Atas tulisan saya dalam beberapa hari ini yang keras terhadap Negara, saya mendapatkan wa : “Bagaimana jika kita tidak bergantung pada Negara?”
Saya jawab. Dalam banyak hal, rakyat Indonesia memang mandiri. Ada pemerintah atau tidak, rakyat tetap hidup.
Bukan kita bergantung pada Negara, tapi selama ini Negara justru bergantung pada Rakyat. Rakyat kena imbas dari keberadaan Negara.
Jika “Jangan Bergantung pada Negara” disampaikan di antara rakyat, itu bisa menjadi dorongan positif untuk mendorong kemandirian, kreativitas, dan inisiatif pribadi atau komunitas dalam menghadapi tantangan hidup.
Ini mendorong sikap proaktif dan tanggung jawab individu untuk tidak sepenuhnya mengandalkan bantuan atau intervensi dari pemerintah.
Namun, jika ini datang dari pemerintah, konteksnya menjadi berbeda. Pemerintah memiliki tanggung jawab fundamental untuk menyediakan pelayanan publik, melindungi hak warga negara, dan memastikan kesejahteraan masyarakat.
Ketika pemerintah menyatakan “jangan bergantung pada negara,” hal itu bisa dianggap sebagai upaya menghindari tanggung jawab atau mengesampingkan peran negara dalam memenuhi kewajibannya terhadap rakyat.
Hal ini berarti bahwa pemerintah lepas tangan dan tidak mampu memberikan pelayanan yang memadai.
Naif jika diucapkan oleh pemerintah, karena bertentangan dengan fungsi dan tanggung jawab mereka sebagai pengatur dan pelayan masyarakat. Pemimpin yang efektif seharusnya mempromosikan kemandirian warga sambil tetap memenuhi tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan publik
Selama ini rakyat terjebak dalam lingkaran tak berujung.
Mau kerja – Harus punya SKCK – Mau bikin SKCK, harus punya BPJS – Mau bikin BPJS harus punya uang – Mau punya uang harus kerja.
Pinjam uang di bank harus punya agunan – Mau punya agunan Harus punya uang – Mau punya uang Harus kerja – Mau kerja Harus punya modal – Mau pinjam modal di bank Harus punya agunan.
Mau sekolah harus bayar biaya pendidikan-Mau bayar biaya pendidikan harus punya uang- Mau punya uang harus kerja-Mau kerja harus punya ijazah-Mau punya ijazah harus sekolah
Mau usaha harus punya modal – Mau modal harus pinjam uang di bank – Mau pinjam di bank harus punya usaha yang berjalan –
Mau usaha berjalan harus punya modal
Terus muter begitu nggak ada berhentinya.
Dalam beberapa hari ini Presiden menyampaikan beberapa hal yang unik.
Saya ambil contoh 1 hal. Kata Jokowi : “Saat ini beras mahal karena adanya Import Beras”
Saya ngakak guling guling. Lah, selama ini yang impor beras siapa?. Yang buka kran impor beras siapa?. Jadi yang menjadikan beras mahal siapa?!.
Inilah hasil Revolusi Mental 5.1 Jokowi : Koplak.
Yogyakarta
30 September 2024
Teguh Santoso,Sekjen Gerbang ( Gerakan Anak Bangsa)

