Dulu, kata premium itu sederhana. Kalau mahal, ya premium. Kalau murah, ya rakyat jelata. Premium identik dengan sofa empuk di ruang tunggu bandara, kopi dengan nama ribet, dan barang yang kalau jatuh bikin jantung ikut jatuh. Intinya, premium adalah urusan dompet. Siapa punya uang, dia naik kelas. Siapa tidak, ya silakan antre.
Tapi memasuki tahun 2026, makna premium mulai agak geser. Bukan karena harga barang turun, itu mah mimpi siang bolong melainkan karena orang-orang mulai capek mengukur kualitas hidup cuma dari angka. Dompet tebal ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kepala dingin, sikap santun, atau perilaku yang tidak bikin orang lain pengen pindah planet.
Secara ekonomi, tentu saja istilah premium masih dipakai. Negara masih butuh kategori: mana barang mewah, mana kebutuhan pokok. Kebijakan seperti penyesuaian PPN tahun 2025 tetap memisahkan antara tas seharga motor dan beras lima kilo. Itu wajar. Sistem perlu garis tegas. Tapi yang menarik, di luar tabel pajak dan kuitansi belanja, masyarakat mulai memakai kata premium dengan cara yang berbeda.Sekarang, premium mulai pindah dari etalase toko ke etalase perilaku.
Orang mulai menyebut sesuatu premium bukan karena mahal, tapi karena berkelas. Dan berkelas di sini bukan soal jas atau jam tangan, melainkan soal cara hidup. Cara bicara. Cara bersikap ketika sedang tidak diawasi. Cara tetap waras di tengah dunia yang makin hobi marah-marah di kolom komentar.
Nah dititik ini, kita masuk ke wilayah budaya. Disinilah premium tidak lagi diukur dari merek, tapi dari modal budaya. Orang-orang premium versi baru adalah mereka yang menghargai proses, bukan cuma hasil. Mereka bisa menikmati musik tanpa harus pamer playlist, bisa mengapresiasi seni tanpa merasa perlu terlihat paling paham, dan bisa hidup sederhana tanpa merasa harga dirinya ikut diskon.
Mereka ini tipe orang yang kalau datang ke acara, tidak sibuk cari siapa yang paling penting. Kalau ngobrol, tidak sibuk menyela. Kalau berbeda pendapat, tidak langsung merasa diserang secara pribadi. Dalam dunia yang serba reaktif, mereka memilih responsif dan Itu sudah premium sekali.
Lebih jauh lagi, makna premium mulai naik kelas ke ranah karakter. Ini bagian paling menarik sekaligus paling jarang dibahas, karena tidak bisa dipamerkan. Premium jenis ini tidak bisa difoto, tidak bisa diunggah, dan tidak bisa dijadikan caption sok bijak.Masyarakat premium dalam pengertian ini adalah mereka yang menjadikan integritas sebagai barang mewah terakhir yang masih mereka jaga.
Orang-orang yang kalau janji, berusaha ditepati. Kalau salah, berani mengaku. Kalau punya kuasa, tidak merasa wajib menyalahgunakannya. Di zaman ketika akal-akalan dianggap kecerdikan, mereka memilih tetap lurus meski jalannya sepi.
Ini tipe premium yang tidak bisa dibeli dengan cicilan nol persen.
Konsistensi antara ucapan dan tindakan menjadi indikator utama. Mereka tidak rajin bicara soal moral sambil sibuk mencari celah. Tidak berkhotbah tentang etika sambil berharap tidak ketahuan, mereka sadar bahwa martabat bukan sesuatu yang bisa ditawar-menawar, apalagi diperdagangkan.
Dalam kehidupan profesional, masyarakat premium tipe ini terlihat dari hal-hal yang tampak sepele tapi langka: datang tepat waktu tanpa banyak alasan, bekerja sesuai tanggung jawab tanpa perlu diawasi terus-menerus, dan tidak menjadikan kelicikan sebagai strategi hidup. Mereka tahu bahwa reputasi dibangun lama, tapi bisa runtuh hanya karena satu keputusan malas berpikir.
Menariknya, orang-orang seperti ini sering kali tidak merasa dirinya premium. Mereka tidak sibuk mengklaim, tidak merasa perlu diakui. Justru di situlah letak keistimewaannya. Mereka menjalani standar tinggi bukan demi terlihat unggul, tapi karena memang itu standar yang menurut mereka masuk akal sebagai manusia dewasa.
Dalam masyarakat seperti ini, kemewahan tertinggi bukan lagi barang, tapi ketenangan batin. Bisa tidur tanpa dihantui rasa bersalah, bisa berbicara tanpa perlu menutup-nutupi. Bisa hidup tanpa harus terus menjaga citra palsu. Di dunia yang penuh kepura-puraan, kejujuran adalah barang langka dan karena langka itulah, ia jadi premium.
Pada akhirnya, istilah premium telah mengalami evolusi diam-diam tapi signifikan. Dari label harga menjadi label kualitas manusia, dari simbol status menjadi ukuran etika. Dari soal apa yang dimiliki menjadi soal bagaimana seseorang menjalani hidupnya.Masyarakat premium bukan lagi target pasar bagi merek mahal, melainkan tolok ukur peradaban.
Mereka adalah warga yang menjaga nilai, merawat akal sehat, dan menolak menurunkan standar hanya demi keuntungan sesaat. Mereka membuktikan bahwa yang paling mahal di dunia ini bukan emas, bukan properti, bukan kendaraan. Melainkan integritas yang tetap utuh ketika tidak ada yang menonton.Mungkin, di tengah dunia yang makin bising, itulah arti premium yang paling layak dipertahankan.
Hgr Dinandaru Shobron
Pegiat RB Tunas Aksara
Pamanukan

