Di sebuah pagi yang damai di Gedung Putih yang biasanya hanya diwarnai cuitan presiden dan suara motor tukang rumput tiba-tiba muncul badai dari dalam ini bukan badai salju, bukan badai tweet tapi badai ekonomi model baru. Trump ngamuk lalu menembakkan tarif impor ke 60 negara sekaligus.
Yes, Enam Puluh, Bung. Angka yang sama kayak jumlah peserta Miss Universe bedanya ini bukan kontes kecantikan ini kontes siapa yang bisa lebih cepat nyium pantat Uncle Sam sebelum kena tarif 2000 persen.
Sejak saat itu telepon di Gedung Putih berbunyi macam alarm Shopee tanggal kembar datang dari Vietnam sampai Venezuela semua pada telepon. Kata Trump mereka bukan sekadar telepon mereka merengek, meratap, dan menangis-nangis seperti peserta audisi Indonesian Idol yang salah nada tapi tetap nyengir berharap golden ticket dari Ari Lasso.
“Negara-negara ini menelepon, mencium pantat saya,” kata Trump yang dalam imajinasi atau kenyataan nggak pernah bisa dibedakan. “Mereka bilang, ‘Pak, saya akan lakukan apa saja tolong jangan kenakan tarif,saya akan cuci piring, saya akan pijit, asal jangan 2000 persen.’”
Vietnam langsung melipir ke meja perundingan membuka bajunya (secara diplomatis) dan bilang, “Kami hapus tarif untuk barang AS, asal anda potong tarif kami, Pak.” Drama ini begitu tulus sampai bisa dikasting jadi K-Drama berjudul Trade War in My Heart.
Meksiko? Langsung tobat nasional setelah dulu pernah disuruh bangun tembok kali ini mereka pilih damai. Yaelah, siapa juga yang mau disuruh ngaduk semen dua kali?
Cerita tak selesai di situ dari arah timur jauh bangkit kekuatan kuno, China. Negeri panda, nasi goreng, dan produk tiruan level dewa, mereka tidak menelepon,tidak menangis,tidak meratap apalagi nyium pantat yang mereka lakukan justru satu langkah ekstrem, mereka melarang film Hollywood.
Iya, Bung. Dilarang,Avengers? Nope. Fast & Furious? Bye. Barbie? Cukup bonekanya aja di Taobao.
Hollywood langsung panik Marvel bingung sutradara nangis aktor-aktris peluk Oscar kayak anak hilang. Tahun lalu aja film-film mereka ngumpulin 585 juta dolar dari China itu setara seratus miliar bungkus mi instan rasa rendang, Sekarang? Habis. Hampa, kosong seperti CV fresh graduate.
China belum selesai sampe situ mereka tambah bensin ke api dengan mengenakan tarif baru, 84 % untuk semua barang AS dimulai 10 April, jam 12.01 waktu Beijing, detiknya pun diatur ini bukan ekonomi, ini ritual mistik.
Belum kelar juga 12 perusahaan AS kebanyakan yang bergerak di bidang AI dimasukkan ke daftar hitam dianggap tidak bisa dipercaya. Perlakuannya? Kurang lebih kayak mantan yang ketahuan selingkuh, terus bilang “itu cuma teman kerja.”
AI pun akhirnya jadi korban mesin cerdas yang dulunya cuma bisa main catur sekarang jadi penyair patah hati. “China, kenapa kau buang aku?” gitu mungkin isi puisinya.
Dalam negeri sendiri rakyat Amerika mulai gerah demonstrasi muncul, Gerakan 50501 mulai ramai lengkap dengan poster-poster warna neon dan tagar #HandsOff. Mereka minta Trump minggat atau minimal berhenti nyisir rambut jagungnya tiap lima menit.
Tapi Trump? masih tenang,masih percaya bahwa dirinya adalah juru selamat dunia, meski dunia udah mulai siapin KTP alternatif ke Mars.
Kalau begini terus dunia nggak cuma bakal perang dagang,bisa-bisa Avengers beneran dibentuk bukan buat lawan Thanos tapi buat nego dagang sama China.
Nurizza Wahidah
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

