• Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata
Sabtu, Juni 20, 2026
Nitikan.id
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata
  • Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata
No Result
View All Result
nitikan.id
No Result
View All Result
Home Entertainment

Gembel Rebel

Awod Cobreti by Awod Cobreti
04/12/2024
in Entertainment, Headline, Olahraga, Opini, Pendidikan, Politik
0 0
0
Gembel Rebel
0
SHARES
166
VIEWS
Bagi ke WhatsAppBagi ke Facebook

 

Kering sudah rasanya air mataku
Terlalu banyak sudah yang tertumpah
Menangis meratapi buruk nasibku
Nasib buruk seorang tunawisma

Langit sebagai atap rumahku
Dan bumi sebagai lantainya
Hidupku menyusuri jalan
Sisa orang yang aku makan

Langit sebagai atap rumahku
Dan bumi sebagai lantainya
Hidupku menyusuri jalan
Sisa orang yang aku makan

Jembatan menjadi tempat perlindungan
Dari terik matahari dan hujan
Begitulah nasib yang aku alami
Entah sampai kapan hidup begini

 

Nitikan.id – Lirik lagu di atas adalah milik Rhoma Irama berjudul “Gelandangan” yang rilis pada tahun 1972. Dalam lagu tersebut, menceritakan ratapan nasib seorang tunawisma (sebutan halus untuk gelandangan/gembel) yang penuh ketidakpastian. Ketidakpastian pangan dengan digambarkan dengan “sisa orang yang aku makan”, ketidakpastian papan yang digambarkan dengan “Langit sebagai atap rumahku, Dan bumi sebagai lantainya, Jembatan menjadi tempat perlindungan
Dari terik matahari dan hujan”. Dan ketidakpastian sandang yang digambarkan dengan pakaian compang-camping yang dipakai Rhoma dalam film “Berkelana” yang soundtracknya lagu tersebut.

Gelandangan secara etimologi dapat didefenisikan sebagai orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan tempat tinggal tetap. Dalam sejarah perkembangan masyarakat, mereka adalah orang-orang yang tersingkir dari lapangan produksi, dan terbuang dari kelasnya. Di eropa misalnya, ketika memasuki revolusi industri, gelandangan atau vagrants berawal dari pengusiran para petani dari ladang-ladangnya, kemudian memilih berbondong-bondong ke kota untuk mencari pekerjaan (urbanisasi).

Pada masa kolonial Belanda di Nusantara, terutama di era Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), narasi sejarah sering kali terfokus pada elit bangsawan atau perlawanan raja-raja lokal terhadap kolonialisme. Namun, di balik catatan itu, kaum marjinal seperti gelandangan ternyata memiliki kontribusi tersendiri dalam perjuangan melawan VOC. Gelandangan sering dianggap sebagai golongan kelas bawah tanpa peran berarti, tetapi fakta sejarah menunjukkan bahwa mereka sering kali menjadi penggerak revolusi sosial melalui pemberontakan dan gerakan bawah tanah.

Gelandangan pada masa VOC bukan hanya sekadar orang-orang tanpa tempat tinggal. Mereka sering kali terdiri atas mantan petani yang tanahnya dirampas, buruh kasar yang kehilangan pekerjaan akibat eksploitasi kolonial, atau bahkan orang-orang yang dipaksa meninggalkan desanya karena kebijakan tanam paksa. Kondisi hidup yang penuh tekanan membuat mereka menjadi kelompok yang radikal dan sulit dikontrol oleh pemerintah kolonial.

Di Indonesia, untuk pertama kalinya, sebuah laporan kolonial yang menjelaskan mengenai keberadaan para gelandangan, sudah terdokumentasi pada abad 18. Dalam laporan itu disebutkan, antara Semarang dan Jogjakarta terdapat sekitar 35 ribu orang pekerja kasar, yang disebut sebagai “batur”. Mereka ini, menurut laporan itu, tidak memakai baju, bercelana cawet, tidak punya tempat tinggal tetap, dan keluarga tetap.

Setiap hari, para batur ini bekerja serabutan, terutama menjadi pengangkut barang-barang di pasar-pasar. Dari pekerjaan itu, mereka hanya mendapat hasil yang kecil, sehingga sering kali dihabiskan ditempat perjudian. Mereka hidup secara liar, sering terlibat dalam kerusuhan, sehingga dipandang sebagai pengganggu oleh pemerintah kolonial. (Jurnal Siagian)

Menurut penelusuran sejarah, para batur (pekerja kasar) sudah hadir semenjak Perang Diponegoro berlangsung, dan menjadi unsur penting dalam perlawanan tersebut. Mereka menjadi penghubung antara kesatuan pasukan diponegoro di Wilayah Jawa Tengah.

Pada masa pelaksanaan tanam paksa, jumlah batur meningkat dengan pesat di Indonesia, sebab banyak petani yang terusir dari tanahnya, mengalami kegagalan panen, atau terjadi kekeringan panjang. Kelaparan menimpa rakyat dimana-mana, sehingga banyak di antara mereka meninggalkan desanya menuju ke kota, dengan harapan mendapatkan bahan makanan.

Menurut sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam Pengantar Sejarah Indonesia Baru, gerakan massa dari kalangan marjinal sering kali menjadi bibit revolusi sosial. Sartono menyebut bahwa “gerakan perlawanan rakyat sering kali dimulai dari lapisan bawah yang paling menderita akibat tekanan sosial dan ekonomi.” Dalam konteks VOC, gelandangan sering kali bergabung dengan kelompok pemberontak seperti para perampok, bajak laut, atau gerombolan yang menyerang pos-pos kolonial untuk bertahan hidup dan melawan penindasan”.

Sebagai kelompok yang hidup di luar tatanan masyarakat resmi, gelandangan memiliki keuntungan berupa mobilitas tinggi dan sulit dilacak. Mereka kerap menjalin jaringan dengan kelompok lain yang juga menentang VOC, seperti komunitas pelaut, buruh pelabuhan, dan bahkan beberapa kalangan bangsawan yang diam-diam mendukung perlawanan.

Sejarawan Bernard H.M. Vlekke dalam bukunya Nusantara: A History of Indonesia mencatat bahwa pemberontakan di berbagai daerah sering kali melibatkan “orang-orang tanpa identitas jelas” yang menggerakkan massa di akar rumput. Contohnya adalah perlawanan di wilayah pesisir Jawa yang melibatkan bajak laut dan kelompok gelandangan dalam menyerang kapal-kapal dagang VOC.

Salah satu tokoh yang menggambarkan kiprah kalangan marjinal adalah Surapati,
pemuda asal Bali yang diperbudak dan dibawa ke Batavia oleh Belanda. Sistem perbudakan yang dilihat dan dirasakan sendiri oleh Surapati memicu rasa amarah dalam dirinya. Hingga puncaknya ketika ia berselisih dengan majikannya ia pun melarikan diri. Lalu membentuk kelompok-kelompok kecil dari budak pelarian dan penduduk pribumi yang muak dengan pemerintahan kolonial.

Surapati kemudian menjadi seorang pemimpin pemberontakan yang karismatik. Ia dikenal karena strateginya yang cerdas dalam pertempuran melawan pasukan Belanda. Surapati digambarkan sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan kolonial. Ia bukan hanya seorang pemberontak, tetapi juga tokoh yang mewakili perlawanan sosial dan politik terhadap sistem kolonial yang menindas.

Selain Surapati, pemberontakan kecil di Banten dan Sumatera juga sering dipimpin oleh figur-figur tanpa latar belakang aristokrat tetapi berasal dari kalangan rakyat biasa yang termarjinalkan. Misalnya, pada masa pemberontakan Banten tahun 1750-an, banyak buruh dan gelandangan yang berperan aktif dalam gerakan rakyat menentang eksploitasi VOC.

Pada masa penjajahan Jepang, nasib gembel/gelandangan lebih miris.Onghokham dalam Gelandangan, Pandangan Ilmuwan Sosial menyinggung masalah gelandangan pada masa pendudukan Jepang di tanah air. Akibat kebijakan balatentara Jepang yang mencekik, membuat jumlah gelandangan semakin meningkat di berbagai kota. Fenomena ini lantas menjadi masalah baru bagi pemerintah pendudukan Jepang.

Gelandangan akhirnya menjadi target buruan. Pada masa itu perekonomian merosot drastis. Banyak gelandangan yang terjaring razia tentara Jepang, mereka yang tertangkap lantas dijadikan sebagai tenaga kerja paksa atau romusha. Banyak dari mereka yang tak kembali.

Onghokham menyoroti bahwa fenomena gelandangan pada masa Jepang meninggalkan dampak sosial yang panjang. Setelah kemerdekaan, gelandangan tetap menjadi masalah serius karena banyaknya orang yang kehilangan akar sosialnya selama perang dan pendudukan. Perubahan struktur sosial dan ekonomi yang terjadi selama pendudukan Jepang mempengaruhi dinamika masyarakat Indonesia selama dekade-dekade berikutnya.

Simbol Perlawanan Kaum Marjinal

Selain pada masa penjajahan sebelum kemerdekaan, peran gelandangan di masa revolusi kemerdekaan juga cukup signifikan. Hendaru Tri Hanggoro dalam Gelandangan Revolusioner’di laman Historia menyebutkan jika para gelandangan di Jogjakarta memiliki andil dalam mempertahankan republik dan dijadikan sebagai informan tentara maupun laskar rakyat melawan Belanda.

Mereka terbagi dalam empat kelompok yakni wong emis atau pengemis, wong kere pekerja serabutan luntang-lantung, wong kramatan atau pencopet atau pencuri yang tinggal di pemakaman, dan kere tuntang gelandangan pengangguran.

Ada satu jenis gelandangan lagi. Mereka yaitu penduduk pribumi yang berpendidikan yang tadinya memiliki sejumlah harta, hidup nyaman dan berkeluarga. Mereka mendadak miskin oleh sebab agresi Belanda. Semua yang mereka miliki habis, harta, rasa aman dan keluarga. Mereka merasa dimiskinkan dan akhirnya mereka hidup menggelandang sambil ikut bergerilya sebagai cara merebut kembali haknya.

Lewat bekal pendidikan, mereka menghimpun para gelandangan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Namanya Laskar Kere, Laskar Pengemis, Laskar Macan, dan Laskar Grayak. Kelompok gelandangan ini ikut membantu TNI melawan Belanda. Dengan teknik gerilya dalam kota yang mendadak serta menghentak. Strategi ini sangat merepotkan tentara Belanda.

Meskipun kontribusi gelandangan dalam perlawanan terhadap penjajah sangat signifikan, narasi sejarah yang dominan sering kali mengabaikan peran mereka. Hal ini disebabkan oleh bias historiografi kolonial yang lebih fokus pada tokoh elit dan cenderung meremehkan gerakan rakyat kecil.

Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Pramoedya Ananta Toer, “Sejarah adalah milik penguasa, tetapi perlawanan rakyat kecil adalah denyut nadi perubahan sejati.” Kutipan ini relevan untuk memahami bagaimana kaum marjinal seperti gelandangan sebenarnya memiliki andil besar dalam membentuk sejarah Indonesia, meskipun nama mereka jarang disebutkan secara eksplisit.

Kiprah gelandangan menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penjajahan tidak hanya milik kalangan elit, tetapi juga melibatkan lapisan masyarakat paling bawah. Mereka, yang sering dianggap tidak berdaya, justru menjadi motor penggerak perubahan sosial dan revolusi. Peringatan terhadap kontribusi mereka tidak hanya memberikan perspektif baru dalam melihat sejarah, tetapi juga menginspirasi kita untuk menghargai perjuangan rakyat kecil dalam melawan ketidakadilan. Revolusi.

☆☆☆☆☆

Tags: gelandangangembel rebelgembel revolusionelrevolusi gembel
Next Post
POLITIK KAMBING HITAM DI PILKADA SUBANG 2024

POLITIK KAMBING HITAM DI PILKADA SUBANG 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

  • Mahasiswa Subang Gelar Aksi “Indonesia Tercekik”, Desak Evaluasi Menyeluruh Kebijakan Pemerintah
  • Demokrasi Tidak Berhenti di Kotak Suara
  • Harga Sebuah Jabatan
  • Buya Said Aqil Resmikan Gedung MWC NU Binong, Ajak Warga NU Tetap Optimistis Hadapi Tantangan Global
  • Rumah Baca Tunas Aksara Bekali Pelajar Pantura Subang Literasi Digital Dan Jurnalistik
  • panen4d
  • joker123
  • slot777
  • slot scatter hitam
  • https://protuning.id/
  • https://ptnobelindonesia.com/
  • https://okegas.id/
  • https://dukcapil.selumakab.go.id/
  • https://store.scuto.co.id/wp-content/products/
  • https://selumakab.go.id/
  • https://dukcapil.selumakab.go.id/duta777/
  • https://krakatauniaga.co.id/run/
  • https://bossfood.co.id/wp-content/pound/
  • https://befood.id/run/?id=nanastoto
  • slot138
  • slot138
  • sultan69
  • joker123
  • slot mahjong
  • slot depo 10k
  • demo mahjong
  • slot bet 200
  • slot gacor
  • https://consumerstore.siccura.com/
  • https://blog.sparkresto.com/
  • https://jurnal.anfa.co.id/
  • sultan188
  • duniacash
  • https://dewa138.xyz/
  • sultan188 login
  • https://dhumanotmp.xoc.uam.mx/
  • https://programainfancia.xoc.uam.mx/
  • https://fe.unik-kediri.ac.id/
  • https://techno.ru.ac.th/en/contact/
  • sultan188
  • https://problemaseducacion.xoc.uam.mx/

Nitikan.id merupakan salah satu media siber yang berada dibawah naungan PT Poros Media. Nitikan.id ingin menyajikan konsep jurnalis yang memihak pada kepentingan publik, membawa pencerahan, membangun ruang kesadaran serta menumbuhkan semangat literasi dan perubahan.

Kategori

  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Headline
  • Hukum
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Profile
  • Ragam
  • Science
  • Seni Budaya
  • Tak Berkategori
  • Teknologi
  • Wisata
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Term Of Use

© 2024 Nitikan.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • Internasional
  • Nasional
  • Daerah
  • Ekonomi – Bisnis
  • Entertainment
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Profile
  • Teknologi
  • Science
  • Wisata

© 2024 Nitikan.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • slot demo terbaik
  • https://grupoceleron.com/
  • slot gacor malam ini
  • https://aldypay.com/credit-purchase/
  • https://www.sharpener.tech/blog/
  • http://www.dramsyar.com.my/dramsyarservices/
  • https://urbanbat.org/salto-al-vacio/
  • https://kemin.gov.kg/
  • https://vjcc.org.vn
  • ggsoft
  • spaceman
  • slot dana
  • sv388
  • https://www.starfilterind.com/filter-cartridge/
  • https://santillan.ec/contacto/
  • https://travelnevada.fr/blog/
  • http://www.agfarma.com/about/
  • situs138
  • ggsoft
  • slot88
  • https://rgc.com.br/contato/
  • duniacash
  • https://restaurantemoche.com/contact-me/
  • https://agri.ubru.ac.th/
  • https://pedrolopez.pt/
  • https://ezap.edu.vn/
  • slot gacor
  • sultan188
  • slot 10k
  • https://revoar.org/contato/
  • https://www.woodyantique.com/testimonial
  • beras11
  • slot 10k
  • https://paninibay.com/
  • slot depo 5k
  • slot qris
  • https://tagme.com.br/login/
  • slot depo 10k
  • situs slot online
  • ggsoft
  • https://atmaenterprise.com/
  • https://www.lepagefoodanddrinks.com/private-cheffing
  • https://weddingdive.com/idea/
  • https://de.goodstats.id/gehry-architecture/
  • https://www.facility.management.zarz.agh.edu.pl/kontakt/
  • slot 138
  • https://hub.egaleo.gr/prosklisi-kypee/
  • https://store.amerimed.net/
  • https://zlatnadvorana.com/galerija/
  • slot69
  • slot69
  • https://iesmontilivi.net/noticies/
  • https://trrhospitals.com/about-us/
  • https://astaracademy.edu.my/contact-us/
  • https://clinicaitabayana.com/herpeszoster/
  • https://khcn.tbd.edu.vn/danh-muc/linh-vuc-nghien-cuu/
  • https://ca.zonajakarta.com/privacy-policy/
  • https://digital.melintas.id/careers/
  • https://cityluxurycarsrental.com/brands/
  • https://technobox.mk/kalkulator/
  • https://beras11.vip/