Ada satu jenis obrolan yang kelihatannya santai, tapi diam-diam bikin kita tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena berat, melainkan karena terlalu dekat dengan hidup kita sendiri. Obrolan semacam ini biasanya tidak lahir di ruang seminar ber-AC, tapi di serambi, di tikar, di pengajian yang lebih mirip tongkrongan, tempat orang tertawa dulu sebelum akhirnya terdiam. Di sanalah Emha Ainun Nadjib akrab disapa Cak Nun sering melempar gagasan yang kelihatannya ringan tapi efeknya seperti dilempar batu kecil ke kolam batin: riaknya panjang.
Salah satunya adalah ketika ia membagi manusia ke dalam lima tipe dengan istilah yang sangat kita kenal dari fikih: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Begitu mendengar pembagian ini, kita biasanya refleks mengangguk, lalu tertawa kecil, lalu tiba-tiba merasa tidak enak karena jangan-jangan, kita sedang membicarakan diri sendiri.
Cak Nun tidak sedang bermain teori. Ia juga tidak sedang mengadili siapa pun. Ia hanya meminjam bahasa agama untuk membaca kenyataan sosial dengan cara yang lebih jujur. Dalam pembagian ini, manusia tidak diukur dari seberapa saleh tampangnya, seberapa keras suaranya atau seberapa panjang gelarnya, melainkan dari satu hal yang sederhana tapi krusial: apakah kehadirannya membawa manfaat, netral saja atau justru mudarat bagi lingkungan sekitarnya.
Manusia wajib, dalam kacamata ini, bukan manusia yang merasa dirinya penting. Justru sering kali ia tidak sempat merasa penting karena terlalu sibuk membereskan hal-hal yang orang lain enggan lakukan. Ia hadir bukan sebagai pahlawan melainkan sebagai penopang. Kalau ia tidak ada, orang-orang kelimpungan. Urusan jadi terbengkalai dan masalah tidak tertangani. Ia bisa guru di desa, perawat di puskesmas, atau siapa pun yang diam-diam menjadi titik tumpu. Menariknya, manusia wajib hampir selalu rendah hati karena kesibukan membuatnya tidak punya waktu untuk mengumumkan jasanya sendiri.
Dibawahnya ada manusia sunnah. Manusia jenis ini tidak mutlak harus ada namun kehadirannya membuat hidup terasa lebih manusiawi. Ia seperti senyum kecil di tengah rutinitas yang kaku. Lingkungan tetap berjalan tanpanya tapi jika ia hadir, suasana menjadi lebih hangat, lebih rapi, dan lebih ringan. Manusia sunnah tidak merasa berdosa kalau sesekali absen tapi ketika hadir, ia memberi nilai tambah. Cak Nun tampaknya menyukai tipe ini, karena ia bekerja bukan karena kewajiban melainkan karena kesadaran.
Lalu ada manusia mubah. Ini kategori yang paling ramai penghuninya dan paling rawan membuat kita tersinggung. Manusia mubah tidak jahat tapi juga tidak memberi manfaat yang terasa. Ada atau tidak ada, hidup orang lain relatif sama. Ia datang, menjalani rutinitas, lalu pulang tanpa meninggalkan pengaruh. Tidak merusak tapi juga tidak memperbaiki. Cak Nun tidak memaki tipe ini, tapi peringatannya cukup pedih: hidup yang terlalu lama netral bisa berubah menjadi hidup yang mubazir. Kita hidup tapi tidak benar-benar hadir.
Setingkat di bawahnya adalah manusia makruh. Kehadirannya tidak dilarang tapi sering membuat suasana tidak nyaman. Ia tidak menghancurkan sistem, tapi menggerogotinya pelan-pelan. Datangnya membawa keluhan, gosip, kecurigaan atau energi negatif yang membuat lingkungan cepat lelah. Biasanya ia merasa dirinya kritis dan peduli padahal yang terjadi sering kali hanya kebisingan tanpa solusi. Lingkungan tetap bertahan dengan kehadirannya tapi akan lebih sehat jika ia tidak ada. Ini tipe yang sering membuat orang menarik napas panjang tanpa sadar.
Kemudian yang terakhir adalah manusia haram. Ini bukan kategori main-main, manusia haram adalah mereka yang keberadaannya membawa kerusakan nyata dan berulang. Bukan salah sesekali tapi pola hidup yang merugikan orang lain. Penipu, provokator, koruptor, penindas yang tahu apa yang ia lakukan dan tetap melakukannya. Cak Nun keras pada manusia jenis ini, tapi tidak kehilangan kemanusiaan. Ia tidak menutup pintu perubahan tapi menegaskan bahwa selama seseorang menikmati kerusakan yang ia buat, keberadaannya memang patut dipertanyakan.
Namun yang paling mengganggu dari pembagian ini bukanlah kelima kategorinya, melainkan cermin yang ia sodorkan kepada kita. Masalah terbesar manusia, kata Cak Nun dalam berbagai kesempatan bukan berada di kategori mana, tapi merasa berada di kategori yang mana. Banyak manusia mubah merasa dirinya wajib. Banyak manusia makruh merasa dirinya pahlawan. Bahkan tidak sedikit manusia haram yang merasa sedang berjuang demi kebenaran.
Ukuran yang ditawarkan Cak Nun sebenarnya sederhana dan sangat membumi: apakah kehadiran kita meringankan atau memberatkan hidup orang lain? Apakah orang lain merasa terbantu, biasa saja atau justru terganggu dengan kehadiran kita? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab di mimbar, tidak perlu diumumkan di media sosial, dan tidak perlu dibela dengan argumen panjang. Cukup dijawab jujur di dalam hati, mungkin menjelang tidur, ketika semua topeng sudah ditanggalkan.
Tulisan ini tidak mengajak kita berburu label untuk orang lain. Justru sebaliknya, ia mengajak kita bercermin meski pantulannya tidak selalu enak dilihat. Karena dalam hidup, hampir semua orang pernah berada di fase mubah, bahkan makruh. Yang membedakan adalah apakah kita sadar dan mau bergerak atau nyaman tinggal di sana sambil merasa diri paling benar.
Mungkin, seperti kebanyakan gagasan Cak Nun, pertanyaan terpenting dari semua ini bukanlah “aku termasuk yang mana?”, melainkan “hari ini, aku sedang memilih menjadi siapa?”. Sebab pada akhirnya, manusia tidak ditentukan oleh satu label seumur hidup, tapi oleh kesediaannya untuk terus memperbaiki arah kehadirannya di tengah sesama.
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat rumah baca Tunas Aksara
Pamanukan

