SUBANG – Pernah mendengar ungkapan “Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuan itu baik maka akan baiklah negara dan apabila perempuan itu rusak, maka akan rusak pula negara.”
Ungkapan tersebut cocok disematkan kepada sosok Enung (46) warga Dusun Kedung Gede RT 27/11 Desa Mulyasari Kecamatan Pamanukan.
Selain dalam kesehariannya menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga, Enung juga memiliki profesi lain sebagai pelaku UMKM penjual opak.
Opak merupakan makanan khas Sunda yang kering, renyah, dan hampir mirip dengan jenis kerupuk. Opak berbeda dengan kerupuk yang berbahan dasar dari tepung tapioka, sedangkan opak terbuat dari tepung beras, tepung ketan atau terbuat dari umbi-umbian.
Enung mengaku bahwa dirinya menggeluti usaha opak singkong campur jengkol, sejak tahun 2010 hingga saat ini.
“Kalau disini disebutnya Kolpeu atau jengkol sampeu,” katanya.
Enung mengatakan, bahan baku pembuatan opak singkong campur jengkol, bisa menghabiskan 20 kg singkong dan 1 kg jengkol dalam satu hari saja.
“Usaha membuat opak ini dari tahun 2010. Sehari biasanya bisa habis 20 kg singkong dan jengkol 1 kg. Singkongnya suka beli langsung dari kebun orang lain,” ungkap Enung.
Bahan baku opak yang sudah diproduksi, biasanya akan dipasarkan langusng ke pasar, pelanggan, atau dijual dengan cara keliling. Satu ikat opak singkong jengkol dijual dengan harga Rp35.000.
Ibu dua anak itu semangatnya tak pernah padam dan kerja keras untuk membiyayai kehidupan keluarganya.
“Alhamdulillah kalau buat sehari-hari saya dan suami cukup. Untuk anak-anak sekolah juga dulu cukup bisa kebiayain,” imbuhnya.
Sosok ibu Enung sebagai contoh bahwa pemberdayaan perempuan dapat memberikan sumbangsih dalam peningkatan pendapatan suatu bangsa, sehingga memengaruhi kemajuan negara.
Selain berperan dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia, kaum perempuan menjadi pahlawan ekonomi bagi keluarga.
Peran dan keterlibatan perempuan dalam fungsi ekonomi keluarga akan berdampak pada kesejahteraan dan pemenuhan kesehatan keluarga.
Dalam kehidupan bermasyarakat, sosok perempuan yang mandiri secara ekonomi dapat menjadi pahlawan ekonomi keluarga melalui usaha yang digelutinya, apalagi dalam masa-masa sulit ini. Jika perempuan bisa berdaya, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi negara yang semakin maju. Perempuan berdaya, Indonesia maju.

