Dalam dunia politik, apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya. Kata-kata bisa jadi tirai, senyuman bisa menyimpan luka dan pertemuan bisa membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar jabat tangan. Dibalik pertemuan Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri setelah Pilpres 2024, ada getaran politik yang kuat. Getaran yang mungkin terasa paling dalam oleh seorang tokoh yang pernah memegang kendali di republik ini.iya, Joko Widodo.
Jokowi mungkin tak akan pernah mengatakan bahwa ia merasa ditinggalkan,ia mungkin tak akan mengaku kecewa tapi dalam politik, perasaan tidak harus diucapkan untuk bisa terbaca. Bahasa tubuh, pilihan kata, bahkan siapa yang bertemu dengan siapa lebih dulu ,semuanya bisa jadi narasi yang tak diucapkan, tapi dipahami oleh publik.
Pertemuan Prabowo dan Megawati pasca Pilpres 2024 bukan hanya berita,ia adalah simbol.Dua tokoh yang pernah bersama dalam Pilpres 2009 itu, kini duduk dalam satu ruang kembali. Satu sebagai Presiden terpilih, satu lagi sebagai tokoh sentral partai pemenang legislatif dan penjaga ideologi nasionalis-sekuler.
Menariknya, pertemuan itu datang lebih awal dibanding pertemuan Megawati dan Jokowi yang konon kabarnya belum juga terjadi hingga hari ini padahal, Jokowi adalah kader yang dibesarkan PDIP, politisi yang lahir dari rahim Megawati secara politik tapi setelah Pilpres, justru Prabowo yang disambut lebih dulu.
Mengapa ini penting? Karena di Indonesia, siapa yang bertemu lebih dulu bisa menunjukkan siapa yang lebih penting dalam narasi kekuasaan.
Sejak 2014, Jokowi adalah pusat dari segalanya ia bukan hanya Presiden, tapi juga simbol perubahan, tokoh sipil yang melampaui elite lama tapi kini, setelah dua periode, setelah memastikan anaknya Gibran naik ke panggung nasional sebagai Cawapres, posisi Jokowi tak sekuat dulu.
Prabowo kini adalah Presiden terpilih dan seperti kebanyakan pemimpin baru, Prabowo ingin menulis narasinya sendiri ia mulai membangun poros baru, membuka pintu ke semua arah termasuk ke Megawati dan disinilah mungkin Jokowi mulai merasa sendirian.
Sinyal keterpinggiran itu bisa terbaca dari beberapa hal diantaranya belum adanya pertemuan Jokowi dengan Megawati pasca pemilu, sementara Prabowo sudah lebih dulu datang.
Gibran tidak secara terbuka dibicarakan sebagai bagian dari poros kekuasaan baru oleh para elite PDIP maupun gerbong Prabowo dan beberapa tokoh dekat Jokowi, seperti Luhut Binsar Pandjaitan, Erick Thohir, atau Airlangga Hartarto, cenderung low profile pasca pemilu.
Apakah Jokowi masih berpengaruh? Tentu. Apakah ia masih menjadi poros utama? Itu pertanyaannya.
Dalam video yang beredar, Jokowi menanggapi pertemuan Prabowo dan Megawati dengan santai, ia bilang itu hal biasa, bagus untuk komunikasi politik, dan menunjukkan kedewasaan demokrasi, kalimat-kalimat yang ideal.
Kita tahu, Jokowi bukan politisi polos,ia sangat memahami permainan simbol, memahami citra, dan sadar bahwa rakyat menonton maka pernyataan seperti itu adalah sikap panggung, bukan cerminan isi hati.
Dalam politik, sikap tenang di depan kamera justru bisa menyembunyikan kegelisahan di belakang layar. Jokowi, yang membangun Prabowo menjadi “penerus”, kini menyaksikan sang penerus menata rumah sendiri tanpa terlalu banyak mengundangnya masuk.
Pada titik ini, Jokowi seperti seorang ayah yang melihat anak politiknya mulai tumbuh dewasa dan pelan-pelan menjauh dari bayangannya.
Megawati, seperti halnya Prabowo, bukan hanya tokoh partai,ia adalah simbol. Disaat Jokowi seolah ingin “menyerahkan obor” kepada Prabowo-Gibran, Megawati justru menegaskan bahwa dia belum selesai. PDIP memang kalah di Pilpres, tapi menang di legislatif dan dalam politik parlementer, itu adalah kekuatan riil.
Pertemuan dengan Prabowo bisa dibaca sebagai pernyataan : “Aku masih ada dan aku masih bisa menentukan arah.”
Semakin menarik, Prabowo pun menyambut sinyal itu sebab Prabowo tahu, ia membutuhkan jembatan dengan PDIP untuk menenangkan panggung politik. Stabilitas adalah mata uang tertinggi bagi Presiden baru dan Megawati punya kunci sebagian dari stabilitas itu.
Jika benar Jokowi merasa ditinggal, lalu ke mana ia akan melangkah?
Ia punya beberapa opsi:
Pertama,bertahan dalam bayang-bayang kekuasaan Prabowo, tapi dengan risiko kehilangan kendali.
Kedua,mendekati kembali PDIP, mencari rekonsiliasi dengan Megawati, meskipun butuh waktu dan kerendahan hati.
Ketiga,membangun kekuatan sendiri di luar dua kutub besar itu, entah lewat jalur partai baru, jalur masyarakat sipil, atau basis kekuatan ekonomi.
Yang jelas, ia tidak akan tinggal diam. Jokowi bukan tipe yang menyerah pada arus ia mungkin tampak pasif, tapi ia menyimpan agenda sendiri. Persis seperti saat ia memunculkan Gibran, ketika semua orang mengira ia akan mengikuti arus “tanpa pewaris”.
Hari ini, Prabowo dan Megawati mungkin tampak bersatu ,Jokowi mungkin tampak tersisih tapi ini baru awal dari babak baru. Politik Indonesia bukan lomba sprint, tapi maraton panjang. Siapa yang bertahan, siapa yang konsisten membangun jaringan, siapa yang mampu membaca arus bawah,itulah yang akan bertahan di ujung cerita.
Seperti dalam catur, posisi bisa berubah dalam satu langkah,raja bisa jatuh,ratu bisa kembali berkuasa dan pion kecil pun bisa naik jadi menteri, bahkan presiden.
Satu hal yang pasti , panggung Indonesia tidak pernah benar-benar sepi dari drama.
Dan Jokowi, Megawati serta Prabowo mereka semua masih menari di atasnya.
Malang, 9 April 2025
Lanang Mujahidin
Pegiat Rumah baca Kanjuruhan
Kepanjen

