Oleh: Nur Izzah Wahidah
Pegiat Rumah Baca Tunas Aksara Pamanukan
Pagi itu, seperti biasa di hari libur, Abunawas jogging kecil di alun-alun kota. Larinya bukan untuk langsingkarena sudah telanjur berisi tapi demi menjaga kesehatan jantung dan menjaga jarak dari utang. Dengan sarung digulung setengah betis dan kaus oblong bertuliskan “Ngopi Dulu Baru Ngeluh”, ia menepi ke pojok alun-alun: tempat suci penjual serabi kesayangannya.
Di sana emak-emak berdaster dengan warna hampir pupus sedang sibuk membalik serabi di atas tungku tanah liat. Asap mengepul. Aroma kelapa parut bercampur gula aren menggoda iman. Seandainya bau itu bisa dikemas dalam bentuk parfum, sudah pasti mengalahkan aroma lavender dan vanilla kapitalis barat.
“Lagi rame, Mak?” sapa Abunawas sambil selonjoran di kursi plastik yang miringnya sudah mengalahkan posisi politikus pasca pemilu.
“Rame orang lewat doang. Mampirnya kagak mungkin karena serabinya gosong,” jawab emak, separuh bercanda, separuh pengen banting spatula.
“Gosong itu bukan gagal, Mak. Itu karamelisasi ekstrem,” kata Abunawas.
Mereka pun ngobrol ngalor-ngidul dari mulai harga sembako yang naik turun macam sinyal WiFi, biaya sekolah anak yang bisa bikin dompet stroke ringan, sampai proyek pemindahan ibu kota yang lebih banyak animasi daripada realisasi.
Lalu, seperti adegan sinetron saat tokoh utama lupa mie rebus di kompor, serabi gosong pun terjadi.
“Waduh, Pak, maaf ya, ini serabinya gosong,” kata si emak, panik.
Abunawas malah senyum kayak orang habis utang tapi lupa bayar.
“Justru ini, Mak. Ini serabi yang saya cari. Gosong di bawah, putih di atas. Persis mantan presiden kita,Pak Jokowi.”
Emak menahan tawa. “Kok bisa?”
Abunawas angkat serabi, lalu menunjuk bagian bawahnya.
“Nih liat, dari atas kelihatan putih bersih. Rapi, mulus, seperti hidup selebgram tapi begitu dibalik, jebret! Hitam legam, Mak. Kayak sejarah-sejarah yang nggak masuk kurikulum.”
Emak makin tertarik. “Contohnya apa, Pak?”
“Banyak, Mak. Pertama soal Esemka,dulu katanya mobil nasional. Waktu itu kita semua semangat: ‘Wah, kita bisa bikin mobil sendiri!’ Tapi kenyataannya? Mobilnya langka, kayak mantan yang tobat,ada sih… tapi kayaknya cuma di mitos.”
Abunawas lanjut, sambil nyeruput teh hangat.
“Kedua, Ibu Kota Baru. Katanya kota masa depan, nol emisi, hijau, ramah lingkungan tapi yang hijau malah rekening para pemborong yang nol malah jumlah toilet umum buat rakyat.”
“Wah, iya juga ya,” gumam emak, sambil ngipas asap serabi.
“Dan yang paling bikin hati ini panas, Mak, jalan tol dibangun di mana-mana tapi jalan kampung kita masih mirip medan pelatihan off-road. Malah di desa saya, lubangnya bukan lagi jalan rusak itu sudah jadi identitas budaya!”
Emak ngakak. “Tapi Pak Jokowi kan orangnya baik, sederhana… naik motor, makan di warung, nggak gaya-gayaan.”
“Nah, itu dia jebakan serabi, Mak. Saking putihnya atas, kita lupa tanya: bawahnya gimana? Apa kabar tanah rakyat yang tergusur? Apa kabar aktivis yang ditangkep karena nulis status? Apa kabar nasi padang yang sekarang lauknya makin mini?”
Emak mulai merenung. “Tapi rakyat adem, jaman dia nggak banyak ribut.”
“Adem sih, Mak. Tapi kayak lemari es yang beda pendapat langsung dibekuin. Demokrasi kita bukan adem karena damai, tapi dingin karena dibekukan. Coba tanya oposisi beneran udah kayak dinosaurus, punahnya nggak berasa.”
Abunawas lalu berdiri, menyantap sisa serabi gosongnya. “Mak, ini bukan cuma soal makanan. Ini pelajaran politik. Bahwa kita rakyat kecil, harus mulai belajar ngebalik serabi. Jangan cuma lihat putihnya, tapi tengok juga gosongnya.”
Emak tersenyum getir. “Tapi mau gimana lagi, Pak. Rakyat kecil kayak kita mah, hidup aja udah syukur.”
“Justru itu, Mak. Kalau kita terus syukur tapi nggak sadar, nanti syukurnya tinggal sisa. Kayak makan nasi basi tapi tetap bilang: ‘Yang penting kenyang.’ Padahal lidah udah protes dan perut udah demo.”
“Wah, dalem tuh, Pak.”
“Mak,” kata Abunawas sambil menepuk bahu emak serabi, “rakyat ini jangan cuma jadi adonan,kita harus jadi kompor juga. Kalau pemimpinnya ngawur, kita yang matiin kompornya. Jangan malah tambah arang.”
Lalu ia bungkus dua serabi gosong. Satu buat sarapan, satu lagi buat anaknya.
“Biar dia tahu,” kata Abunawas, “bahwa negeri ini nggak cuma punya rasa manis tapi juga kerak gosong yang harus dikunyah supaya nggak gampang ditipu tampilan.”
Pagi itu, Abunawas pulang dengan serabi gosong ditangan dan dikepalanya renungan tentang presiden yang viral di vlog tapi meninggalkan aftertaste politik seperti ampas kopi basi.
Karena sejarah, Mak, nggak ditulis dari siapa yang paling banyak senyum, tapi dari siapa yang paling keras bertahan meski cuma dengan spatula serabi di pojok alun-alun.

