Di antara kelap-kelip lampu catwalk dan blitz kamera para fotografer dunia, berdiri seorang perempuan berkulit sehitam malam. Namanya Nyakim Gatwech. Lahir dari keluarga pengungsi Sudan Selatan yang melarikan diri dari perang, hidupnya tidak pernah mudah. Bahkan ketika ia menetap di Amerika negara yang katanya menjunjung kebebasan yang ia temui bukan pelukan, melainkan ejekan.
Sejak kecil, Nyakim telah diberi label: “terlalu hitam,” “tak cantik,” bahkan “menakutkan.” Ia pernah ditanya oleh supir Uber: “Apakah kamu akan memutihkan kulitmu suatu hari nanti?” Pertanyaan itu menyakitkan tapi juga membuka pintu kesadaran. Dunia telah begitu dalam menanamkan standar kecantikan yang sempit, rasis dan menindas. Hebatnya, dihadapan itu semua, Nyakim mengambil keputusan penting: ia tidak akan tunduk.
Ia memilih untuk menantang stigma, bukan meratapinya. Ia berdiri gagah di atas panggung fashion bukan untuk sekadar tampil tapi untuk menyuarakan: bahwa perempuan sepertinya layak mendapat ruang. Bahwa kulit hitam bukan cacat tapi keindahan,bahwa standar kecantikan yang selama ini diagungkan tidak universal bahkan diskriminatif.
Di Instagram, Nyakim menulis kutipan sederhana: “Black is bold. Black is beautiful. Black is everything.” Kalimat itu viral ,tidak hanya karena puitis tapi karena mewakili luka kolektif banyak perempuan yang merasa tidak cukup hanya karena tak sesuai dengan “template” kecantikan media.
Apa yang diperjuangkan Nyakim adalah emansipasi personal: pembebasan diri dari kungkungan citra, opini, dan tekanan sosial. Ia tak sedang melawan lelaki, tak sedang menuntut tahta. Ia hanya ingin menjadi manusia yang dihargai bukan karena putihnya kulit atau rampingnya pinggang tapi karena ia utuh sebagai dirinya sendiri.
Namun perjuangan ini bukan jalan yang mulus. Dalam setiap pemotretan, dalam setiap wawancara bahkan dalam setiap komentar di media sosialnya selalu ada bisik-bisik sinis yang mencoba menggoyahkan keyakinannya. Nyakim paham, setiap langkahnya bukan hanya tentang dirinya. Ia sedang membawa suara perempuan kulit gelap yang selama ini dibungkam oleh iklan pemutih dan majalah mode.
Dalam banyak wawancara, Nyakim menyebut ibunya sebagai inspirasinya. Sang ibu adalah sosok tangguh yang membesarkannya di pengungsian yang mengajarinya untuk tidak pernah malu menjadi orang Afrika, menjadi perempuan, menjadi berbeda. Dari ibunya, ia belajar bahwa keindahan bukanlah satu warna tapi keberagaman.
Emansipasi yang diperjuangkan Nyakim bersifat eksistensial. Ia tidak turun ke jalan membawa spanduk tapi kehadirannya sendiri di ruang publik sudah merupakan bentuk perlawanan. Ketika kamera mengabadikan senyum percaya dirinya, ketika follower-nya membaca pesan-pesan afirmatifnya, ketika gadis-gadis muda berkulit gelap melihat dirinya dan berkata, “Aku juga cantik,” maka perjuangannya menjadi nyata.
Dan disinilah, kisah ini menemukan cerminnya dalam sejarah kita sendiri. Karena jauh sebelum Nyakim berdiri di panggung New York Fashion Week, seorang perempuan muda dari Jepara tanpa media sosial, tanpa sorotan kamera. Menulis surat kepada sahabatnya di Belanda dengan nada yang tak kalah lantang. Namanya: Raden Ajeng Kartini.
Kartini hidup dalam dunia yang membatasi perempuan untuk sekadar bermimpi. Pada masa itu, gadis bangsawan harus masuk pingitan sejak puber. Tak boleh sekolah, tak boleh bergaul, apalagi bicara soal cita-cita tapi Kartini gelisah. Ia membaca buku-buku, menulis surat-surat dan menyusun pikiran-pikiran tentang kebebasan, pendidikan dan harga diri perempuan. “Habis Gelap, Terbitlah Terang,” tulisnya. Sebuah frasa yang lahir bukan dari seminar motivasi tapi dari perlawanan sunyi seorang perempuan yang pikirannya terlalu luas untuk dikurung dinding tradisi.
Kartini mungkin tak pernah membayangkan namanya akan menjadi simbol perjuangan perempuan di negeri ini tapi ia telah menanam benih. Hingga benih itu kini tumbuh dalam wajah-wajah perempuan Indonesia yang menjadi guru, petani, seniman, dokter, dan pemimpin. Benih yang sama, meski mungkin tumbuh dalam tanah yang berbeda, juga bisa kita lihat pada langkah-langkah Nyakim yang berani.
Perjuangan keduanya bertemu pada titik yang sama: kesadaran bahwa perempuan berhak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahwa perempuan tidak dilahirkan untuk menjadi bayang-bayang, melainkan cahaya yang menyala dengan caranya sendiri.
Kartini dan Nyakim tidak lahir dalam era yang sama. Tidak satu bangsa, tidak satu budaya tapi keduanya dipertemukan oleh satu napas perjuangan: emansipasi. Sedangkan emansipasi bukan melulu soal melawan lelaki atau merobohkan tatanan. Emansipasi adalah hak untuk menjadi manusia seutuhnya dengan mimpi, dengan pilihan, dan dengan kebanggaan atas identitas diri.
Di zaman ini, banyak yang mengira perjuangan perempuan sudah selesai. Toh, perempuan sudah boleh sekolah, bekerja, bahkan menjadi presiden tapi tantangan hari ini justru lebih halus, lebih licik: standar kecantikan yang menyesatkan, tekanan media sosial, hingga budaya kerja yang masih bias gender. Di sinilah, semangat Nyakim dan Kartini tetap relevan karena keduanya mengajarkan kita untuk berdiri tegak di tengah tuntutan dunia yang ingin kita tunduk.
Hari Kartini bukan sekadar mengenakan kebaya dan sanggul. Ia adalah ajakan untuk terus menghidupkan semangat perempuan-perempuan yang menolak diam yang berani mencintai dirinya yang tidak meminta maaf atas keberaniannya.
Akhirnya seperti kata Nyakim: “You are beautiful not despite your skin, but because of it.” Seperti kata Kartini: “Perempuan juga manusia.” Kalimat yang berbeda zaman tapi punya denyut yang sama: kemerdekaan untuk menjadi diri sendiri dan tidak takut menyuarakannya.
Subang, 21 April 2025
Hegar Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

