Nitikan.id – Pemberitaan media mengenai konflik Palestina – Israel kembali marak di tengah meningkatnya ketegangan antara keduanya seiring serangan mendadak dari pejuang Hamas.
Perlawanan dari kelompok Hamas ke Israel dinarasikan berbagai media di dalam maupun luar negeri sangat bias.
Berbagai media mainstream dunia selama beberapa dekade banyak memberitakan konflik Palestina – Israel. Namun liputan media dalam hasil peliputannya mendapat sorotan karena biasnya.
Peristiwa serangan Hamas bulan lalu pun tak luput dari bias informasi dari media arus utama dunia. Artinya media mendistorsi fakta, memperkeruh keadaan dan memperumit solusi.
Lihat saja kasus terbaru ketika wawancara BBC dengan Dubes Palestina.
Narasumber dari Palestina menyoroti standar ganda dalam peliputan media Barat, termasuk BBC, mengenai konflik Israel-Palestina dalam sebuah wawancara yang sengit.
Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zomlot, menegaskan kepada presenter BBC News, Lewis Vaughan Jones, bahwa kecenderungan untuk fokus pada penderitaan Israel sementara mengabaikan kekerasan berkepanjangan terhadap rakyat Palestina menciptakan narasi yang tidak seimbang
“Apa yang orang Israel alami, yang kita katakan tragis, selama 48 jam terakhir, adalah apa yang orang Palestina alami setiap hari selama 50 tahun terakhir.” Tegas Zomlot (15/10/23).
Wisnu Prasetya Utomo mengatakan, dilansir dari NuOnline, bahwa bias pemberitaan kekerasan di Jalur Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, lalu serangan balasan Israel dirangkai dan ditekankan oleh media-media Barat sebagai “hak untuk membela diri (right to defend itself)”, meskipun kemudian terbukti Israel menyerang rumah sakit, ambulans, bahkan kamp pengungsian, dengan separuh korbannya anak-anak dari 10.000 lebih korban meninggal.
Contoh bias tersebut di antaranya adalah BBC yang menyebut korban warga sipil Israel “dibunuh (killed)”, sementara korban warga sipil Palestina “meninggal (died)”. Dibunuh dan meninggal tentu memiliki makna yang sama sekali berbeda
Apa yang sedang dilakukan oleh media-media tersebut adalah menghilangkan konteks penjajahan Israel atas Palestina yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Karena konteksnya dihilangkan, seolah-olah konflik kali ini baru muncul setelah serangan Hamas pada 7 Oktober. Konsekuensinya, narasi yang muncul kemudian adalah Israel “sah” untuk membalas dendam atau menyerang balik.
Proses isolasi atau pengabaian konteks ini tentu berbahaya karena konsekuensi logisnya adalah narasi pemberitaan yang muncul hanya memberikan simpati kepada agresor, dalam hal ini tentu saja Israel.
Mengapa bias semacam itu terus terjadi?
Pertama, banyak jurnalis media-media Barat yang tidak bisa berbahasa Arab sehingga akses mereka terbatas dan hanya mengandalkan narasumber resmi yang berfokus kepada pemerintah Israel.
Kedua, masih berkaitan dengan akses yang terbatas, banyak media membuat liputan dengan melakukan jurnalisme melekat (embedded journalism) yang mana konten berita harus disaring dahulu agar sesuai dengan narasi dan rilis yang diinginkan israel.
Ketiga, tendensi media-media Barat untuk segaris dengan politik luar negeri negara mereka
Melihat kondisi demikian, media-media di Indonesia harus berhati-hati dan skeptis jika ingin merujuk atau menyadur informasi dari pemberitaan media Barat. Jika tidak berhati-hati, apa yang disampaikan oleh Malcolm X
“Jika Anda tidak berhati-hati, surat kabar akan membuat Anda membenci orang-orang yang tertindas dan mencintai orang-orang yang melakukan penindasan.”
“Media adalah entitas paling kuat di muka bumi. Mereka mempunyai kekuasaan untuk membuat orang yang tidak bersalah menjadi bersalah dan membuat orang yang bersalah menjadi tidak bersalah, dan itulah kekuasaan. Karena mereka mengendalikan pikiran massa,” kata Malcolm X.
Foto source: Aljazeera
☆☆☆☆☆

