tetap ada: ketidakpastian global dan harga komoditas bisa menghambat pertumbuhan. Tingkat kemiskinan berdasarkan standar negara berpendapatan menengah-bawah (US$3,65 per hari) diprediksi turun menjadi 11,5% pada 2027.
Sementara itu, utang publik Indonesia diperkirakan naik dari 29,2% menjadi 40,1% dari PDB pada 2025. Kenaikan ini disebabkan belanja besar-besaran pemerintah, termasuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Defisit fiskal diprediksi mencapai 2,7% dari PDB—lebih tinggi dari target awal 2,53%.
Bank Dunia menekankan pentingnya reformasi struktural, penciptaan lapangan kerja kelas menengah, serta kehati-hatian dalam kebijakan fiskal dan moneter untuk memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

