Penulis: Nur Izzah Wahidah
(Pegiat RB Tunas Aksara Pamanukan)
Pagi itu, seperti biasa di bulan Agustus, aroma serabi gosong mengepul dari lapak Mak Ijah di pojokan alun-alun. Asapnya melambai ke langit, seolah hendak menggambar ulang garis-garis bendera yang sudah lama luntur dalam makna. Sedangkan di bangku semen yang warnanya tak lagi jelas antara kelabu dan kehijauan lumut, Abunawas duduk santai. Sarung dilipat setengah betis, kaus oblong bertuliskan “Ngopi, Ngopi, Biar Nggak Mati Rasa,” dan sandal jepit warisan zaman KKN sementara ditangan kirinya, secangkir kopi hitam dan di tangan kanan, serabi gosong yang entah disengaja atau memang tak sempat diangkat saat waktunya.
Ia bukan tokoh dongeng dari Baghdad, bukan juga nabi. Ia cuma mantan guru PPKn SMP yang semakin rajin ikut pengajian, terlalu malas ikut rapat sekolah dan terlalu peka untuk jadi politisi. Namun entah kenapa setiap bulan Agustus tiba, ia selalu resah. Bukan karena barisan marching band yang suka off-beat atau pidato camat yang diulang-ulang dari tahun ke tahun tapi karena satu pertanyaan sederhana yang makin sulit dijawab: apa sebenarnya makna merdeka?
“Serabi gosong lagi, Mas Abu? Nggak bosen?” celetuk Mak Ijah sambil membalik adonan di wajan tanah liat.
“Justru serabi gosong itu punya cita rasa, mak. Macam hidup,nggak semua yang gosong itu gagal terkadang malah di situlah letak nikmatnya,” jawab Abunawas.
Mak Ijah tertawa. “Kalau gitu, aku ini pahlawan rasa, dong. Setiap pagi membakar harapan rakyat dalam bentuk serabi.”
Ditengah asiknya perbincangan tiba-tiba datang sosok renta berjalan pelan. Sarung batik lusuh, kaus bertuliskan “Hidup Adalah Perjalanan,” dan membawa kantong keresek berisi pisang, dupa, dan sandal jepit cadangan. Abunawas langsung berdiri menyambut. “Mbah Siti Jenar! Tumben pagi-pagi ke sini.”
Mbah Siti duduk pelan, wajahnya tenang seperti embun yang belum menguap. “Halah, wong merdeka kok kudu nunggu tanggal 17.”
Mak Ijah menyambung, “Lho Mbah, ini bulan kemerdekaan, loh. Orang-orang pasang bendera, lomba balap karung, makan kerupuk…”
Mbah Siti tersenyum lembut. “Mak, Nak Abu… Merdeka itu bukan soal tanggal, bukan pula soal bendera tapi itu soal batin yang tak lagi diperbudak oleh rasa takut dan pamrih bahkan serabi gosong pun bisa jadi lambang merdeka.”
Abunawas mengernyit. “Serabi gosong lagi-lagi dijadikan filsafat tapi ini menarik, Mbah, coba jelaskan.”
Mbah Siti menyeruput kopi dari gelas plastik yang disajikan Mak Ijah. “Aku pernah jadi santri, Nak,di pesantren aku belajar kalau merdeka itu terbebas dari nafsu duniawi tapi waktu jadi pelaut, aku belajar kalau merdeka itu berani menantang badai sedangkan waktu jadi TKI di Arab Saudi, aku tahu merdeka itu berjuang meski diperlakukan seperti debu. Ketika aku jadi tukang parkir, merdeka itu sabar ketika dimaki saat jadi sopir bajaj, merdeka itu ngalah di tikungan sempit dan kala aku jadi makelar motor, merdeka itu bisa tidur meski dagangan belum laku.”
Mak Ijah menimpali, “Kalau menurutku, Mbah, merdeka itu pas pelanggan bilang serabiku gosong tapi tetap bayar dan balik lagi besoknya tapi yang bikin panas tuh ya Mbah,Mas Abu… pejabat-pejabat di televisi itu setiap tahun teriak merdeka tapi korupsi jalan terus,uang rakyat digarong, rakyat disuruh sabar. Apa itu namanya merdeka?”
Abunawas meletakkan kopinya. “Mak, itu pertanyaan yang selalu saya tanyakan juga. Ironisnya, kita sering diajari mencintai negara tapi tidak diajari bagaimana bersikap terhadap penguasa yang mengkhianati amanah.”
Mbah Siti mengangguk pelan. “Merdeka itu juga soal keberanian melawan ketidakadilan meski hanya dengan suara kalau pejabatnya korup dan rakyat diam karena takut itu bukan negara merdeka Itu negara yang merdeka secara kertas tapi terjajah dalam nurani.”
“Tapi Mbah,” lanjut Mak Ijah, “gimana bisa rakyat bersuara kalau hidup aja susah? Mau nyekolahin anak aja mikir dua kali. Mau protes, nanti dibilang makar.”
“Mak Ijah benar,” kata Abunawas. “Tapi justru dari warung, dari lapak, dari obrolan kecil macam ini, kesadaran harus tetap hidup. Kita harus bisa terus menjaga nurani. Menolak sogokan,jujur dalam menimbang. Itu kecil, tapi itu merdeka.”
Mbah Siti tersenyum. “Merdeka itu bukan hanya tentang siapa yang berkuasa tapi tentang bagaimana kita tidak tunduk pada kezaliman, bahkan jika hanya dengan menjual serabi dengan harga jujur, itu sudah perlawanan. Sudah bentuk cinta paling konkret pada negeri ini.”
Mak Ijah menyodorkan serabi baru. “Nih, yang ini nggak gosong tapi nggak ada jaminan lebih nikmat dari yang tadi, loh.”
Mbah Siti kemudian berdiri, membetulkan sandalnya dan berkata, “Jangan bangga jadi bangsa merdeka kalau hatimu masih dijajah ego.”
Abunawas menatap serius. “Terus, kita harus mulai dari mana, Mbah?”
Mbah Siti menatap langit. “Mulailah dari makan serabi gosong dengan ikhlas kemudian maafkan dirimu sendiri, lalu maafkan negeri ini. Baru kau bisa betul-betul mencintainya.”
Mereka bertiga terdiam,hanya terdengar suara angin dan tawa anak-anak kecil yang lomba memasukkan pensil ke dalam botol tapi dalam diam itu, sesuatu telah tumbuh: semacam tekad baru untuk mencintai negeri ini bukan lewat bendera dan lomba, tapi lewat kejujuran, keberanian, dan kesadaran.
Kita terlalu sering merayakan kemerdekaan diluar namun lupa merdeka didalam. Lupa bahwa orang seperti Mbah Siti Jenar yang pernah belajar di pesantren,jadi pelaut, TKI, kuli, sopir, dan makelar lebih paham makna merdeka ketimbang kita yang sibuk selfie di depan bendera.
Serabi gosong bukan aib tapi simbol. Ia tak sempurna tapi nyata seperti kita warga negeri ini yang penuh luka, penuh cela tapi masih terus berharap,masih terus bertahan, dan belajar mencintai negeri ini dengan cara yang paling sederhana yakni dengan ketulusan.
Karena mungkin, seperti kata Mbah Siti, “Merdeka adalah saat kau mampu memaafkan dirimu sendiri,baru setelah itu kau bisa memaafkan negeri ini, lalu mencintainya.”
Merdeka, kawan…Kalau hati sudah siap.

