Pernahkah kamu memperhatikan benda kecil di ban motor atau mobil yang bentuknya mirip puting mini, sering belepotan oli, dan baru dicari saat ban mendadak kempis di tengah jalan?
Ya, mari kita beri tepuk tangan untuk benda paling tidak dihargai sedunia itu yakni pentil.
Harga pentil cuma dua ribuan di tukang tambal ban. Kadang malah lebih murah daripada harga kopi sachet yang diminum sambil menunggu bannya ditambal. Namun anehnya, benda sekecil itu justru menentukan apakah kendaraan bisa melaju gagah atau malah terkapar di pinggir jalan sambil menunggu belas kasih tukang pompa.
Setelah dipikir-pikir, hidup manusia ternyata mirip juga sama cara kerja pentil.
Kita hidup di zaman ketika ukuran kesuksesan sering ditentukan oleh seberapa banyak “angin” yang berhasil dipompa ke dalam hidup. Ada yang bangga karena rekeningnya tebal. Ada yang merasa dirinya spesial karena jabatannya menjulang. Ada pula yang percaya diri berlebihan hanya karena followers-nya banyak dan fotonya sering masuk FYP.
Begitu angin kehidupan mulai penuh, manusia mendadak berubah seperti ban baru isi nitrogen yang keras, mantap, dan merasa paling stabil di tikungan kehidupan.
Di fase inilah penyakit paling tua umat manusia mulai kambuh yakni merasa hebat.
Kalimatnya biasanya sederhana:
“Ini semua hasil kerja kerasku.”
Kalimat itu memang terdengar inspiratif di seminar motivasi. Tapi kadang lupa satu hal penting bahkan detak jantung saat kita tidur pun bukan kita yang mengoperasikan.
Lucunya, manusia sering merasa dirinya sopir utama kehidupan, padahal kadang cuma penumpang yang duduk dekat jendela.
Masalahnya, ban yang terlalu keras justru paling gampang meledak.
Ban yang over-inflated kehilangan kelenturan. Sedikit kena lubang langsung oleng. Sedikit kena kerikil langsung ngamuk. Sedikit kehilangan jabatan langsung merasa dunia kiamat.
Hari ini dipuji seperti nabi LinkedIn, besok dimutasi langsung merasa hidup tidak adil.
Hari ini saham naik, merasa diri Warren Buffett. Besok anjlok sedikit, status WhatsApp mendadak penuh quotes kesabaran.
Begitulah manusia.
Saat hidup sedang penuh angin, kita sering lupa mengecek tekanan batin.
Padahal ujian terbesar bukan selalu saat hidup sedang susah.
Banyak orang mengira cobaan paling berat adalah miskin, gagal, atau dompet kosong di tanggal tua sampai bunyi notifikasi pinjaman online terasa seperti suara azab.
Padahal, ujian kekurangan itu kadang masih “baik hati”. Sebab saat hidup sempit, manusia biasanya lebih gampang sadar diri.
Saat sakit, doa jadi khusyuk.
Saat gagal, sajadah mendadak tidak pernah dingin.
Saat dompet tipis, ayat tentang sabar terasa sangat menyentuh.
Kita jadi ingat Tuhan bukan karena alim, tapi karena cicilan.
Sebaliknya, ujian kelapangan sering datang dengan wajah ramah. Tidak menakutkan, tidak menyeramkan dan datangnya malah sambil tersenyum.
Karena itulah banyak orang selamat melewati masa susah, tapi hancur ketika hidup mulai mudah.
Begitu sukses datang, pentil batin mulai bocor halus.
Sedikit demi sedikit rasa syukur keluar diganti kesombongan.
Merasa kaya karena kerja keras sendiri.
Merasa sukses karena otak sendiri.
Lalu mulai memandang orang lain sebagai manusia gagal yang kurang usaha.
Di titik itu, manusia berubah menjadi Qarun modern yang rajin flexing, miskin empati, dan merasa Tuhan cuma membantu orang yang punya strategi bisnis bagus.
Padahal hidup ini sebenarnya cuma panggung sandiwara dengan kostum yang berbeda-beda.
Hari ini kamu bisa diberi peran jadi direktur lengkap dengan jas mahal dan kopi tanpa gula.
Besok bisa saja dapat peran jadi pengangguran yang pura-pura tersenyum saat ditanya, “Sekarang sibuk apa?”
Tidak perlu terlalu sombong saat bermahkota karena Itu cuma kostum pinjaman.
Tidak perlu terlalu hancur saat jadi rakyat biasa karena itu juga cuma adegan.
Karena setelah pertunjukan selesai, semua manusia pulang ke tempat yang sama yakni tanah.
Dan di dalam tanah nanti, cacing tidak peduli kamu dulu naik motor butut atau mobil seharga miliaran.
Cacing juga tidak pernah bertanya:
“Maaf sebelumnya, semasa hidup Bapak dulu velgnya ring berapa?”
Maka mungkin yang paling penting dalam hidup bukan seberapa besar kendaraan kita, melainkan seberapa sehat pentil batin kita.
Apakah ia mampu menjaga syukur agar tidak bocor?
Apakah ia mampu menahan ego agar tidak meledak?
Apakah ia masih cukup lentur untuk tetap membumi saat hidup sedang tinggi-tingginya?
Sebab pada akhirnya, manusia yang paling kuat bukan yang paling banyak anginnya.
Melainkan yang paling tahu cara menjaga tekanannya.
Nur Izzah Wahidiyah
Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara Pamanukan
