Sebulan belakangan ini, saya menyimak kampanye, -terutama kampanye Kamala Haris di Pilpres Amerika Serikat. Sampai H-20, saya masih yakin, Haris akan memenangkan Pilpres dan mencetak sejarah sebagai Presiden wanita pertama, sejak Negara ini di kepalai oleh George Washington 1789.
Tapi H-3 jajak pendapat menempatkan Trump sebagai unggulan.
Sampai sore jam 15.00 WIB, 6 Nopember, saat saya menulis ini, pemungutan dan perhitungan suara memang belum selesai. Tapi beberapa Negara bagian kunci sudah memperlihatkan keunggulan Trump.
Ini Gila!.
Satu satunya tokoh Internasional yang gila. Dengan puluhan dakwaan kriminal yang belum selesai. Dengan puluhan skandal politik dan sex yang masih terus berlanjut prosesnya sampai jelang pengumuman calon Presiden Partai Republik.
Kenapa Rakyat Amerika Serikat masih begitu menyukai Donald J Trump?.
Berdasarkan yang saya pahami, ada beberapa hal yang patut dicermati.
Pertama,
Trump berasal dari Partai Republik. Sayap kanan USA. Haluannya Nasionalis dan konservatif. Trump memprioritaskan kebijakan ekonomi “America First,” yang bertujuan melindungi pekerjaan dan industri dalam negeri dari persaingan global. Ini mencakup kebijakan seperti renegosiasi perjanjian dagang, pemberlakuan tarif pada barang impor, dan upaya untuk menarik kembali pabrik-pabrik yang beroperasi di luar negeri.
Kebijakan ini sangat populer di kalangan pekerja industri dan mereka yang merasa kehilangan pekerjaan akibat globalisasi.
Slogan Trump –bahkan sejak dulu berhadapan dengan Hillary Clinton, masih sama: `Make America Great Again (MAGA)`. Slogan ini menjadi inti dari kampanyenya dan digunakan untuk membentuk berbagai kebijakan yang bertujuan mengembalikan apa yang ia anggap sebagai kejayaan Amerika di bidang ekonomi, politik, dan budaya.
Kedua, Trump, sebagaimana Republik yang Nasionalis itu, sangat menentang Imigran. Partai Republik umumnya menganggap imigrasi sebagai ancaman bagi keamanan nasional dan ekonomi. Trump memperketat kebijakan imigrasi dengan membatasi visa, membangun tembok perbatasan, dan meningkatkan penegakan hukum imigrasi. Hal ini mencerminkan pandangan Partai Republik bahwa kebijakan imigrasi ketat penting untuk menjaga kedaulatan dan keamanan.
Ketiga, Gaya Komunikasi Trump yang unik. Trump tidak menggunakan bahasa diplomatis atau basa-basi yang umum di dunia politik. Ia cenderung berbicara dengan cara yang sangat langsung, bahkan terkadang tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari kata-katanya. Ini membuatnya berbeda dari banyak politisi yang lebih berhati-hati dalam berbicara.
Gaya komunikasi Trump tidak santun. Cenderung liar dan brutal. Dan rakyat Amerika suka!. Daripada gaya para politisi yang bermulut manis dan penuh basa basi.
Keempat, masih ada aspek Stereotip Gender. Amerika Serikat yang konon mbahnya demokrasi dunia, masih ogah dipimpin Perempuan.
Terakhir, terkait Perang dunia III. Rakyat Amerika dan umumnya dunia percaya, Jika partai Republik berkuasa cenderung akan menghindari perang, demi keutuhan Amerika Serikat.
Meski waktu Trump menjabat Presiden, hubungan dengan beberapa Negara memburuk, tapi tak sampai angkat senjata yang menimbulkan konflik luas. Beberapa Negara besar seperti Rusia, Cina, India dan Korea dikabarkan lebih senang jika Trump yang terpilih daripada Demokrat dengan Kamala Harisnya.
Yogyakarta, 6 Nopember 2024
Teguh Santoso,Sekjen Gerbang

