Subang, Nitikan.id – Sebuah momentum bersejarah dan penuh makna hadir di tengah hamparan hijau perkebunan tebu Purwadadi. Dalam gelaran akbar “Hajat Petani Tebu” yang diselenggarakan oleh PT PG Rajawali II, Bupati Subang Reynaldy Putra Andita resmi dikukuhkan sebagai Bapak Petani Tebu Kabupaten Subang—sebuah gelar yang tak hanya simbolis, tetapi mencerminkan komitmen kuat terhadap kemajuan pertanian tebu di daerah ini.
Acara yang berlangsung meriah dan khidmat ini diawali dengan prosesi adat mapag rombongan Nyai Pohaci, diikuti jalan santai, penyerahan tebu indung dan pengantin, serta santunan bagi anak yatim. Acara ditutup dengan doa bersama sebagai wujud syukur atas tibanya musim panen.
Hamzah, perwakilan Paguyuban Petani Tebu Kabupaten Subang, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan dari berbagai pihak. “Terima kasih kepada PG Rajawali II yang telah memberi ruang kemitraan bagi kami, para petani tebu. Ini sangat berarti,” ujarnya penuh haru.
Direktur PG Rajawali II, Adrian Wijanarko, mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya menjembatani kebutuhan petani, termasuk akses terhadap pupuk bersubsidi yang selama ini menjadi tantangan. “Kami targetkan lahan kemitraan bisa berkembang hingga 8.000–9.000 hektare dalam waktu dekat,” katanya.
Dalam sambutannya usai menerima simbolis tebu indung, Kang Rey—sapaan akrab Bupati Subang—mengungkapkan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras para petani. “Setiap batang tebu adalah buah dari doa dan ketekunan para petani. Ini patut kita jaga bersama,” ucapnya penuh semangat.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah siap bersinergi dengan PG Rajawali II untuk mengoptimalkan potensi pabrik gula di Subang, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. “Tebu harus jadi komoditas unggulan, seperti padi dan teh. Ini bagian dari visi besar Subang sebagai lumbung pangan nasional,” tegasnya.
Tak hanya itu, Kang Rey juga berkomitmen memperkuat dukungan bagi petani lewat pembangunan infrastruktur pertanian, penyediaan akses permodalan, teknologi pertanian modern, serta pemberdayaan berkelanjutan. “Industri dan petani harus tumbuh bersama. Tidak boleh ada yang tertinggal,” katanya mantap.
Acara ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah, petani, sektor swasta, dan lembaga keuangan bukan hanya memungkinkan—tetapi menjadi kunci masa depan pertanian yang berdaulat dan berkelanjutan di Subang.
Turut hadir dalam acara tersebut para pemangku kepentingan daerah, jajaran PG Rajawali II, perwakilan perbankan, hingga unsur Forkopimcam dan kepala desa. Simbol dimulainya panen 2025 ditandai dengan penebangan tebu secara seremonial oleh Kang Rey.
Dengan semangat baru dan tekad yang menyala, Subang menatap masa depan pertanian tebu yang lebih cerah. Hajat Petani Tebu 2025 pun tak hanya menjadi perayaan panen—melainkan titik tolak kebangkitan komoditas tebu sebagai pilar ekonomi daerah.

