Bekasi, Nitikan.id – Sepasang suami istri asal Kampung Pulo Timaha, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, mengaku kecewa dan menyesal telah memilih Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 lalu. Penyesalan itu muncul setelah rumah mereka yang berdiri di bantaran sungai dinyatakan akan dibongkar oleh pemerintah karena berada di atas tanah negara.
“Kalau rasa menyesal, saya menyesal banget sudah milih dia, Pak KDM (Dedi Mulyadi),” kata Dahromi saat ditemui di kediamannya, Senin (7/7/2025), seperti dikutip dari Kompas.
Dahromi menyampaikan kekecewaannya karena merasa tidak didengar sebagai warga negara kecil yang ingin menyampaikan keluh kesah terkait rencana penggusuran tersebut. Ia berharap Gubernur Dedi Mulyadi memberikan perhatian dan kompensasi bagi warga terdampak yang kini kebingungan mencari tempat tinggal baru.
“Saya merasa enggak dihargai sebagai manusia, sebagai warga Indonesia. Saya sebagai rakyat kecil, seharusnya didengar bagaimana usahanya, bagaimana keadaannya,” ujarnya.
Suaminya, Narulloh, juga menyampaikan kekecewaan serupa. Ia mengaku kecewa terhadap Bupati Bekasi terpilih, Ade Kuswara Kunang, yang sebelumnya ia idolakan karena dikenal dekat dengan masyarakat kecil.
“Kecewa banget. Awalnya saya suka banget sama Pak Bupati. Kalau lagi pemilu doang saya diperhatiin, sekarang saya seolah-olah bukan warga Indonesia,” ucap Narulloh.
Ia bahkan menunjukkan stiker bergambar Ade Kuswara dan wakilnya, Asep Surya Atmaja, yang masih tertempel di kaca jendela rumahnya. Menurutnya, stiker itu merupakan bukti bahwa ia dulunya sangat mendukung pasangan kepala daerah tersebut.
“Rumah saya ditempelin stiker (Ade-Asep). Sekarang begini, enggak ada yang nyamperin. Boro-boro diajak mediasi, saya dilepas begitu saja,” imbuhnya.
Diketahui, Pemerintah Kabupaten Bekasi berencana menertibkan sekitar 400 bangunan liar yang berdiri di sempadan jalan dan bantaran Sungai Kampung Pulo Timaha pada Rabu (9/7/2025). Sebelum eksekusi, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bekasi telah mengirimkan tiga kali surat peringatan kepada para pemilik bangunan.
Surat peringatan terakhir dilayangkan pada Senin (7/7/2025), dan proses tersebut sempat diwarnai protes dari sejumlah warga yang merasa tidak mendapat solusi atau tempat relokasi dari pemerintah.
Sumber Berita: Kompas
Bangunan Liarnya Mau Dibongkar, Pasutri di Bekasi Menyesal Pilih Dedi Mulyadii

