Ketika ART Jadi Direktur
Di negeri ini, tangga karier memang penuh misteri. Ada orang yang sekolah S1, lanjut S2, ikut seminar, pelatihan, sertifikasi, bahkan kursus kepemimpinan. Tapi setelah semua itu, jabatan yang didapat paling banter jadi staf senior dengan tanggung jawab banyak dan gaji pas-pasan.
Sementara di sudut cerita lain, ada karier yang melesat seperti roket Elon Musk. Tidak perlu CV panjang, tidak perlu LinkedIn yang rapi. Cukup satu hal: dipercaya.
Begitulah kira-kira kisah seorang asisten rumah tangga bernama Rul Bayatun. Dalam kehidupan sehari-hari, ia bekerja membantu urusan domestik. Tapi dalam dokumen perusahaan, statusnya jauh lebih glamor yakni Direktur PT Raja Nusantara Berjaya.
Coba bayangkan sebentar.
Pagi mungkin masih menyapu halaman atau mencuci piring. Siang hari bisa jadi masih mengantar minuman ke ruang tamu. Tapi di atas kertas negara, ia adalah pimpinan perusahaan. Orang nomor satu. Kalau ada rapat direksi, secara administratif namanya yang paling atas.
Kalau ini seminar motivasi, judulnya pasti sudah viral:
“Dari Dapur ke Direksi: Rahasia Sukses Tanpa Kuliah.”
Sayangnya, cerita ini bukan konten motivasi. Ini lebih mirip episode baru dari serial panjang berjudul “Kreativitas Koruptor Indonesia.”
Dalam dunia korupsi, fenomena seperti ini punya istilah teknis yang agak keren yakni nominee atau direktur boneka. Artinya seseorang dipasang sebagai direktur hanya untuk memenuhi syarat administrasi. Nama ada di dokumen, tapi kendali sebenarnya dipegang orang lain.
Mirip seperti sopir yang duduk di kursi pengemudi, tapi setirnya dipegang orang di kursi belakang.
Dalam cerita ini, sang direktur disebut sering diminta menarik uang dari rekening perusahaan. Setelah uang keluar dari bank, uang tersebut diserahkan sesuai arahan.
Kadang kepada bos. Kadang kepada orang kepercayaan. Kadang lewat tangan lain lagi.
Uangnya seperti sedang ikut tur keliling kota.
Dalam dunia pencucian uang, pola seperti ini disebut layering. Uang diputar lewat berbagai tangan agar jejaknya semakin samar.
Kalau dianalogikan sederhana, ini seperti menyembunyikan bau durian dengan tujuh lapis plastik. Secara teori harusnya tertutup. Tapi tetap saja satu ruangan bisa tahu ada durian di dalamnya.
Yang menarik, ketika operasi tangkap tangan dilakukan, situasinya tampak sangat bersih.
Tidak ada koper penuh uang.
Tidak ada tas berisi rupiah yang kalau dibuka langsung bikin kamera wartawan berkedip seperti lampu diskotek.
Pokoknya bersih.
Saking bersihnya, sebagian orang sampai berkata, “Lho, uangnya mana?”
Ini seperti datang ke pesta bakso tapi mangkuknya kosong. Yang ada cuma sendok dan sambal.
Namun penyidik tidak berhenti di situ. Mereka tidak hanya mencari uang di meja atau di laci. Mereka menelusuri tempat yang lebih sunyi tapi lebih jujur iya bener, rekening bank.
Dari situ cerita mulai terbuka.
Penyidik melihat kapan uang ditarik, berapa jumlahnya, dan siapa yang mengambilnya. Potongan-potongan data itu kemudian disusun seperti puzzle.
Dan seperti puzzle yang terlalu rapi, gambarnya akhirnya terlihat jelas.
Di titik itu publik biasanya hanya bisa tertawa kecil sambil geleng kepala.
Bukan karena lucu, tapi karena terlalu absurd.
Bayangkan saja. Di negeri ini, karier direktur ternyata bisa didapat tanpa rapat pemegang saham, tanpa pengalaman bisnis, bahkan tanpa tahu apa itu laporan keuangan.
Yang penting siap disuruh ke bank.
Kalau tren ini terus berkembang, mungkin beberapa tahun lagi kita akan melihat fenomena baru. Tukang parkir jadi komisaris. Penjaga warung jadi CEO. Kurir galon tiba-tiba tercatat sebagai pemilik perusahaan konstruksi.
LinkedIn Indonesia bakal kacau.
Bayangkan timeline-nya:
“Selamat kepada Pak Budi yang baru saja diangkat menjadi Direktur Utama PT Infrastruktur Nusantara. Kemarin masih jaga parkir di Indomaret.”
Namun di balik semua kelucuan itu, ada satu hal yang sebenarnya cukup serius.
Korupsi di negeri ini sudah berkembang seperti teknologi. Setiap kasus baru selalu membawa metode baru. Para pelaku belajar dari kasus sebelumnya, memperbaiki strategi, dan menambah lapisan-lapisan kamuflase.
Sementara di sisi lain, penyidik juga terus meningkatkan kemampuan.
Ini seperti pertandingan catur panjang. Satu langkah licik dibalas satu langkah penyidikan. Kadang yang menang yang licik, kadang yang menang yang sabar.
Dan di tengah permainan besar itu, kadang muncul tokoh-tokoh kecil yang tiba-tiba punya jabatan besar.
Seperti ART yang tiba-tiba jadi direktur.
Ironisnya, kreativitas luar biasa seperti ini jarang sekali muncul ketika negara membutuhkan inovasi untuk memperbaiki ekonomi rakyat.
Tapi ketika urusannya menyamarkan uang, imajinasi manusia bisa melompat jauh sekali.
Akhirnya kita kembali pada satu kesimpulan sederhana.
Di negeri ini, jabatan direktur ternyata tidak selalu berarti memimpin perusahaan.
Kadang ia hanya berarti satu hal yang jauh lebih sederhana yaitu
orang yang paling dipercaya untuk pergi ke bank.
Aditya Naufal
Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara Pamanukan

