Banyak yang bertanya tentang hal ini. Saya mulai dari faktor faktor yang menyebabkan mengapa reformasi 98 bisa terjadi.
Pertama, jatuhnya mata uang regional di kawasan Asia Tenggara, dimulai dari Bath di Thailand dan berimbas ke anjloknya nilai Rupiah terhadap Dollar. Akibatnya, harga barang kebutuhan pokok naik drastis, menyebabkan inflasi tinggi. Banyak perusahaan bangkrut, PHK massal, dan meningkatnya angka pengangguran.
Faktor kedua, seluruh elemen Bangsa sudah “neg” dengan Soeharto yang telah berkuasa 3 dekade lebih. Didalamnya ada KKN, Pelanggaran HAM, Dwi Fungsi ABRI, ketimpangan sosial, ketidakpuasan rakyat, pembungkaman media, normalisasi kehidupan kampus.
Ketiga mundurnya Menteri senior dari Kabinet Soeharto. Saya mencatat setidaknya ada 7 menteri yang mengundurkan diri di beberapa bulan menjelang lengsernya Soeharto. Ginandjar Kartasasmita – Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, dan Industri, Akbar Tanjung – Menteri Perumahan Rakyat, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Kepala Bappenas) , Boediono – Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Hendropriyono – Menteri Transmigrasi dan PPH, Giri Suseno Hadihardjono – Menteri Pertambangan dan Energi, Rahardi Ramelan – Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
Faktor keempat, TNI Pecah. Ada barisan Jenderal loyalis Soeharto, diantaranya Prabowo sebagai menantunya, Feisal Tanjung, Wiranto. Ada juga Jenderal Jenderal Pro Reformasi, yaitu SBY, Agum Gumelar, Subagya HS.
Kelima, ada tokoh Nasional non Partai yang masih diperhitungkan. Diantaranya Gus Dur, Cak Nun, Nurcholis Madjid, Amin Rais, dan Ngarso Dalem Sultan Hamengkubuwono.
Keenam, puncaknya adalah demonstrasi mahasiswa yang masif sejak 1 Mei 1998, disambung kerusuhan dan penjarahan di berbagai kota besar, sampai berakhir pengunduran Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
Saya kira, salah satu faktor saja tidak ada, kemungkinan kecil terjadi reformasi. Mungkin akan ada gelombang protes skala besar tapi jika 1 faktor saja tidak ada, Soeharto mungkin tidak akan jatuh.
—
Negara mana saja yang tumbang karena demonstrasi?.
Di Filipina tahun 1986 Presiden Ferdinand Marcos digulingkan setelah 20 tahun berkuasa akibat tekanan rakyat dalam Revolusi People Power. Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali tumbang setelah 23 tahun berkuasa pada 2011. Presiden Mesir Hosni Mubarak tumbang pada Tahun 2011. Presiden Muammar Gaddafi juga tumbang karena demonstrasi setelah 42 tahun berkuasa.
Paling baru, belum ada setahun pada 5 Agustus 2024, saat Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina lari terbirit terbirit ke India saat Istananya di jarah oleh Demonstran.
—
Jika kita lihat enam faktor yang menyebabkan reformasi Indonesia 1998 terjadi, menjadi sangat sulit diulang sesuai kompleksitas faktor yang saling mempengaruhi.
Tapi yang menarik adalah, hampir di semua Negara yang pemerintahanya tumbang karena demonstrasi, jumlah pendemo tidak lebih dari 500 ribu. Jumlah masa terbanyak yang turun ke jalan untuk menumbangkan Rezim adalah Indonesia.
Awal tahun 1999, tabloid Detik mengungkapkan, jumlah masa yang turun ke jalan dari Mahasiswa, kelas menengah, rakyat kecil, buruh, saat reformasi 1998 di Indonesia berjumlah 1.200.000. Tahun 1998 jumlah penduduk di Indonesia 203 Juta. Itu artinya, hanya 0.5%.
Kesimpulan sederhananya adalah bahwa jika hanya 1 % saja dari jumlah penduduk Indonesia punya kesadaran Politik yang tinggi, Indonesia bisa berubah.
Yogyakarta
15 Maret 2025
Teguh Santoso
Sekjen Gerbang

