Ada satu nama yang kalau disebut di seminar kampus teknik bisa bikin dosen nyengir bangga tapi di ruang rapat kementerian malah bikin sunyi: Ricky Elson. Ia bukan pemain sinetron,bukan juga pengusaha yang nongol di iklan apartemen. Ia cuma anak bangsa yang terlalu pintar untuk dianggap biasa tapi terlalu idealis untuk dijadikan ikon subsidi.
Lahir di Padang tahun 1980, Ricky terbang ke Jepang,bukan buat jadi TKI, tapi TPE ( Tenaga Pemikir Ekselen) disana, ia mengutak-atik motor listrik sampai ilmunya nyetrum paten-paten. Sementara di sini kita masih ribut antara Avanza atau Xpander yang lebih irit buat mudik. Ia sempat jadi dewa motor listrik di negeri sakura, lalu dipanggil pulang oleh Dahlan Iskan menteri paling semangat kalau bicara soal mobil listrik, nadanya kayak anak Vespa bahas karburator.
Dahlan ingin Indonesia tidak cuma jago bikin akun Twitter tapi juga bisa bikin mobil maka pulanglah Ricky tapi bukan disambut pesta dan pelukan menteri, melainkan karpet merah yang kotor, kusut, dan dilapisi ranjau birokrasi. Ia bangun mobil listrik dengan nama-nama eksotik yakni Tucuxi, Selo, Gendhis seperti nama anak-anak artis yang doyan yoga tapi di baliknya ada mesin masa depan.
Namun, seperti nasib tokoh utama di sinetron azab, Ricky kena ujian. Bukan ujian nasional tapi ujian emisi. Untuk mobil listrik Ini seperti nyuruh kucing belajar menggonggong. Aneh? Pake banget tapi ini Indonesia kawan,dimana terkadang logika bisa diselipin di bawah meja.
Uji emisi itu gagal, bukan karena mobilnya jelek tapi karena sistem pengujiannya kadaluarsa pakai SOP zaman pakde masih muda. Akhirnya proyek mobil listrik dalam negeri dipetieskan. Mimpinya dilipat, disimpan dalam laci yang sama dengan cita-cita swasembada gula, garam, dan akal sehat.
Kemudian datanglah gelombang Tiongkok. Mobil-mobil listrik dari negeri tirai bambu masuk Indonesia dengan gaya: fitur wah, harga bersahabat. Pemerintah langsung jatuh cinta dikasih insentif, subsidi, dan peluk hangat. Seperti gebetan baru yang dikasih rumah duluan, padahal mantan yang dulu setia malah dikunci dari luar. Pabrik mereka berdiri di Subang. Sementara Ricky? Ia minggir ke Ciheras dusun kecil di Garut membangun pusat riset Lentera Bumi Nusantara. Bikin turbin angin, bukan karena ikut tren green energy, tapi karena negeri ini kebanyakan angin.
Semakin bikin kagumnya lagi Ricky nggak ngambek,nggak bikin vlog curhat,nggak juga main sinetron “Putra Petir Dikhianati Negara.” Ia tetap membangun, mengajar, menanam teknologi di tanah terpencil yang mana kadang sinyal internetnya cuma datang pas angin bertiup dari barat. Ia bukan tipe pencari spotlight,ia pencipta spotlight.
Beberapa orang bilang proyeknya sengaja dijegal oleh mafia bensin, mafia oli, mafia suku cadang tapi mungkin mafia paling ganas adalah mafia kebodohan yang menyusup ke rapat, ke tender, ke kepala. Mafia ini nggak perlu senjata, cukup pakai alasan “nggak sesuai regulasi.” Ricky dengan ketulusan yang kadang bikin gemes, tidak bisa melawan itu. Ia terlalu jujur untuk dunia yang suka pencitraan.
Dari Ciheras, ia tetap mengirim sinyal. Bukan lewat TikTok atau selebgram tapi lewat karya dan ketekunan. Ia adalah inspirasi hidup buat mahasiswa yang skripsinya ditolak tiga kali,buat guru honorer yang tetap mengajar meski gajinya kalah dari konten creator yang main PUBG. Buat siapa pun yang tahu bahwa jadi pahlawan di negeri sendiri itu kerja berat dan kadang nggak digaji.
Ricky Elson bukan sekadar teknokrat. Ia adalah reminder keras bahwa negeri ini punya potensi besar tapi jalurnya sering muter-muter. Potensi lokal sering disuruh isi formulir dulu, tanda tangan dulu, tunggu dulu, lalu dilupakan sementara investor asing dikasih karpet jalan tol.
Ricky tidak menyerah, ia membangun dunianya sendiri dan suatu hari nanti mungkin dunia akan datang ke Ciheras.
Dan ketika nanti anak-anak muda lebih kenal Wuling daripada Tucuxi, mungkin akan ada satu momen sunyi di mana kita menyadari: “Oh iya, dulu ada yang pernah coba bangun mobil listrik. Orang kita sendiri ” dan saat itu nama Ricky Elson akan kembali bersinar bukan sebagai korban dari sistem tapi sebagai pelopor yang berani mencoba.
Sebab seperti kata pepatah: Jika dunia tak memberi ruang untukmu, bangun panggung sendiri. Lalu undang dunia untuk menonton.
Subang, 20 April 2025
Nurizzah Wahidah
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

