Nitikan.id,Opini – Kita balik ke negara sendiri , Indonesia. Negeri dengan kekayaan alam melimpah, rakyatnya ramah, dan korupsinya tak kenal ampun. Sementara di Serbia, rakyatnya meledak hanya karena 15 orang tewas akibat atap stasiun runtuh, di sini triliunan uang rakyat digelapkan, kita santai saja. Usai tarawih, seruput kopi lagi, yok kita bongkar fenomena ini.
Tapi sebelum itu, mari kita intip sebentar negara Serbia. Negara ini terletak di Eropa Tenggara, berbatasan dengan Hungaria di utara, Rumania dan Bulgaria di timur, Makedonia Utara dan Albania di selatan, serta Montenegro, Kroasia, dan Bosnia-Herzegovina di barat. Ibu kotanya adalah Beograd, salah satu kota tertua di Eropa. Serbia memiliki luas sekitar 77.474 km² dan penduduk sekitar 7 juta jiwa. Pemerintahannya berbentuk republik parlementer, dengan Aleksandar Vučić sebagai presiden sejak 31 Mei 2017. Saat ini, rakyatnya sedang marah besar.
Kenapa?
Hari itu cerah. Matahari bersinar ramah di atas stasiun kereta di Novi Sad, kota terbesar kedua di Serbia. Burung-burung berkicau di atapnya yang baru direnovasi dengan anggaran fantastis. Tapi kemudian, Braak!
Atap stasiun runtuh. Bukan satu genteng, bukan dua. Seluruh atap. Beton-beton berjatuhan, menimpa belasan orang. Lima belas nyawa melayang. Tragedi ini, seperti biasa, langsung disambut dengan respons klise dari pemerintah, “Kita sedang menyelidiki.”
Rakyat Serbia akhirnya meledak. Mereka turun ke jalan, berteriak, menuntut reformasi. Perdana Menteri Milos Vucevic? Mundur. Menteri Konstruksi dan Transportasi? Kabur duluan. Polisi mulai membubarkan massa dengan gas air mata, tapi rakyat tak mundur. Mereka tahu, kalau hari ini mereka kalah, korupsi akan menang.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Hari itu cerah. Matahari bersinar ramah di atas gedung-gedung kementerian. Pejabat berdasi rapat-rapat, sibuk menghadiri rapat anggaran. Di balik pintu tertutup, angka-angka berputar. Miliaran, triliunan, angka nol di belakangnya bikin pusing kalau ditulis manual. Tapi bukan itu yang mereka pikirkan. Yang penting, jatah aman, proyek lancar, rekening bertambah.
Braak! Seorang menteri tertangkap KPK. Tangannya diborgol, wajahnya datar, seolah berkata, “Biasa, cuma apes aja.” Rakyat? Heboh sebentar, trending di Twitter, lalu lanjut bahas drakor terbaru. Tiga hari kemudian, semua lupa.
Padahal, jumlah uang yang dikorupsi bukan main-main. Tahun 2024, laporan KPK menyebutkan Indonesia kehilangan lebih dari 1.000 triliun akibat korupsi. Angka yang cukup buat bikin jalan tol dari Sabang sampai Merauke, sekalian kasih Wi-Fi gratis. Tapi mana jalan tol itu? Masih banyak yang bolong-bolong. Wi-Fi gratis? Jangan mimpi, paket data aja mahal.
Yang paling epik, pejabat yang tersangkut korupsi masih bisa tersenyum di pengadilan. Didampingi pengacara mahal, mereka bilang, “Saya dizalimi.” Hakim mengangguk, jaksa menghela napas, vonis turun: empat tahun penjara. Tiga tahun kemudian, remisi, bebas. Langsung disambut arisan keluarga.
Tapi di luar sana, rakyat masih struggle. Harga beras naik, tarif listrik naik, BBM naik. Tapi apa daya? Demo? Ah, malas. Nanti kena gas air mata, disuruh pulang. Lebih baik update status, bikin meme, atau bikin petisi online yang berakhir di arsip digital tanpa tindak lanjut.
Kenapa rakyat kita adem ayem? Apakah karena kita terlalu sabar? Atau sudah pasrah? Di Serbia, mereka turun ke jalan karena 15 orang tewas. Di sini, 1.000 triliun hilang entah ke mana, kita cuma geleng-geleng kepala.
Apakah ini tanda bahwa kita sudah terlalu kebal terhadap korupsi? Atau memang kita sudah berdamai dengan kenyataan bahwa keadilan hanyalah cerita dongeng yang diselipkan di buku PPKn?
Kalau korupsi adalah penyakit, maka kita tampaknya sudah dalam tahap stadium akhir. Bedanya, rakyat Serbia memilih jadi vaksin, sementara kita masih berpikir, “Yang penting hidup aman, kerja lancar, dan Wi-Fi tetap nyala.”
Maka, jangan heran kalau nanti survei menyatakan Indonesia jadi salah satu negara paling korup di dunia. Kita tak akan marah, kita akan bilang, “Wah, keren juga, bisa masuk peringkat global!”
Tapi mungkin, suatu hari, akan ada “Braak!” yang benar-benar membangunkan kita dari tidur panjang ini. Entah kapan. Sampai saat itu tiba, selamat menikmati kopi.
Malang,17 Maret 2025
Lanang Mujahidin
Pegiat Rumah Baca Kanjuruhan
Kepanjen

