Nitikan.id – Pernahkah kamu membuat story di Instagram atau status postingan di WA atau Facebook tentang pekerjaanmu?
Atau pernahkah kamu sengaja bercerita betapa sibuknya dirimu di media sosial agar dianggap pekerja keras?
Atau apakah kamu terus bekerja hingga hampir tidak memiliki waktu untuk diri sendiri? Atau barangkali kamu pernah merasa takut tertinggal, cemas, atau merasa insecure melihat teman-temanmu karirnya menanjak menuju puncak sementara hidupmu terasa biasa-biasa aja?
Inilah fenomena budaya gila kerja yang kini menjadi tren, khususnya di kalangan anak muda. Apa sih penyebabnya?
Transformasi dunia digital yang begitu pesat menuntut pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat. Teknologi modern yang digadang-gadang mampu memudahkan manusia di sisi lain terkadang justru membuat pekerjaan kian bertambah, bahkan tak selalu membuat segalanya jadi lebih mudah.
Setiap individu berlomba mengejar kesuksesan, saling berpacu dalam lintasan yang tak jarang diwarnai luka dan pengorbanan.
Media pun turut mengambil peran, baik media sosial pribadi maupun media publik, dengan terus-menerus menayangkan kisah-kisah sukses tokoh-tokoh ternama seperti Bill Gates, Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Putri Tanjung, dan Nadiem Makarim.
Tak hanya itu, melalui media sosial kita juga dapat melihat aktivitas teman-teman kita, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau capaian teman-teman kita.
Sinergi kedua hal tersebut bersama-sama saling memengaruhi seseorang untuk terus merasa dirinya kurang produktif, untuk terus bekerja keras tanpa mempedulikan kesehatannya, hingga akhirnya terjebak dalam lingkaran budaya gila kerja yang disebut hustle culture. (djkn kemenkeu go id)
Hustle Culture = Workaholism
Secara etimologis, istilah hustle culture berasal dari kata Bahasa Inggris, hustle, yang berarti antara lain aksi energik, mendorong seseorang agar bisa bergerak lebih cepat secara agresif, dipadukan dengan kata culture yang berarti budaya.
Sedangkan definisi hustle culture menurut pakar psikologi adalah budaya yang membuat seseorang menganut workaholism atau gila kerja.
Istilah workaholism diperkenalkan pertama kali oleh Wayne Oates dalam bukunya yang berjudul Confessions of a Workaholic : the Facts About Work Addiction pada tahun 1971.
Kini tren hustle culture dimaknai sebagai suatu keadaan bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melampaui batas kemampuan hingga akhirnya menjadi gaya hidup. Dengan kata lain, tiada hari tanpa bekerja, hingga tak ada lagi waktu untuk kehidupan pribadi.
Budaya gila kerja inilah yang telah menjadi standar bagi sebagian orang untuk mengukur hal-hal seperti produktivitas dan kinerja.
Dalam dunia yang begitu kompetitif ini, produktivitas dijunjung tinggi dan budaya gila kerja cenderung diapresiasi. Konstruksi sosial masyarakat berpandangan bahwa tolok ukur kesuksesan hidup seseorang adalah jabatan dan kondisi finansial yang baik.
Keadaan ini diperparah dengan tren memamerkan kesibukan di media sosial yang menjangkiti para kawula muda.
Menurut sebuah studi, sebanyak 45 persen dari para pengguna sosial media gemar mengunggah post tentang betapa sibuknya mereka seperti saat mereka lembur, saat dikejar banyak deadline, target, dan semacamnya semata untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pekerja keras dan pegawai yang berdedikasi.
Pengaruh sosial media ini akhirnya mendorong para pengguna untuk berpikir bahwa bekerja terlalu keras adalah hal yang keren. Imbasnya, timbul efek bola salju karena para pengguna media sosial lainnya enggan merasa tertinggal sehingga mereka pun menunjukkan kesibukannya dengan harapan mendapatkan atensi dari lingkungan media sosial. Faktor inilah yang mendorong maraknya fenomena hustle culture.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali mengungkapkan, sebagaimana dilansir dari Kompas, saat ini terjadi fenomena hustle culture di kalangan anak muda.
Anak-anak muda ini hidup dengan cara yang serba cepat, instan, dan cenderung terburu-buru.
“Hustle Culture sedang melanda dunia ini, terutama kalau kita tinggal di negara yang penduduknya makin padat, kita harus mengejar macam-macam,” kata Rhenald
Jadi, hustle culture ini semakin berat karena kecenderungan manusia membanding-bandingkan diri dengan orang lain,” tambahnya.
Dia menjelaskan, belakangan ini konsep hidup pekerja keras bahkan diiringi oleh perasaan tidak aman (insecure) karena sikap membandingkan yang terlalu berat. Hal ini pun mendorong sikap kepura-puraan di dunia maya.
“Generasi sekarang, membandingkannya itu sudah terlalu berat. Sehingga, banyak kepura-puraan di dunia maya. Orang suka pamer foto misalnya. Saya menilai sepertinya itu bukan punya dia, atau dia cuma numpang foto doang,” jelas Rhenald.
“Banyak juga orang yang bikin profil picture-nya dengan pasangan, padahal sebenarnya hubungannya bermasalah. Hustle culture itu adalah jika membandingkan dirinya ke orang lain, dan dia merasa ketinggalan, lalu buru-buru untuk mengejarnya,” tambah dia.
Membangun reputasi
“Menjadi kaya atau sejahtera itu, bagaimana step-step dalam mengendalikan hidup kita. Jangan jangka pendek, dan maunya cepat-cepat saja. Karena, kalau menempuh build up reputation. Kalau kita punya itu, money will follows, wealth will follows, and happines will follows,” tegasnya.
Menurut Rhenald, reputasi merupakan upaya membangun kemampuan dan juga kepercayaan. Karena, pada dasarnya percuma memiliki banyak uang, tapi orang lain tidak percaya.
“Saya lihat beberapa orang muda yang kaya, tapi apa iya orang yang berjualan kosmetik bisa membeli private jet? Kalau saya di posisi itu, saya enggak mau beli, karena biaya perawatannya mahal, di samping itu juga akan pajaknya mahal, dan sudah pasti akan dilirik oleh petugas pajak,” ujarnya.
“Jadi yang saya maksud adalah membangun step by step skill pengetahuan dan nama baik, kalau itu sudah tumbuh, itu akan nempel sama kita, dan sulit hilang,” ujar Rhenald.
☆☆☆☆☆

